
"kamu menangis, sayang?"tanya Fandy pada putrinya itu saat laki-laki itu menyadari bahwa ada lelehan air mata yang tersisa di sudut kedua mata dari Moza.
"Dia baru saja jatuh."sahut Ratih dengan raut wajah yang kurang enak untuk dipandang. membuat Fandy yang mendengar itu, seketika memicingkan kedua matanya.
"memangnya apa yang terjadi, Ma?"tanya laki-laki itu setelah menurunkan Moza dan menyuruh salah satu pengasuh untuk mengajak gadis kecil itu bermain di taman belakang rumah mereka.
Hening....
Untuk beberapa saat kemudian suasana di antara mereka benar-benar sangat hening. karena sepasang ibu dan anak itu, tengah memikirkan sesuatu hal di kepala masing-masing.
"apakah kamu masih mencintai wanita itu?"pertanyaan dari Ratih secara tiba-tiba itu, sukses membuat Fandy tersentak kaget. namun tak lama berselang, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, tersenyum simpul.
"bukankah Mama sudah tahu? tanpa aku menjawab pun, pasti Mama juga sudah mengetahui kalau aku masih menyimpan rasa dengan wanita itu."ucapnya dengan raut wajah berbinar.
"apalagi sekarang, sudah tidak ada orang yang akan menghalangi niatku ini. dia sudah berpisah dengan suaminya. sehingga aku lebih leluasa untuk mendapatkannya."sambung laki-laki itu dengan sedikit berbangga hati.
Karena Fandy merasa, kali ini dirinyalah yang akan mendapatkan kemenangan itu. apalagi di kehidupannya saat ini, sudah ada Moza. gadis kecil itu akan menjadi perekat di antara mereka berdua.
Karena Fandy tahu, semenjak Mikaila bertemu dengan gadis kecil itu, suasana hati dari Wanita itu sudah merasa tidak tenang. dan hal itu akan mudah untuk Fandy mendapatkannya.
"apakah kamu yakin?"tanya Ratih merasa tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh putranya itu.
Membuat Fandy yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala. kemudian laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, memutuskan untuk menemui putrinya. dan berpamitan pada sang ibu.
Ratih seketika menghela nafas panjang. tak lama berselang, wanita paruh baya itu segera memijat pelipisnya yang terasa berdenyut akibat rasa pusing yang menjalar di kepalanya akibat masalah yang dialami oleh putranya itu. karena wanita paruh baya itu tahu, jika putranya masih sangat mencintai Mikaila.
"semoga kali ini, gayungmu memang sudah bersambut."ucapnya dengan begitu sendu.
****
__ADS_1
Sementara itu di kediaman rumah keluarga Wardani, terlihat Mikaila semakin murung. dan Hal itu membuat orang-orang yang ada di sana, merasa begitu cemas. terutama kedua orang tua dari wanita itu.
"kamu ini kenapa lagi sih, sayang?"tanya Winarto yang langsung duduk di samping wanita muda itu.
Hingga membuat si empunya, seketika menoleh dan tersenyum dengan begitu hangat. kemudian pandangan dari wanita itu, mengarah pada sahabat dan juga sepupunya.
"aku juga tidak tahu kenapa perasaanku mendadak menjadi seperti ini jika bertemu dengan Putri dari Fandy."sahut wanita itu Seraya menundukkan kepala.
Winarto dan juga Ruri yang mendengar itu, seketika membulatkan kedua matanya. keduanya merasa tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Putri mereka itu.
"memangnya Fandy sudah menikah? setahu Mama, bu Ratih belum pernah memiliki menantu?"tanya Ruri dengan raut wajah bingung.
Mikaila yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang."memang, tante Ratih belum memiliki menantu. karena memang, Fandy belum menikah." sahut wanita itu dengan menatap sendu kedua orang tuanya.
Tentunya Hal itu membuat Ruri dan juga Winarto yang melihat itu, segera terbelalak kaget. kedua manusia paruh baya itu, dengan segera langsung memeluk tubuh Putri mereka itu dengan erat.
"aku bertemu dengan seorang gadis cilik. dan entah mengapa, Hal itu membuat hatiku terasa begitu teriris. Padahal,; aku sama sekali tidak mengenal gadis kecil itu."adunya dengan tangisan yang mulai pecah.
Hal itu semakin membuat kedua orang tua dari Mikaila semakin merasa kebingungan. karena memang, putrinya itu tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya.
"tenangkan dirimu sayang."ucapnya mencoba untuk menenangkan wanita cantik itu.
Namun bukannya tenang, Mikaila justru tambah menangis tersedu-sedu. hingga membuat semua orang yang ada di sana, semakin merasa kebingungan.
****
"Arthur, Kau mau ke mana lagi?"tanya Claudia. saat melihat putranya itu, baru saja akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kediaman Stanley.
"nongkrong di cafe sama teman-teman."sahut laki-laki itu dengan nada datar. dan tanpa basa-basi lagi langsung menuju ke tempat yang dituju. meninggalkan Claudia yang semakin pusing dengan perilaku putranya itu.
__ADS_1
"kenapa kamu menjadi seperti ini sayang?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah yang begitu sendu dan juga merasa frustasi.
***
"hey bro tumben Kau ngajak kami ketemu?"tanya salah seorang teman dari Arthur Seraya menghampiri laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu.
"lagi suntuk aja di rumah."sahur Arthur Seraya menyesat sebuah anggur merah yang sengaja dituangkan oleh para wanita penghibur itu.
Ucapan dari Arthur yang ingin ke cafe bersama teman-temannya, tentu adalah suatu kebohongan. karena pada kenyataannya, laki-laki itu menuju sebuah klub ternama di kota itu bersama dengan teman-temannya.
"kau terlihat kusut sekali."celetuk salah satu teman dari Arthur yang bernama Morgan.
"hmmm." hanya deheman kecil itu yang didengar oleh para teman-temannya. sementara si empunya tubuh, lebih memilih untuk memejamkan mata. karena begitu pusing dengan masalah yang silih berganti menghampiri kehidupannya itu.
Karena melihat suasana hati Arthur yang kurang membaik, pada akhirnya. Morgan dan juga Bastian memutuskan untuk membiarkan suasananya menjadi kacau seperti ini.
***
"Fandy, kau ada di mana?"teriak Ratih dari dalam rumah. membuat laki-laki itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.
"kenapa Mah? ada apa?"tanya laki-laki itu Seraya menatap ke arah ibunya dengan tatapan kebingungan.
Ratih segera duduk di samping putranya itu dan langsung menceritakan apa yang baru saja terjadi.
"tadi Mama tiba-tiba saja ditelepon oleh mamanya Mikaila. dan beliau bertanya apakah kamu sudah menikah atau belum. dan Mama jawab, kamu belum menikah. yang Mama heran, kenapa tiba-tiba mamanya dari Mikaila menanyakan hal itu? kenapa Mereka terlihat aneh sekali?"pertanyaan demi pertanyaan itu seketika terucap begitu saja dari dalam mulut Ratih dengan raut wajah kebingungan.
Sementara Fandy sendiri, seketika tersenyum menyaringai karena langkah awal dari rencananya sudah hampir berhasil. sekarang, laki-laki itu harus bersabar menunggu instruksi dari Naomi dan juga yang lain agar dapat menjalankan rencana itu dengan lebih mulus dari sebelumnya.
"sudahlah mungkin saja mereka hanya ingin bersilaturahmi. kan Mama tahu sendiri, kalau hubungan kita ini, sedikit tidak baik dengan keluarga itu."ucap Fandy sok tegas.
__ADS_1