
Beberapa saat kemudian,...
Saat ini Arthur tengah berada di balik jeruji besi. terlihat laki-laki itu begitu sangat menyedihkan tidak ada orang yang mau atau berniat menolong. karena mereka terlalu percaya dengan bukti yang terpampang nyata di hadapan mereka itu.
"bukan aku pelakunya! aku mohon, tolong percayalah padaku!"ucap laki-laki itu dengan nada lirik dan meringkuk di sudut ruangan kecil itu.
Sungguh, mental dari laki-laki itu saat ini benar-benar sangat diuji. Dengan statusnya Yang mendadak berubah menjadi tersangka. membuat laki-laki itu seketika merasa limbung. pikiran laki-laki itu benar-benar sangat buntu.
"aaaakkhh kenapa semuanya menjadi seperti ini?!"tanya laki-laki itu Seraya menjambak rambutnya sendiri karena merasa begitu frustasi dengan apa yang terjadi saat ini.
"Tuan, apakah anda baik-baik saja?"tanya Doni yang berjalan menghampiri.
Membuat Arthur yang mendengar itu, seketika mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah orang yang baru saja menyapa dirinya itu.
"bagaimana apakah kamu mendapatkan apa yang aku inginkan?"tanya Arthur dengan penuh harap.
Doni yang mendengar itu, sejenak terdiam. tak lama berselang, laki-laki yang memiliki kulit sedikit gelap itu menggelengkan kepalanya.
"maafkan saya tuan. tapi memang semua bukti itu mengarah pada Tuan dan tidak bisa diremehkan begitu saja."ucapnya Seraya menundukkan kepala.
Membuat Arthur yang mendengarnya, seketika menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu? aku bukan laki-laki yang gila seperti itu apalagi sampai mengorbankan putriku sendiri tanpa sebab yang jelas! kau pikir aku gila?!"desis laki-laki itu dengan tatapan mata yang begitu tajam.
Doni yang mendengar itu segera menundukkan kepala."maafkan saya tuan. saya tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu. saya hanya,..."
Ucapan dari laki-laki berwajah manis itu seketika terhenti saat mendapatkan tatapan yang begitu mematikan dari Arthur. membuat Doni yang melihat itu seketika memutuskan untuk undur diri dari hadapan Arthur.
__ADS_1
"sialan! bagaimana ini bisa terjadi?!" amuknya Soraya memukul dinding dengan begitu keras hingga membuat ruangan itu seketika bergetar hebat.
Sungguh Arthur sama sekali tidak memperdulikan akan hal itu. yang laki-laki itu pedulikan saat ini adalah, bisa terbebas dari jeretan hukum yang seharusnya memang tidak ditujukan untuknya. lagi pula, kenapa orang-orang itu bisa mempercayai bahwa dirinya membunuh seorang bayi? apalagi bayi itu, adalah darah dagingnya sendiri. itu tidak masuk di akal.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat semua orang tengah berduka di depan sebuah makam kecil yang baru saja ditaburi bunga. Di sana juga ada sosok Mikaila yang sesekali akan jatuh tersungkur karena tidak kuasa menahan sesak di dalam dadanya.
Wanita itu masih tidak mempercayai apa yang ada di hadapannya saat ini. bagaimana bisa seorang suami dan seorang ayah, mampu melakukan tindakan sampai sejauh itu. apakah Arthur memiliki dendam karena sempat menghubungi penolakan? Jika iya, maka Mikaila, akan semakin membenci laki-laki itu.
"aku tidak menyangka kau akan melakukan hal ini."ucap wanita itu dengan nada suara yang sangat lirih dan juga penuh dengan kepiluan. di sana juga hadir keluarga dari suaminya itu.
Namun mereka semua dilarang untuk menyentuh Mikaila. karena dapat ditakutkan, wanita itu akan histeris jika melihat keluarga dari orang yang telah menghilangkan nyawa Putri mereka.
"kita pulang ya sayang?"ajak Ruri pada putrinya itu dengan begitu lembut dan menggenggam tangan Mikaila dengan penuh kasih sayang.
Mereka pada akhirnya menurut. karena semuanya melihat betapa rapuhnya Mikaila saat ini. mereka tidak ingin mengganggu wanita itu. biarkan hatinya tenang terlebih dahulu. karena menurutnya, ini tidaklah mudah siapapun akan bersikap sama seperti Mikaila.
"maafkan Mimi sayang."ucap wanita itu seraya mengusap batu nisan kecil yang terpasang di sana.
Sementara itu tak jauh dari tempat Mikaila saat ini, terlihat seseorang yang tertawa dengan begitu puasnya. dengan segera, wanita itu mengangkat ponsel dan mengarahkan kamera untuk mengambil gambar. dan setelah itu mengirimkannya pada seseorang yang jauh di negara Eropa sana.
(aku sudah memberikan pelajaran yang berharga untuk wanita ini. bagaimana apakah kau senang?)
Citra seketika tersenyum simpul. wanita itu segera pergi dari sana setelah mendapatkan emoticon jempol dari Naima. sebelum Wanita itu benar-benar pergi, Citra sempat menengok ke belakang untuk beberapa saat.
"aku harap kau tidak akan pernah bahagia."setelah mengatakan hal itu, Citra benar-benar pergi dari sana.
__ADS_1
****
Oeeekk Oeeekk Oeeekk
Terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring. membuat siapa saja yang mendengar itu, akan langsung menghentikan laju kendaraannya. dan entah kebetulan atau apa, saat itu yang melintas di jalanan itu adalah mobil milik keluarga Fandy. laki-laki yang gagal dijodohkan dengan keluarga warden.
Mereka semua baru saja menghadiri sebuah acara perjamuan makan siang di suatu restoran.
"eh sebentar, aku seperti mendengar sesuatu."ucap Ratih Seraya menyuruh semua orang untuk menggantikan pembicaraan mereka. dan hal itu langsung disetujui oleh mereka semua. karena mendadak, suasana di dalam mobil itu menjadi begitu hening.
Oeeekk Oeeekk Oeeekk
Semua orang yang ada di dalam mobil itu seketika membulatkan kedua mata masing-masing saat mendengar suara yang begitu nyaring di sekitaran mereka.
"kita berhenti dulu!"titah Ratih tak terpetakan. membuat semua orang yang mendengar itu seketika menurut dan mereka semua segera keluar dari mobil itu.
"astaga!" pekik salah satu dari mereka dengan raut wajah yang begitu terkejut. Hal itu membuat Ratih yang mendengarnya, segera menghampiri sumber suara itu.
Mereka semua tampak menganga karena tidak percaya dengan apa yang mereka temukan ini. tanpa pikir panjang lagi, Ratih segera membawa bayi itu dan merengkuhnya dengan begitu erat.
"kenapa ada orang yang tega membuang bayi seperti ini?"tanya Arga Seraya menatap ke sekeliling yang terlihat begitu sunyi dan juga sepi.
"sudahlah! lebih baik, kita bawa dulu bayi ini mungkin ini rencana Tuhan karena kasihan pada kita yang sudah tidak memiliki keturunan."sahur Ratih dengan raut wajah berbinar.
"apa maksudmu? bukankah kita masih memiliki Fandy?"tanya Arga dekat raut wajah tidak terima.
membuat sang istri yang mendengar itu, seketika memutar bola mata malas."jangan kau sebut anak yang sudah membuat keluarga kita malu! aku masih kesal dengannya!" ujar Ratih dengan raut wajah tidak suka. dan tanpa pikir panjang lagi, mereka semua segera pergi dari sana.
__ADS_1