
Di saat mereka bertiga sedang menikmati makanan yang telah ada di hadapan mereka, Mikaila tak sengaja menatap ke arah pintu masuk restoran. dan tak lama berselang, kedua mata dari wanita itu, seketika membelalak sempurna.
kenapa dia ada di sini? batin Mikaila menatap kesal ke arah Arthur.
Sementara laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, langsung melangkah mundur. tak lama berselang, laki-laki itu memalingkan wajah Seraya tersenyum miris.
'kenapa jalan hidupnya menjadi seperti ini? rasanya sakit sekali Ya Tuhan 'Fatin laki-laki itu menangis pilu.
Namun karena perutnya merasa sangat sakit akibat rasa lapar yang mendera, pada akhirnya Arthur mencoba untuk mengabaikan pemandangan yang begitu menyakitkan yang ada di hadapannya saat ini.
Laki-laki itu mencoba tidak memperdulikan keberadaan dari seseorang yang masih sangat ia cintai sampai saat ini. sesekali Arthur akan menoleh ke arah mikayla yang saat ini itu masih sibuk bersama dengan seorang gadis kecil. dan sesekali, akan berbincang-bincang dengan Fandy. dan hal itu, tentu saja membuat Arthur merasakan sakit yang luar biasa.
Sementara itu Mikaila dan juga Fandy saat ini, tengah berbincang-bincang dan sesekali akan memberikan sendok yang berisi nasi dan juga lauk pauk kepada Moza. mereka bertiga, sudah seperti sebuah keluarga yang begitu bahagia.
'aku sakit Mikaila.'batin laki-laki itu menangis pilu.
Tak lama berselang, air mata yang memang sedang ditahan-tahan, akhirnya jatuh juga. entah mengapa, semakin lama semakin deras saja.
"kamu mau minta ini?"tanya Mikaila Seraya menatap ke arah Fandy dan juga Moza cara bergantian. dan anehnya, pasangan ayah dan anak itu pun menganggukkan kepala secara kompak. hal itu sukses membuat Mikaila, seketika tersenyum kecil.
"mau ini aja deh." sahut mereka berdua kembali dengan kompak dan hal itu sukses membuat Mikaila seketika tertawa pelan.
"sungguh orang tua dan anak yang kompak."gumamnya Seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Interaksi diantara mereka berdua, terus berlanjut. hingga tak lama berselang, kegiatan mereka sudah selesai. dan membuat mereka bertiga memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Arthur juga memutuskan untuk pergi dari sana dengan perasaan hati yang sangat kacau balau. akibat melihat interaksi di antara dua manusia yang dulunya saling membenci itu.
Di sepanjang perjalanan, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu tak henti-hentinya memakai dirimu sendiri karena sudah melakukan hal bodoh. yang mengakibatkan, wanita yang sangat ia cintai pergi dari hidupnya. walaupun itu semua, bukanlah kesalahan yang dia perbuat. tapi tetap saja, semuanya menjadi ambyar karena dirinya yang andil di dalamnya.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu kini telah sampai sebuah Mansion megah di pusat kota. yang tak lain dan tidak bukan, adalah Mansion milik keluarga Stanley.
plak
Tamparan keras seketika langsung didapat oleh Arthur. saat laki-laki itu baru saja menginjakkan kakinya di bangunan megah itu. Bahkan, satu kakinya baru saja melewati ambang pintu.
Tentu saja, tamparan keras itu berasal dari tangan keriput wanita renta yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.
"kenapa Oma menamparku?"laki-laki itu dengan raut wajah kebingungan. tak lama berselang, laki-laki itu terdiam di tempatnya.
"masih berani kau bertanya seperti itu setelah kembali mencoreng keluarga kami dengan tingkahmu itu?!" sentak wanita tua itu Soraya melayangkan tatapan tajam ke arah Arthur.
"apa maksud dari semua ini? kau bisa menjelaskannya?"tanya wanita renta itu Seraya melempar sebuah amplop berwarna coklat di hadapan Arthur.
Laki-laki itu segera menundukkan kepala untuk memungut sesuatu yang baru saja dilemparkan ke hadapannya itu.
Tak lama berselang, kedua matanya membulat sempurna dengan jantung yang berdegup kencang berkali-kali lipat.
"da... dari mana kalian mendapatkan barang ini?"tanya Arthur dengan nada suara terbata-bata dan juga tubuh yang mulai menggigil karena merasakan takut luar biasa.
Di sudut ruangan sana, ada tetapan kekecewaan yang dilemparkan oleh Claudia dan juga Bahrun. karena Lagi Dan Lagi, Putra semata wayang mereka telah mencoreng nama baik dari Stanley. Bahkan, mungkin saja ini lebih parah dari yang sebelumnya.
__ADS_1
Bahkan saat ini, Claudia sudah menangis dengan histeris dan berada dalam dekapan sang suami. wanita paruh baya itu bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk beberapa saat karena kan tidak memiliki kuasa untuk melihat wajah dari putranya itu.
"bisa kau jelaskan, apa maksud dari semua ini?"tanya Bahrun dengan tatapan yang begitu tajam.
"maafkan aku."hanya itu yang bisa dilontarkan oleh Arthur dengan wajah yang ditekuk sedalam mungkin karena sudah tidak memiliki nyali untuk memandangi wajah kecewa dari keluarganya.
"jadi, ini semuanya adalah sebuah kebenaran. Kenapa kamu lakukan hal ini Arthur ?tanya Oma Juwita yang langsung lemas saat itu juga.
Bahkan wanita renta itu sudah hampir pingsan jika beberapa maid tidak langsung menangkapnya.
Arthur langsung semakin merasa bersalah karena mendapati kejadian itu.laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu bahkan menangis itu pilu. saat melihat orang-orang yang ia sayangi, satu persatu mulai hancur karena ulahnya.
"tolong Oma Maafkan Arthur kartun tidak bermaksud untuk membuat Oma menjadi seperti ini."gumam laki-laki itu lirih dengan linangan air mata yang membasahi pipi .
Namun orang-orang yang ada di rumah itu sama sekali tidak menggubris maaf yang dilontarkan oleh Arthur. Bahkan mereka seakan menghukum laki-laki itu dengan kebungkamannya.
Dan pada akhirnya, yang dapat dilakukan oleh laki-laki itu hanya berpasrah diri. menerima hukuman dari orang-orang yang sangat ia sayangi dan itu entah sampai kapan telepon juga tidak mengetahuinya.
****
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya dimension keluarga Wardani Mikaila baru saja turun dari mobil milik Fandy.
"Apakah kalian tidak ingin mampir dulu?" tanya Mikaila pada pasangan Ayah dan anak itu
"lain kali saja ya Mikaila.aku sudah ada janji dengan seseorang."jawab Fandi dengan tersenyum simpul. dan tak lama berselang,mobil yang dikendarai oleh laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu udah melesat jauh meninggalkan Mansion Wardani.
__ADS_1
Mikaila tampak membuang nafas untuk beberapa kali. entah apa sebenarnya yang dipikirkan oleh wanita itu sehingga dapat merasakan perasaan aneh seperti ini.
"ah lama-lama aku bisa gila jika semua ini terus terjadi padaku."gumam wanita itu dan langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bangunan megah yang ada di belakangnya saat ini.