Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Babb 100


__ADS_3

sementara itu di dalam sebuah ruang kamar, terlihat seorang wanita bersama dengan seorang laki-laki dengan saling memeluk satu sama lain. dan tak jarang, laki-laki itu akan meracau dengan menyebut nama seseorang yang ada di dalam pikirannya saat ini.


*oh Mikaila, kenapa kamu selalu membuat aku gila seperti ini?"tanya laki-laki itu Seraya memejamkan mata dan sesekali akan menggeliat di atas tempat tidur karena merasa tubuhnya benar-benar tidak nyaman.


Sementara sang wanita yang berada tepat di atas laki-laki itu, seketika segera membungkamnya dengan ci**an yang begitu memabukkan.


tentunya Hal itu membuat Arthur, sama sekali tidak bisa menolak. karena memang laki-laki itu, saat ini sedang dikuasai oleh sesuatu yang meronta-ronta di dalam sana.


"malam ini, kau benar-benar akan menjadi milikku."bisik Naima tepat di telinga Arthur. dan setelah itu, sesuatu yang tidak diinginkan oleh Arthur pun terjadi. dan itu sama sekali tidak bisa dicegah.


****


Sementara itu di tempat lain, terlihat Fandy yang baru saja keluar dari dalam mobil mewah miliknya. kemudian berlari kecil untuk menghampiri sang putri yang memang masih berada di dalam kediaman Wardani.


"Pipi!"teriak Moza dengan girangnya. hingga membuat gadis kecil itu, sekali akan berlari dan melompat kecil untuk menggapai tubuh dari laki-laki jangkung itu.


"bagaimana mainnya? seru atau tidak?"tanya laki-laki itu Seraya mencium kedua pipi gembul milik Moza. membuat gadis kecil itu, ketika tertawa karena merasa kegelian dengan apa yang dilakukan oleh sang ayah.


Kemudian setelah puas bermain-main dengan putrinya, Fandy segera menatap ke arah Mikaila yang berada tepat di hadapannya saat ini.


"bagaimana apakah Moza merepotkanmu?"tanya Fandy dengan raut wajah tidak enak.


Sementara Mikaila sendiri, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya Seraya tersenyum kecil.


"tidak masalah. justru aku merasa sangat beruntung. karena kau, mau mengizinkan putrimu untuk bermain denganku."ucapnya dengan tersenyum tulus.

__ADS_1


Fandy yang mendengar itu seketika tersenyum simpul.'karena memang ini yang aku tunggu.' batin laki-laki itu tertawa jahat. namun sebisa mungkin, Fandy bersifat sebaik mungkin di hadapan Mikaila. karena laki-laki itu, sama sekali tidak ingin jika rencananya ini gagal total. Sehinggalah, Fandy harus menyusunnya dengan sangat rapi.


"princess kita pulang sekarang yuk!"ajak laki-laki itu Seraya langsung menggendong tubuh mungil milik Moza. Dan tak lama berselang, laki-laki itu segera melangkahkan kakinya untuk menuju halaman rumah milik keluarga Wardani.


"Fandy, tunggu sebentar!"ucapan dari Mikaila itu, sukses membuat laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu menghentikan langkah. dan tak lama berselang, tubuhnya berputar menghadap ke arah si tuan rumah.


"Ada apa Mikaila?"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang begitu datar. namun di dalam hatinya, laki-laki itu telah bersorak dengan begitu girangnya karena mendapatkan notice dari seseorang yang memang dia incar beberapa tahun yang lalu.


"hati-hati. jangan lupa, besok antarkan Moza ke sini lagi. karena aku dan yang lain, ingin mengajak putrimu itu kapan di asuhan. boleh atau tidak?"tanya wanita itu meminta izin.


Karena bagaimanapun juga, Fandy memiliki hak yang legal terhadap Moza. walaupun mereka berdua tidak memiliki ikatan darah sama sekali.


hening....


Untuk beberapa saat kemudian, suasana di antara mereka benar-benar terasa hening. karena Fandy dan juga Mikaila, sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. hingga tak lama berselang,...


Jawaban dari laki-laki itu disertai dengan senyuman tipis, membuat Mikaila tidak kuasa untuk ikut juga menahan senyumannya.


Dan dengan segera, langsung mengantarkan pasangan Ayah dan anak itu untuk menuju ke kendaraannya.


"hati-hati di jalan, ya, Moza sayang, besok kamu ke sini lagi ya? tante besok ada sesuatu yang ingin tante tunjukkan pada kamu."ucap Mikaila dengan penuh antusias.


Membuat bocah kecil itu seketika tertawa. tak lama berselang, menganggukkan kepalanya. setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Fandy, pada akhirnya Mikaila memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. setelah mobil dari laki-laki itu, sudah tidak terlihat di depan matanya.


"aneh sekali kenapa aku menjadi sesayang ini pada bocah itu. Padahal, kita baru bertemu beberapa saat lalu." gumam Mikaila penuh dengan rasa kebingungan yang luar biasa. karena memang, wanita itu tidak pernah merasakan perasaan sampai sedalam ini dengan seseorang. apalagi seseorang itu, baru dikenalnya beberapa saat.

__ADS_1


****


"kenapa anakmu belum pulang juga? di mana dia sekarang?"tanya Oma Juwita pada anak dan juga menantunya. karena sampai hari mulai menggelap, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, namun mereka sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Arthur.


"sebentar aku ingin menelpon teman-temannya."pamit Claudia pada suami dan juga mertuanya. dan setelah sedikit menjauh, wanita paruh baya itu segera menghubungi kedua sahabat putranya untuk menanyakan keberadaan laki-laki itu.


Namun sampai panggilan ketiga, sama sekali tidak ada sahutan dari sebelah sana. tentunya hal itu semakin membuat Claudia merasa kebingungan dan juga cemas secara bersamaan.


"ini kenapa tidak ada balasan apapun dari mereka? ke mana mereka sebenarnya?"tanya Claudia dengan raut wajah yang mulai terlihat begitu khawatir.


****


Sementara itu di jalan raya, terlihat dua laki-laki yang masih terjebak dalam situasi tawuran yang sangat mencekam. Sesekali, salah satu dari mereka akan mengumpat karena tidak bisa keluar dari tempat itu.


"shiitt ini kenapa tidak bisa keluar?!"geram Morgan menatap kesal ke arah para pelajar yang masih tawuran itu.


Sementara Bastian, laki-laki itu memilih diam. walaupun sesekali, laki-laki yang memiliki paras tampan dengan rambut seperti mangkok itu, akan terlihat sangat gelisah. dan hal itu sangat disadari oleh Morgan.


"kau ini sebenarnya kenapa?"tanya laki-laki itu yang mulai jengah dengan perilaku yang ditunjukkan oleh sahabatnya itu.


"Tante Claudia menelponku. dan aku bingung harus menjawab apa."gumam laki-laki itu Seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Mendengar ucapan dari temannya itu, mendadak tubuh Morgan menjadi begitu gemetar. karena laki-laki itu, merasa begitu takut dan juga segan dengan keluarga dari Stanley.


"lalu apa yang harus kita lakukan?"laki-laki itu dengan raut wajah kebingungan. karena memang tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.

__ADS_1


Bastian yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya."aku juga tidak tahu apa yang akan kita lakukan nantinya."sahut laki-laki itu dengan cepat. jujur saja hal itu membuat Morgan dan juga Bastian merasa begitu frustasi.


Untuk pertama kalinya, kedua laki-laki itu merasa begitu menyesal karena mengikuti permintaan dari Arthur untuk membawanya ke sebuah klub


__ADS_2