Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 85


__ADS_3

suasana di dalam lapas itu, seketika berubah menjadi begitu mencekam. karena Arthur, baru saja memukuli Fandy tanpa ampun. sementara laki-laki itu sendiri, memutuskan untuk membiarkan Arthur menghajarnya secara membabi buta.


Karena laki-laki yang memiliki lesung pipit dan juga mata sipit itu, memiliki rencana lain. tak lama berselang, dua sipir penjara datang melerai mereka.


"hei apa yang kau lakukan?!"tanya laki-laki itu Seraya menarik salah satu diantara mereka untuk memisahkan acara baku hantam itu.


Dengan tanpa pikir panjang lagi, mereka segera membawa kedua laki-laki itu untuk menuju ke ruangan sidang. tak lupa, orang-orang yang ada di dalam kantor polisi itu juga menghubungi keluarga masing-masing.


Sementara Arthur dan juga Fandy, masih ditempatkan di tempat yang sama. dua laki-laki itu didudukkan sejajar dengan tangan terikat ke belakang. karena para petugas itu takut, bahwa mereka berdua akan melakukan baku hantam kembali. lihat dari pandangan mata yang begitu mengerikan yang terpancar dari wajah Arthur. sementara Fandy sendiri, hanya terkekeh sinis.


"dasar banci! beraninya sama anak kecil doang!"tempat Fandy mencoba untuk memanas-manasi laki-laki yang ada di sampingnya saat ini.


"apa Lo bil---"


Ucapan dari Arthur seketika langsung terhenti saat mendengar suara pintu yang dibuka dari luar. dan tak lama berselang, muncul orang-orang yang masuk ke dalam ruangan itu dengan tatapan yang begitu mengerikan.


bugh


Seketika itu pula, semua orang yang ada di sana mematung di tempatnya. saat satu pukulan keras, mendarat mulus di wajah tampan milik Arthur.


"belum puaskah kamu Membuat malu keluarga Stanley dengan kelakuanmu itu?" tanya Bahrun dengan gigi yang saling bergemeletuk. menandakan, bahwa laki-laki paruh baya itu benar-benar merasa sangat marah terhadap Putra tunggalnya itu.


"pak polisi saya minta, lepaskan anak saya karena dia sudah cukup berkelakuan baik. saya tidak ingin, Putra saya ini kembali menjadi Samsat pada laki-laki yang tidak tahu tata krama seperti ini."ucap Ratih Seraya menatap tajam ke arah Arthur.

__ADS_1


"Maaf nyonya, bukankah yang memulai duluan adalah putra nyonya, tapi kenapa saya yang disalahkan?"tanya Arthur dengan raut wajah keruhnya. tanda bahwa laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu merasa sangat kesal.


"mulai duluan apa? gue cuma mau ngasih tahu, kalau lo nggak bisa bahagiain Mikaila, setidaknya lo nggak usah buat dia bersedih atau bahkan depresi. dengan cara, ngebunuh anak kalian."jawab Fandy dengan sinis.


Membuat Arthur yang mendengar itu seketika menundukkan kepala. laki-laki itu benar-benar merasa sangat bersalah dengan sang istri. walaupun semuanya tidak seperti apa yang dipikirkan oleh orang-orang, tapi tetap saja Arthur benar-benar meminta maaf atas semua ini.


"ceraikan Mikaila!"ucapan seseorang dari ambang pintu, membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu seketika menoleh. mereka semua terkejut dengan kehadiran Winarto beserta keluarganya.


Padahal keluarga Fandy dan juga keluarga Arthur, lama sekali tidak memperbolehkan orang-orang kepolisian untuk menghubungi keluarga itu. karena mereka yakin, keluarga dari Wardani masih memiliki duka yang begitu mendalam akibat kehilangan sosok anggota keluarga mereka.


"a...apa maksud dari Papa?"tanya Arthur dengan tubuh sedikit gemetar.


"apa kau tuli, hmmm? aku bilang, ceraikan namaku!"ulang laki-laki paruh baya itu dengan nada yang begitu mengerikan.


Laki-laki itu hendak memukul menantu segalanya itu karena merasa begitu murka dengan apa yang dilakukan oleh Arthur. namun gerakannya seketika terhenti saat merasakan tarikan lembut dari belakang tubuhnya.


"kenapa sayang?"tanya Winarto dengan alis terangkat tinggi.


"biar aku saja. Papa tidak usah berbuat apa-apa."jawab Mikaila dengan datar. wanita cantik itu segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri laki-laki yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya itu.


Ya saat ini. karena Mikaila tidak yakin, jika mereka masih berstatus sebagai suami istri untuk beberapa saat ke depan. karena Winarto, telah mempersiapkan seorang pengacara untuk menangani kasus perceraiannya dengan Arthur. dan kali ini, wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa.


"cepat tanda tangan!" seru wanita itu dengan tatapan yang berkilat tajam. membuat Arthur yang melihat itu, sedikit tersentak.

__ADS_1


Tak lama berselang, laki-laki itu menggelengkan kepalanya."nggak sampai kapanpun juga, aku nggak akan pernah mau berpisah sama kamu. karena sampai kapanpun juga, kamu adalah wanita yang paling aku cintai."ucapnya dengan gelengan kepala yang sangat kuat.


plak


Sabltu tamparan keras, seketika mendarat mulus di wajah tampan milik Arthur. hingga membuat laki-laki itu, seketika terbatuk dan mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.


"jangan pernah membuat kesabaranku habis!"desisnya tajam. namun Arthur masih tetap kekeh dengan pendiriannya. laki-laki itu menggelengkan kepalanya kuat.


"tolong jangan seperti ini. aku mohon jangan pernah tinggalkan aku."ucap laki-laki itu Seraya mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan deraian air mata yang membasahi pipi.


Namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Mikaila. Karena Wanita itu, sudah terlanjur membenci laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. apalagi bukti terbaru yang didapatkan oleh Mikaila. Seakan-akan, memperkuat asumsinya. jika laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, sama sekali tidak bersungguh-sungguh untuk menerima anak mereka.


Karena di rekaman itu terlihat, Arthur tengah berbincang-bincang dengan seseorang dan perbincangan itu terdengar begitu jelas bahwa laki-laki itu sempat meminta seorang laki-laki lain, untuk mengambil bayi yang masih berada dalam inkubator itu.


Tentu saja itu adalah bukti rekayasa yang dibuat oleh Citra dan kawan-kawan untuk membuat pernikahan Mikaila dan juga Arthur hancur. semuanya terlihat begitu rapi. karena Naima, menyewa jasa iT untuk memperlancar aksinya itu. dan jadilah saat ini, bukti itu telah terpampang nyata di hadapan Arthur.


Membuat laki-laki itu, seketika menggelengkan kepalanya kuat-kuat."bukan itu bukan aku aku mohon jangan percaya akan hal itu! apakah kamu tidak merasa, bahwa Ini semua perbuatan dari Naima?"tanya laki-laki itu tampak histeris.


sebenarnya Mikaila sendiri sedikit merasa ragu sempat berpikir, bawa itu adalah akal-akalan dari Naima. tapi karena terlalu merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat ditinggal oleh putrinya? membuat wanita itu seketika buta akan segalanya.


"tolong tanda tangan! aku sudah merasa lelah dengan semua ini!"setelah mengatakan hal itu, dua orang pengawal datang menghampiri Arthur dan memaksa laki-laki itu untuk menandatangani berkas yang ada di hadapannya saat ini.


Walaupun susah payah menolak, pada akhirnya Arthur pun kalah. dan membiarkan dirinya menandatangani surat itu

__ADS_1


"mulai sekarang, kita bukanlah siapa-siapa lagi. jalani hidup masing-masing seperti pada awal kita bertemu dulu. jangan saling mengusik satu sama lain."setelah mengatakan hal itu, Mikaila segera pergi dari sana.


__ADS_2