
Setelah berbincang-bincang cukup lama,pada akhirnya Fandy dan juga Naima memutuskan untuk kembali ke tempat masing-masing.dan disaat keduanya keluar,mereka malah disuguhkan dengan pemandangan yang begitu mengejutkan.
Karena di depan mata mereka saat ini,Arthur bersama dengan Mikaila dan juga Moza.dan hal itu sukses membuat Fandy dan juga nayma yang melihat itu,seketika Saling pandang satu sama lain.
"apakah mereka sudah mengetahui tentang jati diri Moza?"tanya Naima dengan raut wajah yang sangat cemas. dan hal itu sama sekali tidak berbeda jauh dengan Fandy.karena laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, juga memiliki perasaan yang sama.
Seperti berbicara melalui bahasa isyarat, mereka berdua tetap Saling pandang satu sama lain. dan tak lama berselang, keduanya pun menganggukkan kepala dengan cepat.
"apa yang kalian lakukan di sini Apakah kalian berselingkuh?"tanya Naima dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan Tatapan yang begitu angkuh.
Sontak saja, hal itu membuat mikayla dan juga Arthur yang ada di sana terperanjat kaget. Mereka sudah seperti pasangan yang baru saja kepergok selingkuh oleh istri sah.
Naima seketika maju melangkahkan kakinya untuk menghampiri Mikaila. dan tiba-tiba saja,..
Plak
Satu tamparan keras seketika mendarat mulus di wajah milik Mikaila hingga membuat wanita cantik itu seketika dengan cukup keras ke samping.
Dan hal itu tentu saja membuat Moza yang berada di samping Mikaila seketika terperanjat kaget. bocah kecil itu, seketika langsung memejamkan matanya. dan tak lama berselang, tubuhnya bergetar hebat karena menahan ketakutan yang luar biasa di dalam hatinya.
"kau berani untuk mendekati calon suamiku?" tanya Naima marah dengan tatapan yang begitu mengerikan.
"Naima, apa yang kamu lakukan?!" tanya Arthur dengan nada suara yang terdengar sangat marah. karena jujur saja, hatinya merasa begitu sakit.
Naima yang mendengar pertanyaan dari laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu, seketika menatapnya tajam.
"kenapa kamu malah membela dia?" tanya Naima semakin mengeraskan rahangnya karena merasa marah dengan situasi saat ini.
__ADS_1
"apakah kamu masih menyukai Mikaila?"tanya wanita itu dengan tatapan yang begitu tajam menatap keduanya itu secara bergantian.
Mikaila dengan segera menggelengkan kepalanya dengan kuat."tidak aku sama sekali tidak memiliki rasa pada calon suamimu itu. lebih baik, kau sekarang segera pergi saja dari sini. dan bawalah calon suamimu itu menghilang dari hadapanku."ucapnya Seraya membuang muka.
nyess
Kedua bola mata dari Arthur seketika mengembun. tak lama berselang, ada cairan bening yang mengalir dari dalam kelopak matanya. sungguh, hatinya begitu sakit saat wanita yang masih berada dalam hatinya itu, mengatakan hal yang demikian.
"oh bagus kalau begitu. berarti, kamu memang sudah sadar diri!"sinisnya dan langsung menarik tangan dari Arthur untuk segera pergi dari sana.
Meninggalkan Mikaila yang masih mematung di tempatnya. tak lama berselang, wanita itu jatuh terduduk dan langsung menangis dengan isakkan yang begitu pelan.
"Tante jangan nangis!"Moza dengan gemetar, langsung menghampiri Mikaila dan langsung memeluknya dengan erat.
Semakin lama, tangisan dari wanita itu semakin kuat. karena entah mengapa, seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. dan perlahan tapi pasti, wanita itu segera memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
"kau tidak apa-apa, hmm?"tanya Fandy yang langsung berlari ke arah Mikaila. karena laki-laki itu melihat wajah dari Mikaila yang semakin lama semakin pucat pasi.
Dan tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu segera menganggukkan kepala dan langsung menggendong tubuh Mikaila untuk dimasukkan ke dalam mobilnya. sementara Moza sendiri, Gadis itu bersama dengan pengasuhnya yang memang baru bekerja pagi tadi. karena memang seluruh keluarga Fandy sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk bocah kecil itu.
"Tante kenapa hiks hiks hiks huuuaaa!!" tangis dari Moza seketika pecah saat melihat raut wajah pucat dari wanita itu.
Dengan tubuh sedikit gemetar, Mikaila pun, menggelengkan kepalanya dengan gerakan lemah.
"tante tidak apa-apa sayang. jangan pernah menangis. nanti kalau menangis, wajah Moza jadi jelek."kuda wanita itu Seraya menjawil hidung mancung milik gadis kecil itu.
Hingga membuatnya seketika tersenyum lebar. dan dengan segera langsung memeluk tubuh Mikaila dengan erat.
__ADS_1
"eh Moza jangan dipeluk terus tante Mikaila nya. tante Mikaila sedang sakit."tegur Fandy Seraya sedikit menjauhkan tubuh dari Moza pada wanita itu. hingga membuat gadis kecil itu, sedikit tersentak.
"jangan kasar dengan anak kecil!" tegur Mikaila dengan raut wajah tidak suka. dan dengan segera langsung memeluk tubuh dari Moza dengan erat.
"kamu tidak apa-apa kan, sayang?"tanya Mikaila dengan nada yang begitu lembut. membuat Moza yang mendengar itu, ketika menganggukkan kepalanya. dan tak lama berselang, tersenyum cerah seperti semula.
Dan hal itu tak luput dari pantauan Fandy. membuat laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, tak sadar jika kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu tulus.
****
Tak berselang lama, mobil yang dikendarai oleh Fandi telah sampai di kediaman keluarga Wardani. dan kebetulan di sana, terdapat sepupu dan kedua sahabat dari Mikaila yang sepertinya, ingin bermain dengan wanita itu.
"ih kenapa ini bisa seperti ini?"tanya Hana dengan panik saat melihat kondisi dari sahabatnya yang sangat begitu lemas.
" lo apain sepupu gue?"tanya Aditya Saraya menarik kerah baju milik Fandy Dan hampir saja menghajarnya. namun beruntungnya semua itu dapat digagalkan oleh Mikaila.
"jangan sakiti dia dia nggak salah apa-apa."sahut wanita itu Seraya mencoba untuk melepaskan cengkraman dari kerah baju Fandy.
Sementara Aditya sendiri, laki-laki itu masih menatap tajam ke arah orang yang pernah menyakiti sepupunya itu.
"udah matanya nggak usah melotot nanti kalau lepas bahaya."ucap mikayla Saraya meraup wajah dari sepupunya itu. cara membuat si pemilik, seketika berdecak sebal. dengan segera melenggangkan kakinya untuk pergi dari sana.
"eh kamu mau ke mana?"hanya Mikaila Seraya menahan lengan dari sepupunya itu.
"palingan dia juga marah. karena kan, dia nggak jadi adu otot dengan Fandy."sahut Sarah dengan sinis.
tentunya Hal itu membuat Aditya yang mendengarnya, seketika segera melayangkan tatapan tajam. namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh gadis barbar itu.
__ADS_1
Sarah justru malah menjulurkan lidahnya mengejek pada laki-laki yang pernah ada hubungan di masa lalunya itu.
"dasar freak!" gumam laki-laki itu Seraya melengos pergi dari sana.