
Keesokan harinya, kondisi dari Mikaila sudah semakin membaik. Wanita itu sudah tidak mengalami trauma seperti awal ditemukan oleh Arthur malam itu.
"apa kamu baik-baik saja sayang?"tanya Arthur masih merasa khawatir dengan istrinya itu.
"aku baik-baik saja Mas. kamu tidak usah khawatir."jawab wanita itu dengan senyuman.
Arthur yang melihat itu segera duduk di samping wanita kesayangannya itu dan mulai membeli rambut panjangnya dengan penuh kasih sayang.
"aku tahu kau masih trauma. tapi aku mohon, jangan pernah berubah." ucap laki-laki itu seraya menggenggam tangan istrinya.
Mikaila yang mendengar ucapan tulus dari suaminya itu, seketika itu pula, langsung berderai. dengan segera Arthur membawa tubuh istrinya itu masuk ke dalam dekapannya.
Di dalam pelukan laki-laki tampan itu, Mikaila menangis tersedu-sedu. mengingat bahwa dirinya, hampir saja menjadi korban dari laki-laki itu.
"hiks hiks hiks aku sungguh sangat ketakutan."ucapnya dengan tubuh bergetar hebat karena menahan semua yang berkecamuk di dalam dadanya.
Tangan laki-laki itu segera mengusap kepala dari sang istri yang masih menangis dalam pelukannya.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan dari arah pintu. membuat mereka berdua, seketika menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan. tampak di depan sana, seorang wanita paruh baya menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan yang sangat dalam.
Tanpa basa-basi, wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh dari Mikaila. kemudian dua wanita berbeda generasi itu, sama-sama menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"maafkan Mama sayang. Mama benar-benar tidak bermaksud untuk menjerumuskanmu ke dalam kesengsaraan seperti ini. Mama mohon tolong maafkan semua tindakan yang pernah Mama lakukan."ucap Ruri sangat menyesal.
Mikaila yang mendengar itu hanya tersenyum Seraya berderai air mata. sungguh Ruri merasa sangat bersalah dengan apa yang ia lakukan kepada putrinya. Karena bagaimanapun juga, Ruri yang mengenalkan Mikaila dengan Fandy. sehingga wanita paruh baya itu benar-benar merasa sangat bersalah pada Putri semata wayangnya itu.
"sudah lah Ma, jangan pernah mengungkit-ngungkit masalah yang telah selesai. lagi pula, laki-laki itu sudah berada di dalam penjara."ucap Mikaila mencoba untuk menenangkan wanita paruh baya yang telah berjasa mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya itu.
Tentu saja hal itu membuat Ruri yang mendengarnya, merasa sangat lega."syukurlah kalau begitu."ucap wanita itu kembali memeluk tubuh dari putrinya.
Cukup lama mereka saling berpelukan. hingga sebuah suara ketukan pintu, kembali mengalihkan pandangan semua orang yang ada di sana.
"bagaimana keadaan istrimu?"tanya wanita itu dengan wajah yang sangat khawatir. membuat semua orang yang ada di sana, seketika merasa tercengang. bagaimana tidak, seorang wanita yang dari awal sangat menentang dan membenci Mikaila itu, tiba-tiba saja berubah menjadi seseorang yang sangat khawatir pada istri dari Arthur itu.
"Ibu tidak merencanakan sesuatu, kan?"tanya laki-laki itu Seraya memicingkan mata. membuat Claudia yang mendengar itu, seketika menatap putranya dengan tatapan tak percaya.
"kenapa kamu bisa berkata seperti itu? apa karena ibu selalu memusuhi istrimu sehingga tidak ada celah untuk ibu memperbaiki semuanya?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah yang sangat sedih.
Tentu saja, hal itu membuat Arthur yang mendengarnya, sedikit gelagapan. laki-laki itu segera memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu, dengan sangat erat.
"tolong maafkan Arthur. Arthur sama sekali, tidak bermaksud untuk membuat Ibu sedih."ucap laki-laki itu penuh dengan penyesalan dan tetap memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat.
Akhirnya dua keluarga yang sempat merenggang itu, akhirnya dapat bersatu kembali. tentu saja hal itu membuat Arthur dan juga Mikaila merasa sangat bahagia.
__ADS_1
****
"apa kamu mau makan sesuatu?"tanya Arthur saat mereka tengah berada di dalam kamar setelah kepergian kedua orang tua masing-masing.
"martabak manis sepertinya enak."ucap Mikaila tersenyum simpul.
"siap laksanakan!" ucap laki-laki itu salah yang mengangkat tangannya membentuk sikap hormat pada atasan.
Mikaila seketika tertawa. dirinya tidak menyangka, bahwa akan mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan yang awalnya dilakukan karena pura-pura itu. memang benar apa kata pepatah. cinta akan tumbuh dengan sendirinya Jika mereka saling menyapa satu sama lain.
Beberapa saat kemudian,...
"makanannya sudah siap. mau makan sekarang?"tanya laki-laki tampan itu Seraya menghampiri sang istri dan mengecup kening dan juga punggung tangan milik wanita itu.
"sudah siap, maksudnya?"tanya Mikaila tak mengerti.
"Ya sudah siap semuanya. aku sudah membuatkan apa yang kamu minta."ucapnya tersenyum simpul.
Mikaila seketika terbelalak kaget."kamu benar-benar membuatkan makanan itu untukku?"tanya wanita itu dengan raut wajah tak percaya.
Arthur yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala "tentu saja, semua akan aku lakukan untukmu."ucapnya Seraya menarik pelan tangan istrinya untuk segera menuju ke ruang makan.
__ADS_1