Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 69


__ADS_3

"gimana jalan-jalannya hari ini? apakah sangat menyenangkan?"tanya Arthur Seraya melingkarkan lengan kekarnya tepat di pinggang ramping milik istrinya itu. dan tak berselang lama, tangan dari laki-laki itu pun bergerak naik turun mengusap lembut perut buncit milik Mikaila.


Membuat si pemilik tubuh, seketika tersenyum lebar. dan tak lama berselang, mendongakkan kepalanya. sehingga bibir tipisnya, tepat mengenai pipi laki-laki itu.


"semua baik-baik saja. aku merasa begitu happy."jawabnya tersenyum kecil.


Wanita itu lalu memutar tubuhnya sendiri hingga kini, berhadapan dengan Sang suami. keduanya sama-sama tersenyum lebar. dan tak lama berselang, saling menyatukan kening satu sama lain.


"aku benar-benar merasa sangat bahagia bisa mendapatkan dirimu kembali."ucap laki-laki itu Seraya menggendong tubuh memiliki istrinya dan membawanya ke sofa yang berada di depan ranjang.


Sementara Mikaila sendiri, wanita yang tengah hamil 6 bulan itu menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Arthur. raya sesekali, memainkan jari besar milik laki-laki itu.


"entah kenapa aku masih memberikan kamu kesempatan Kedua. padahal pada awalnya aku sudah merasa pasrah jika Papa ingin melayangkan gugatan cerai ke pengadilan." jelas Mikaila Soraya sesekali melirik ke arah suaminya.


Sementara Arthur sendiri, laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar penuturan dari wanita yang paling ia cintai itu.


"kamu nggak mau tahu kenapa aku berubah pikiran?"tanya wanita itu pada akhirnya karena melihat kediaman dari laki-laki itu.


"emangnya kenapa?"tanya Arthur yang sebenarnya begitu malas untuk membahas tentang hal itu. karena laki-laki itu terlalu takut mendengarkan kenyataan yang akan dibeberkan oleh wanitanya itu.


"itu semua karena ini."tunjuk Mikaila tepat di perut buncitnya.


"maksudnya?"tanya Arthur yang mendadak menjadi bodoh.


mikayla segera kembali merubah posisi duduknya hingga mereka berdua dalam posisi saling berhadapan."karena entah mengapa, aku merasa begitu berat untuk melepaskan kamu. dan lagi, sepertinya bayi yang ada di dalam kandunganku ini selalu ingin bersama dengan ayahnya. Karena aku merasakan rindu yang begitu mendalam jika berjauhan denganmu barang sebentar saja." jujurnya mengakui semua yang ia rasakan selama ini.

__ADS_1


Karena Mikaila memang merasakan hal seperti itu saat tidak bersama dengan Arthur. bahkan setiap malam wanita yang tengah hamil itu diam-diam akan menangis di dalam kamarnya hanya karena merasa begitu rindu terhadap sosok laki-lakinya itu.


Arthur yang mendengarnya pun, tertegun. ternyata cinta istrinya itu begitu besar terhadapnya. malah Dengan bodohnya, laki-laki itu sempat goyah hanya karena Cinta pertamanya datang. sungguh dia adalah laki-laki yang tidak berguna. untungnya Arthur cepatlah menyadari kebodohannya itu. karena jika tidak, mungkin dirinya akan kehilangan Mikaila. dan Arthur tidak akan pernah siap akan hal itu.


tes


Seketika itu pula, Mikaila terkejut bukan main. karena laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, tengah menangis tersedu-sedu.


"Mas kenapa menangis?"tanya Mikaila dengan nada khawatir.


Bukannya menjawab, Arthur justru memeluknya semakin erat dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher wanita itu.


"Terima kasih atas rasa cinta yang begitu besar terhadapku. aku janji, selama sisa umurku saat ini aku tidak akan pernah membiarkan air mata kesedihanmu jatuh."ucapnya penuh dengan ketulusan.


Mikaila yang mendengar itu seketika tersenyum kecil. wanita itu kembali membenamkan wajahnya di dada bidang milik laki-laki itu.


Memang, Setelah dari taman dan puas bermain Mikaila memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya dan menelpon sang suami untuk datang ke sana. tentu saja hal itu membuat Arthur, merasa begitu senang karena mendapatkan telepon dari istrinya. dan tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu segera meluncur ke rumah kedua orang tuanya.


Karena memang, sebelum berangkat ke taman bermain tadi, Mikaila sudah memerintahkan seseorang untuk mengurus barang-barangnya dan membawanya ke rumah mereka berdua. karena rencananya, Arthur dan juga Mikaila akan tinggal secara terpisah bersama dengan Claudia dan juga Bahrun.


"malas ah. lebih enak di sini sama kamu."ucapnya dengan senyuman menggoda. hal itu tentu saja membuat Mikaila yang mendengarnya, seketika memutar bola mata malas.


"lebay kamu mah. udah lebih baik kamu berangkat saja sana. aku juga mau pulang ke rumah kita."ucapnya Seraya mendorong tubuh suaminya agar sedikit menjauh. karena saat ini, mereka sudah duduk bersebelahan.


"jangan!"cegah Arthur dengan cepat. membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika mengerutkan keningnya merasa heran dengan tingkah suaminya itu.

__ADS_1


"kenapa memangnya?"tanya Mikaila Seraya memainkan dasi milik Arthur.


"tunggu aku pulang saja kita langsung ke rumah bareng-bareng nanti."setelah mengatakan hal itu, Arthur segera membawa istrinya untuk menuju ke lantai bawah di mana keluarganya berada saat ini.


Mikaila hanya menurut saja. diam-diam wanita itu akan tersenyum karena merasa begitu bahagia dengan tindakan yang dilakukan oleh Arthur saat ini.' semoga saja ini tidak berlangsung singkat.' batinnya gembira.


"kenapa kalian tidak menginap di sini saja, sih?"tanya Claudia menggerutu kesal.


"Kita kan punya rumah sendiri Bu."sahut Arthur dengan entengnya dan mendudukkan sang istri di samping sang ayah.


"kalian tidak mau diganggu?"tuduh Claudia dengan tatapan garangnya.


"nah itu Ibu tahu."ucapnya Seraya tersenyum kecil. tentunya Hal itu membuat Mikaila yang mendengarnya seketika melebarkan kedua matanya.


"mas jangan ngomong sembarangan!"tegur Mikaila karena merasa tidak enak dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh suaminya itu.


Sementara Claudia yang mendengarnya, seketika mencebikkan bibirnya ke bawah. Hal itu membuat Mikaila yang melihatnya, meringis karena malu.


"udah tidak usah dipikirkan. mereka itu memang sering seperti itu Jadi tidak usah kaget."Oma Juwita menghampiri dan menggenggam tangan dari cucu menantunya itu.


Mikaila yang mendengar itu, seketika tersenyum lebar. dan ikut menggenggam tangan keriput dari nenek suaminya itu.


"apakah kamu merasa bahagia, sayang?"tanya Claudia secara tiba-tiba setelah puas beradu argumentasi dengan putranya itu.


"Bu, kenapa bicara seperti itu?" protes Arthur kata tajam ke arah ibunya. namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Claudia. malahan wanita paruh baya itu kembali menatap menantunya dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Ibu tenang saja aku merasa begitu bahagia kok. asalkan Mas Arthur tidak mengulangi kesalahannya lagi, maka aku akan selalu berada di sampingnya."ucapnya Seraya tersenyum manis.


Arthur yang mendengar itu ikut tersenyum haru.' aku janji sayang, aku akan membuatmu bahagia apapun Yang terjadi.'


__ADS_2