
Beberapa bulan kemudian....
Kini, kehamilan dari Mikaila sudah semakin membesar saat ini sudah masuk trimester ketiga. Hal itu membuat Arthur terkadang merasa frustasi dan juga merasa bahagia dalam waktu bersamaan.
Bagaimana tidak, malam hari Jika semua orang sedang beristirahat dengan nyenyak, Mikaila justru mengajak suaminya itu untuk membeli pecel lele. jika itu dilakukan pukul 09.00 malam, mungkin masih oke. tapi ini, dilakukan jam 01.00 dini hari.
Tentunya Hal itu membuat Arthur sedikit merasa keberatan. Namun demikian, laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa. karena protes pun, semua akan sia-sia. dan pada akhirnya, laki-laki itu pun menuruti keinginan aneh dari sang istri.
Walaupun penuh dengan perjuangan, pada akhirnya laki-laki itu pun berhasil mendapatkan apa yang diinginkan oleh Mikaila. sontak saja hal itu membuat Arthur, merasa begitu lega.
"Mas aku mau makan chicken nugget dong."teriak Mikaila dari dalam kamar. membuat lamunan dari Arthur, seketika buyar.
"Mau makan di mana?"tanya laki-laki itu Seraya berjalan menghampiri sang istri tercinta dengan mengusap punggungnya.
"di tempat biasa saja."jawabnya singkat seraya tersenyum simpul. melihat senyuman dari wanita yang paling ia sayangi itu, seketika membuat kekesalan Arthur menghilang.
'sabar sabar, Mungkin ini hanya akan berlangsung saat dia hamil saja. lagi pula kehamilannya ini kan yang pertama. Jadi, aku harus menuruti dan memberikan yang terbaik untuk istri dan juga calon bayiku.
Mereka pada akhirnya memutuskan untuk segera menuju ke tempat tujuan. sepanjang perjalanan, wanita itu henti-hentinya ceria. membuat Arthur yang melihat itu, seketika terkekeh pelan.
Tak berselang lama, mobil yang dikendarai oleh Arthur telah sampai di sebuah tempat makan yang biasanya mereka berdua kunjungi.
"Mbak menunya seperti biasa, Ya?!" teriak Mikaila dengan antusiasnya. Hal itu membuat orang-orang yang melihatnya seketika sejenak memperhatikannya.
Membuat Mikaila yang menyadari akan hal itu, seketika meringis karena merasa malu dengan tingkahnya sendiri.
"Maaf Mas, aku buat malu." cicitnya Seraya menundukkan kepala. Seraya sesekali, akan menggigit bibir bagian dalamnya.
Untuk mengurangi rasa malu, pada akhirnya, Arthur dengan sigap, laki-laki itu segera menggenggam tangan sang istri untuk mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"it's okay. aku nggak pernah malu."bisiknya dengan lembut.
"kita bungkus aja ya," pintanya dengan raut wajah memelas dan juga kedua matanya yang memerah .
Entah mengapa, raut wajah dari mikayla begitu cepat berubah. wanita yang tengah mengandung 7 bulan itu, sudah merasa malu dan juga tersinggung hanya karena masalah sepele. padahal biasanya, wanita itu termasuk bermuka tembok. alias tidak akan pernah malu tentang hal apapun.
Melihat hal itu, Arthur seperti melihat sosok wanita lain di diri sang istri. karena laki-laki itu mengenang bagaimana garangnya Mikaila saat pertama kali bertemu dengannya dulu. begitu berani dan juga tidak mengenal takut akan hal apapun. tapi sekarang, wanita itu bahkan sudah hampir menangis hanya karena ditatap oleh sebagian besar pengunjung di tempat makan itu.
Melihat perubahan raut wajah dari wanita yang sangat ia cintai itu, pada akhirnya membuat Arthur tidak tega. dengan segera laki-laki itu memutuskan untuk membungkus makanannya saja.
"Ya udah kalau begitu kita pulang aja kita bungkus makanannya."setelah mengatakan hal itu, Arthur segera memerintahkan pelayan restoran itu untuk membungkuskan makanan.
Dan Hal itu membuat Mikaila secara diam-diam, tersenyum bahagia."Makasih Mas udah ngertiin aku."ucapnya penuh dengan ketulusan.
"sama-sama sayang. udah kita segera masuk ke dalam mobil aja."ujarnya penuh dengan kelembutan. dan hal itu langsung disambut anggukan kepala oleh Mikaila tanpa bantahan apapun.
***
"Mas, siapa yang datang?"tanya wanita itu Seraya merapatkan tubuhnya ke tubuh Sang suami.
"aku juga nggak tahu. tapi sebaiknya, kita masuk saja untuk memastikannya."balas laki-laki itu Seraya menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
"eh, kalian udah datang?" tanya seseorang yang tengah duduk di ruang tamu rumah itu.
"kalian datang sejak kapan?"tanya Arthur dengan ekspresi wajah datarnya.
Membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika menyenggol lengan dari laki-laki itu. "apaan sih kamu, Mas? nggak sopan banget sama tamu " Omelnya dengan raut wajah yang menyeramkan.
Membuat Debby yang mendengar, seketika tersenyum miring."rasain emang enak." ujarnya seraya menjulurkan lidahnya. dan hal itu, membuat Arthur merasa begitu kesal.
__ADS_1
"dasar menyebalkan!" gumamnya Seraya menatap tajam ke arah wanita yang bergelar sebagai sepupunya itu.
****
Sementara Mikaila, segera dibawa oleh Debby menuju ke taman belakang rumah itu. dan alangkah terkejutnya wanita itu, saat mendapati bahwa ada Sahabat beserta sepupunya yang tengah berkumpul di sana.
"kalian datang ke sini, sejak kapan?" tanya wanita hamil itu, dengan alis terangkat.
"udah sejak tiga puluh menit yang lalu." jawab Aditya santai.
Mikaila yang mendengar itu seketika melotot." kenapa nggak hubungi aku?"tanya wanita itu, dengan tatapan galaknya.
"ngak papa, kita juga ngak buru-buru kok," ujar Hana Seraya tersenyum tipis.
"gimana kalau kita jalan-jalan aja." usul Sarah tiba-tiba.
"kemana memangnya?" tanya mereka kompak dan hampir bersamaan.
"ke mall aja gimana? sekalian beli perlengkapan bayi. kan sebentar lagi, bayinya Mikaila akan lahir." usul Aditya dengan bersemangat. dan pada akhirnya, Mereka pun bersepakat untuk menuju mall terbesar di kota itu.
Dan entah mengapa, untuk kali ini Mikaila sangat tidak suka jika diikuti oleh anak buah dari Arthur ataupun anak buah dari keluarganya. Karena Wanita itu beralasan, ingin menjalankan Me Time bersama dengan teman-temannya tanpa harus diganggu oleh siapapun.
Sempat terjadi drama di antara mereka berdua. yang berakhir dengan Mikaila yang mengambek dan tidak ingin keluar kamar. tentunya Hal itu membuat Arthur seketika gelagapan.
Dan akhirnya, Wanita itu saat ini tengah berjalan-jalan bersama dengan sahabat-sahabatnya. mengitari mall terbesar itu. dan Arthur tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Wanita itu mengancam, akan langsung pulang ke rumah kedua orang tuanya dan tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. jika sampai, Arthur melakukan hal itu.
"sudahlah Arthur kan ada aku."ucap Debby Seraya menepuk laki-laki itu untuk mencoba menenangkan kegundahan hati seorang Arthur.
"kau yakin akan baik-baik saja?"tanya Arthur dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"aku yakin seratus persen."jawabnya dengan keyakinan penuh.
Arthur yang mendengar itu seketika menghembuskan nafasnya pasrah. pada akhirnya, dengan berat hati laki-laki itu mempersilahkan mereka semua untuk pergi tanpa pengawalannya.