
Malam harinya,...
Beberapa orang terlihat sangat sibuk keluar masuk dari kamar pengantin. karena atas permintaan dari Mikaila, wanita itu ingin dirias dan dipoles di kamar itu saja. Karena sejujurnya, wanita itu merasa sangat lelah. ingin rasanya Mikaila langsung tertidur pulas saat itu juga. namun apalah daya. karena pesta resepsi mereka, sudah ada di depan mata. membuat Mikaila mau tidak mau, harus mengikuti aturan yang ada. agar semua terlihat natural dan tidak terkesan main-main.
Sementara Arthur, laki-laki itu memutuskan untuk bersiap-siap di kamar sebelah. karena entah mengapa, dirinya merasa sangat gugup saat ini. apalagi saat melihat kecantikan dari seorang Mikaila yang seakan sejak awal tertutup oleh kelakuan absurd dari wanita itu.
"bagaimana, apakah kamu sudah siap?" tanya Bahrun yang masuk bersama dengan ayah dari sang istri.
"Ayah ini bicara apa? Ya jelas aku sudah siap. lagi pula, malam ini kan hanya resepsi pernikahan saja."ucap Arthur tersenyum simpul.
"bukan itu yang Ayah maksud."sergah laki-laki paruh baya itu dengan cepat.
"lalu apa?"tanya Arthur dengan raut wajah tidak mengerti.
"tentang malam per--"belum sempat Bahrun mengatakan atau melanjutkan perkataannya, Arthur sudah langsung berdiri dan keluar dari kamar itu.
Entah mengapa kedua pipinya seketika berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. saat Ayahnya, membahas tentang hal itu.
Hah, malam pertama? mana mungkin itu dilakukan oleh pasangan Arthur dan juga Mikaila. karena mereka berdua, hanya sebatas pernikahan pura-pura. walaupun, dalam hal ini semua prosesnya dijalani dengan sungguhan, namun hati keduanya tetap menganggap semua ini hanyalah permainan.
Pandangan mata Arthur seketika teralihkan. saat laki-laki itu mendengar suara pintu kamar yang dibuka dari dalam. dan tak berselang lama, gadis yang menjadi topik pembicaraan sejak tadi, muncul dari balik pintu. tentu saja hal itu membuat pandangan laki-laki itu, terpaku. dan sepertinya, mata Arthur enggan untuk teralihkan ke objek lainnya.
"segeralah ke sana. jangan dipandangi terus-menerus. jangan sampai, duluan dengan laki-laki yang lain."ucap salah seorang laki-laki Seraya menepuk bahu Arthur. membuatnya dengan segera melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menggandeng tangan wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu.
Mereka berdua segera turun ke arah lantai bawah menggunakan tangga dengan diiringi sahabat masing-masing.
__ADS_1
"wah mereka sangat cocok."
"iya mereka cocok sekali seperti raja dan ratu sungguhan."
"loh memangnya kalian tidak tahu, mereka kan memang raja dan ratu sungguhan. orang terkaya di negara ini."
"iya Kau benar. mereka memang benar-benar pasangan yang perfect."
Beberapa bisik-bisik itu, mendarat dan menyapu gendang telinga Mikaila dan juga Arthur. membuat mereka berdua, spontan saling lirik satu sama lain. dan setelah itu, kembali membuang pandangan ke arah yang berlawanan.
Acara resepsi pun seketika berjalan dengan lancar. para tamu undangan, nampak sangat menikmati pemandangan yang tersaji di hadapan mereka saat ini. hingga tibalah, sesi foto bersama dan juga salam-salaman. tentu saja hal itu membuat Mikaila, sesekali akan mengangkat kakinya. karena jujur saja, wanita itu merasa kakinya sangat pegal hingga seperti ingin patah.
Arthur yang menyadari akan hal itu, seketika menarik tangan istrinya untuk duduk di pelaminan.
"sudah kamu duduk saja di sini. biar aku yang menyalami mereka."ucap Arthur sedikit berbisik. hingga membuat pemandangan itu, nampak seperti pasangan yang tengah berciuman.
Membuat Arthur yang mendengar itu, seketika menatapnya dengan tatapan tajam. namun hal itu berhasil membuat semua orang seketika tertawa terbahak-bahak. hanya beberapa orang yang tidak tertawa akan lelucon itu. dan salah satunya, adalah Claudia dan juga keluarga Citra.
"hai."sapa seseorang yang saat ini telah naik di atas pelaminan. membuat atensi Arthur kembali teralihkan kepada orang itu.
"Adit, kamu datang?"tanya Mikaila yang langsung berdiri dan menghampiri laki-laki itu.
"iyalah Mana mungkin aku tidak datang. bisa-bisa aku dilempar oleh tante Ruri nantinya jika aku tidak datang."ucapnya terkekeh pelan Seraya melirik ke arah wanita paruh baya yang ia gosipkan itu.
"dasar anak durhaka!"ucap Mikaila Seraya memukul pundak dari Adit. dan pemandangan itu, tidak lepas dari penglihatan seorang Arthur. dan tanpa terasa, kedua tangan laki-laki itu seketika mengepal saat menyaksikan pemandangan yang sedikit merusak mata itu.
__ADS_1
Beruntungnya, pesta itu telah berakhir. dan semua orang, telah kembali ke kamar masing-masing. Ya. Arthur memberikan pelayanan khusus pada tamu-tamu tersebut.
Mereka semua boleh menginap di hotel mewahnya itu. sebagai bentuk souvenir pernikahannya. tentu saja, hal itu membuat semua orang merasa sangat senang. karena, kapan lagi mereka dapat menikmati pelayanan dari hotel bintang 5 seperti itu.
***
Sesampainya di kamar pengantin, pasangan pengantin baru itu langsung membersihkan diri tanpa berbicara sepatah kata pun. karena sejak tadi, Mikaila sudah mencoba untuk berbicara pada laki-laki itu. namun Arthur dengan segera mengabaikan ucapan dari wanita itu. karena dirinya, masih merasa kesal dengan tingkah laku istrinya itu.
"Om ini kenapa sih? kalau aku ada salah itu bilang. bukan malah mendiamkan aku seperti ini."ucap Mikaila dengan kesal.
Membuat Arthur yang mendengar itu, seketika berdecak sebal dan memutar bola mata malas. "ck, seharusnya aku yang marah. untuk apa kau bersenda gurau dengan laki-laki lain di hadapan suamimu?"tanya Arthur dengan menatap tajam ke arah Mikaila.
Mulut mikayla seketika menganga lebar. tidak percaya jika laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, seperti seseorang yang tengah cemburu.
"apakah Om cemburu?"tanya Mikaila Seraya menatap wajah dari sang suami.
"cemburu? Mana mungkin aku melakukan hal itu. kita tidak memiliki perasaan apa-apa."tandas Arthur Seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"aku hanya tidak ingin, kau mengabaikanku dan menanggapi laki-laki lain di hadapanku."sambungnya lalu berbaring di atas tempat tidur.
Sementara Mikaila, wanita itu masih terdiam mematung di tempatnya. mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Arthur itu.
"Halah terserah deh mau bicara apa. lebih baik, aku juga istirahat."ucap wanita itu berbaring di samping Arthur dan dengan posisi memunggungi laki-laki itu.
Sementara Arthur yang memang belum tertidur, semakin merasa kesal karena diabaikan oleh wanita itu.
__ADS_1
"dasar menyebalkan!"ucapnya Seraya menoleh ke arah Mikaila yang telah terlelap itu. dan pada akhirnya, laki-laki itu pun juga ikut terlelap terbang ke alam mimpi.