
Berapa hari kemudian....
Saat ini, Mikaila tengah berada di sebuah tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. karena wanita yang tengah mengandung itu, tidak mengizinkan siapapun untuk mengakses dan juga menemukannya. termasuk juga, pada kedua orang tuanya.
Bahkan mungkin sampai saat ini, kedua orang tuanya itu masih mencemaskan Mikaila. karena sampai saat ini pun, wanita itu masih belum memberitahu tentang kondisinya pada dua manusia paruh baya itu.
Bukannya ingin berlaku tidak sopan dan menjadi anak durhaka, hanya saja Mikaila ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu. hatinya masih terasa sangat sakit saat mengingat bagaimana suaminya dipeluk oleh wanita lain tepat di hadapannya.
"maafkan aku Mah, Pah, tidak bermaksud untuk berbuat yang tidak baik pada kalian. hanya saja, aku masih terlalu takut untuk bertemu dengan Mas Arthur."gumamnya lirih. dan tak terasa pula, wanita itu seketika menitikan air mata.
"Nona, apakah anda ingin makan?"tanya seorang wanita paruh baya yang menjadi teman sekaligus orang yang membantu Mikaila selama berada di tempat itu.
"buatkan aku susu coklat saja."sahutnya dengan tersenyum tipis. wanita paruh baya itu, hanya menganggukkan kepala. dan segera berlalu pergi dari sana.
drrrttt drrttt
Tiba-tiba saja ponsel miliknya itu berdering kembali. dan kali ini, menampilkan nama sang Mama. tentu saja hal itu membuat wanita itu, dengan cepat mematikan ponselnya.
"maafkan aku!"ucapnya lagi dan langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Atensinya seketika teralihkan. saat suara pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. tak lama berselang, datang wanita paruh baya itu dengan membawa segelas susu hangat.
"silakan dimakan nyonya!"ucap wanita paruh baya itu cara yang membungkuk hormat.
__ADS_1
"terima kasih Bu." balasnya dengan tersenyum tipis.
Wanita itu segera menikmati susu hangat itu dengan sesekali akan memandang keluar dari balik jendelanya. suasananya begitu mendukung. karena saat ini, tengah terjadi hujan yang sangat lebat di pagi hari.
"besok aku akan mencoba untuk membuat makanan ringan siapa tahu saja laku."ucap Mikaila Seraya menatap lurus ke depan.
"tapi kan Nyonya, nyonya kan, sedang hamil" tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah khawatirnya.
Mikaila yang mendengar itu, seketika tersenyum simpul."tidak apa-apa. lagi pula, saya membutuhkan uang untuk menggaji anda."jawab wanita itu masih dengan senyumannya.
Wanita paruh baya Itu tampak menghela nafas pasrah."sebenarnya, jika anda tidak membayar saya pun, saya tidak ada masalah. karena saya merasa senang. saya merasa, seperti mengurus putri saya sendiri." ucapnya dengan nada suara sendu.
Sontak saja, Mikaila merasa sedikit bersalah. karena sudah mengingatkan wanita itu dengan kesedihan yang berusaha di lupakan.
Sementara Mikaila sendiri, kembali termenung di atas tempat tidur. jika kalian pikir, Mikaila sudah melupakan laki-laki itu Karena rasa sakitnya, kalian salah besar. karena pada kenyataannya, wanita itu masih sangat mencintai sosok laki-laki yang menjadi suaminya sampai saat ini.
Hanya saja, ego wanita itu terlalu tinggi. dan juga wanita itu masih merasa sangat kesal akibat pemandangan terakhir kali yang terlihat dari kedua matanya.
"Mas Arthur nyebelin!" teriak wanita itu seraya sesekali akan memukul bantal dan juga kasur secara membabi-buta.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat Arthur yang baru saja menyiapkan keperluannya untuk berangkat ke kantor. sebenarnya laki-laki itu merasa sangat malas untuk ke tempat kerja. Karena hati dan juga pikirannya, masih saja terfokus pada sang istri yang entah di mana keberadaannya.
__ADS_1
Namun, laki-laki itu terpaksa harus tetap bekerja karena ada meeting penting yang menyangkut keberlangsungan hidup keluarga besarnya. apalagi bagaimanapun juga laki-laki itu memiliki tanggungan. yang tak lain adalah anak yang dikandung oleh Mikaila.
Akhirnya mau tidak mau, laki-laki itu tetap menjalankan aktivitasnya.
Setelah selesai menyantap sarapan paginya, laki-laki itu segera turun untuk menuju ke pekarangan rumah yang sudah ada mobil terparkir di sana.
Namun laki-laki itu mengurungkan langkah kakinya. saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Arthur,"panggil orang itu yang tak lain adalah Naima.
"kenapa kau datang ke sini? dan dari mana kau tahu di sini alamat rumahku?"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang sangat dingin.
Sementara Naima sendiri, hanya tersenyum simpul. kemudian dengan perlahan, mulai melangkahkan kakinya dan memeluk tubuh laki-laki itu dengan begitu eratnya.
" aku benar-benar sangat merindukanmu!"ucap wanita itu Seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Arthur.
"lepaskan aku! apa yang kau lakukan?!"tanya laki-laki itu Seraya mendorong tubuh milik Naima agar menjauh darinya.
"aku masih sangat mencintaimu! bisakah kita kembali seperti dulu?"tanya wanita itu dengan tatapan mata penuh permohonan.
"setelah kau meninggalkanku tanpa pesan apapun? kau ingin kembali ke dalam pelukanku? heh jangan pernah bermimpi terlalu tinggi! karena semuanya, sudah berbeda!"setelahnya, laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya cukup kencang meninggalkan perumahan itu.
"semuanya masih sama Arthur! dan dapat aku pastikan, kau akan kembali lagi padaku! Apapun Yang terjadi!"setelah mengatakan hal itu, Naima juga memutuskan untuk pergi dari sana dengan hati yang tampak kesal akibat penolakan itu.
__ADS_1