Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 113


__ADS_3

Sontak saja, hal itu membuat semua orang yang ada di sana, seketika merasa sangat terkejut. dengan segera, Mikaila langsung menarik tangan dari sepupunya itu untuk menjauh dari wajah Fandy. Karena sedikit saja wanita itu terlambat, maka wajah dari laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, akan babak belur di tangan Aditya.


"stop! nggak usah main hakim sendiri! nggak usah sok jadi jagoan!"desis wanita itu dengan tatapan yang begitu tajam.


Membuat Aditya yang melihat itu, seketika langsung terpaku di tempatnya. karena laki-laki itu masih tidak menyangka tentang apa yang dilakukan oleh wanita itu.


"aku hanya ingin melindungimu dari---"


"nggak usah membela diri seperti itu!"potong Mikaila dengan cepat. membuat Aditya ketika bungkam. bahkan bukan hanya laki-laki itu yang bungkam. Melainkan, orang-orang yang ada di sana pun, juga ikut bungkam. termasuk Fandy sendiri.


Karena laki-laki itu benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan angin segar seperti ini. diam-diam dan tanpa sepengetahuan dari orang-orang itu, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.


"Mikaila, sepertinya aku di sini tidak terlalu diinginkan." ucap Fandy membuat semua orang kembali menatap ke arahnya.


"kenapa buru-buru sekali kenapa tidak nanti nanti saja?"tanya Winarto dengan nada yang seperti menahan agar Fandy tetap berada di sana. hal itu semakin membuat laki-laki itu girang. Namun demikian, dirinya harus tetap bersikap biasa saja agar tidak terlalu terlihat oleh keluarga dari wanita yang sangat ia impikan untuk menjadi pendamping hidupnya itu.


"besok aku juga ke sini lagi Om. karena Moza, juga ada janji dengan Mikaila."ucapnya Seraya menatap ke arah sang putri yang masih terlelap dalam gendongannya.


karena memang, selama di perjalanan itu Moza pada akhirnya tertidur. setelah sebelumnya, gadis kecil itu merasa begitu takut saat melihat pertengkaran yang dilakukan oleh kedua wanita dewasa yang ada di sekitarnya.


Memang, Moza akan seperti itu jika mengalami ketakutan yang luar biasa maka yang hanya dapat dilakukan oleh gadis kecil itu, hanyalah berdiam diri. hingga perlahan-lahan, nantinya akan tertidur lelap.


Dan pada akhirnya setelah mendengar penuturan dari laki-laki itu, semua orang yang ada di sana menganggukkan kepala.


"aku pulang dulu ya Mikaila,"pamit Fandy pada wanita itu.


"hati-hati ya,"balasnya Seraya melambaikan tangan tanpa sadar.

__ADS_1


Membuat orang-orang yang ada di sekitar wanita itu, seketika merasa begitu terkejut. tak terkecuali, nenek Kamila. wanita sepuh itu sampai terdiam untuk beberapa saat kemudian saat melihat reaksi yang ditunjukkan oleh cucunya itu.


Karena tidak biasanya, Mikaila akan bersikap hangat seperti itu kepada seorang laki-laki. Apalagi, Mikaila pernah ada urusan yang tidak mengenakan dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


Tapi sekarang semuanya seperti berubah. namun mereka tidak bisa menduga-duga hal itu lebih awal. karena belum tentu, apa yang mereka pikirkan itu benar dengan kenyataan yang terjadi.


Fandy sempat tertegun untuk beberapa saat kemudian. sebelum pada akhirnya, laki-laki itu pun menganggukkan kepala serayak membalas lambeyan tangan.


Sungguh saat ini, Fandy benar-benar merasa begitu bahagia. karena perlahan tapi pasti, gayung yang ia lemparkan akan bersambut dengan sempurna.


"aku sudah tidak sabar ingin menyaksikan hal itu benar-benar terjadi Mikaila."ucapnya dengan senyuman yang begitu penuh arti.


Setelah puas bernostalgia dengan pikirannya sendiri, pada akhirnya laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil pribadinya dan melesat jauh untuk menuju ke kediaman kedua orang tuanya.


Dan setelah mobil dari Fandy menjauh, pada akhirnya Mikaila segera melayangkan tatapan tajam pada laki-laki yang menjadi kakak sepupunya itu.


"nggak usah sok basa-basi!"semprot Mikaila dengan nada yang begitu galak.


"lebih baik sekarang kamu pergi saja dari rumah ini."sambung wanita itu Seraya beranjak masuk ke dalam rumahnya.


Hal itu sukses membuat semua orang kembali terdiam dengan mulut sedikit terbuka lebar karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Mikaila saat ini.


"kenapa dia menjadi kesal seperti itu? Ck, apakah dia sudah memiliki perasaan pada laki-laki itu?"tanya Aditya Seraya berdecak sebal.


Sementara Ruri dan yang lain yang melihat itu, tidak ada niatan untuk menyahuti celotehan dari laki-laki itu. mereka memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Aditya seorang diri.


****

__ADS_1


"nenek tidur sini, atau pulang?"tanya Mikaila Saat dirinya dan semua orang tengah berkumpul di ruang tamu.


"nenek menginap di sini sayang."sahut nenek Kamila dengan riang. hal itu sukses membuat Mikaila begitu senang. bahkan tanpa sadar, wanita cantik itu melompat-lompat kecil seperti layaknya seorang anak kecil.


"seneng banget kayaknya?!"sindir Aditya yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"sirik aja!"jawab wanita itu masih dengan nada suara yang begitu ketus. membuat Ruri dan juga Winarto yang mendengar itu, seketika hanya menggelengkan kepalanya.


"kalau begitu kami berdua pulang dulu ya. soalnya ini udah malam."tiba-tiba saja Sarah berdiri. membuat mereka semua, seketika menoleh ke arah wanita tangguh itu.


"kenapa nggak tidur di sini aja?"tanya Mikaila menatap ke arah sahabat-sahabatnya itu dengan ekspresi wajah yang sedikit kecewa.


Hana seketika tersenyum kecil."besok aku mulai interview kerja."lapor gadis lembut itu pada sahabatnya.


"oh ya memangnya kalian sudah tidak bekerja dengan perusahaan Papa?"tanya Mikaila dengan raut wajah yang terlihat sekali sangat terkejut.


Hana dan juga Sarah yang mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, seketika saling pandang. dan tak lama berselang, mereka berdua menggelengkan kepalanya.


"kami nggak mau ngerepotin keluarga kalian terlalu lama. sudah lebih dari cukup, kita bekerja pada kalian."ucap Hana penuh dengan senyuman.


"kamu ini bicara apa sih? mana ada kita merasa direpotkan. justru kita malah merasa senang karena Mikaila, mendapatkan teman yang begitu tulus."ucap Ruri penuh dengan kehangatan.


Tanpa sadar, cairan bening seketika mengalir begitu saja dari kelopak mata milik Sarah dan juga Hana.


Mereka berdua benar-benar merasa terharu dengan kasih sayang yang dilimpahkan oleh wanita paruh baya yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Makasih Tante. aku benar-benar tidak menyangka bahwa tante akan melimpahkan kasih sayang itu pada kami."dengan secepat kilat, wanita yang sedikit tomboy itu segera memeluk tubuh ibu dari temannya dengan tangis yang semakin lama semakin pecah.

__ADS_1


Karena baik Hana maupun Sarah, sama-sama tidak pernah merasakan kasih sayang itu. karena memang mereka, sama-sama piatu sejak kecil.


__ADS_2