Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 52


__ADS_3

Dan pada akhirnya, Arthur memutuskan untuk mengalah terlebih dahulu. apalagi mengingat bagaimana kondisi istrinya saat ini. Entahlah, apakah wanita itu masih pantas ia sebut sebagai istrinya atau bahkan mantan. setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu.


"ini semua gara-gara aku! andai saja, waktu itu aku langsung menolak saat Naima memelukku, mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi."ucap Arthur penuh dengan penyesalan.


Sementara orang-orang yang ada di dalam mobil bersama dengan laki-laki itu, hanya dapat terdiam. mereka semua sepertinya juga menyalahkan Arthur akan hal ini. terutama Oma Juwita.


Wanita renta yang memang sedari awal telah menaruh hati pada gadis bernama Mikaila itu, begitu sangat menyayangkan dan juga mengutuk perbuatan dari wanita tidak tahu diri itu. dan juga ketidaktegasan Arthur sebagai seorang laki-laki. sehingga hal itu bisa terjadi dengan mudahnya.


"lain kali, apa-apa itu harus dipikir dulu. jangan sampai menyesal di kemudian hari. karena memang penyesalan itu, berada di akhir kisah."setelah mengatakan hal itu, Oma Juwita segera pergi keluar dari dalam mobil. bertepatan dengan mobil itu, yang telah berhenti di halaman rumah keluarga Stanley.


Satu persatu dari mereka mulai turun dari dalam mobil. hingga tak lama berselang, hanya tersisa Arthur dan juga Claudia.


"Bu,"panggil Arthur pada wanita paruh baya yang telah berjasa melahirkannya itu. namun masih tidak ada jawaban dari si pemilik tubuh yang dipanggilnya ibu itu.


"Bu, jangan seperti ini. tolong bantu aku. bagaimana caranya, agar aku bisa menaklukkan hati Mikaila kembali. apalagi setelah kejadian ini, aku yakin mereka semua tidak akan pernah ada yang ingin melihatku berada di dekat wanita itu."ungkap Arthur dengan nada suara sedikit bergetar karena menahan sesak di dalam dada.


Tak lama berselang, tubuh kekar laki-laki itu berguncang hebat. menandakan, bahwa laki-laki itu saat ini tengah menangis tersedu-sedu.


"maafkan Ibu sayang. ibu sama sekali tidak bisa membantumu. karena ini semua, di luar kendali ibu."ucapnya Seraya mengusap lembut kepala Arthur yang bersandar di pangkuannya.


Membuat tubuh laki-laki itu, semakin bergetar hebat. tangisan laki-laki itu juga, Terdengar sangat pilu dan juga mengiris hati siapapun yang mendengarnya. terutama Claudia. bagaimana mungkin seorang wanita yang pernah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkannya, mampu bersikap acuh Tak acuh seperti itu. Claudia rasa, hanya seorang ibu yang tidak punya hati yang mampu melakukan hal itu.


Setelah beberapa saat kemudian berhasil menumpahkan rasa yang berkecamuk di dalam dada, Arthur memutuskan untuk turun dari dalam mobil itu bersama dengan Claudia tentunya.

__ADS_1


"untuk saat ini, kita hanya mengharapkan keajaiban dari Tuhan dan juga kemurahan hati dari keluarga istrimu. karena jika tangan Tuhan sudah bermain dan membalikkan hati istrimu menjadi lembut kembali, tidak menutup kemungkinan keluarganya yang masih membatu. jadi, yang dapat kamu lakukan saat ini, hanyalah bersabar."ucap wanita paruh baya itu Seraya menepuk punggung dari Arthur untuk mencoba menenangkan laki-laki itu.


****


Dengan langkah yang sangat gontai, laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya. dan merebahkan tubuhnya di ranjang Soraya memejamkan mata. tak terasa, cairan bening itu kembali lolos dari kedua kelopak matanya.


"aku harap, kamu dan juga anak kita baik-baik saja. karena aku, tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri Jika sesuatu hal terjadi pada salah satu diantara kalian."gumam Arthur Seraya membuka mata dan menatap langit-langit kamar pribadinya.


tok tok tok


Tak lama berselang, terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.


"sayang waktunya makan malam!"panggil Claudia dari balik pintu itu.


Sebenarnya, laki-laki itu merasa sangat malas jika harus turun dan beranjak dari tempat tidur. namun suara cacing yang berdemo di dalam perutnya, memaksa laki-laki itu untuk segera mengisi asupan gizi di dalam tubuhnya. lagi pula, besok pagi ia berencana ingin mendatangi Mikaila kembali karena sangat mengkhawatirkan wanita itu.


"apakah kalian tidak ada yang ingin membantuku lagi?"tanya Arthur setelah selesai menyantap makanan dan juga menatap suasana yang begitu hening.


"kami sudah semaksimal mungkin membantu. tapi mantanmu itu malah mengacaukannya!"tandas Oma Juwita melirik tajam ke arah sang cucu.


Seketika itu pula, Arthur merasa sangat frustasi. laki-laki itu bahkan menjambak jemputnya sendiri. membuat Claudia yang melihat itu, sebenarnya merasa sangat kasihan. namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. memaksa seperti dulu? tentu saja Claudia tidak akan pernah melakukan hal itu. karena jika hal itu sampai terjadi, akan ada hati yang tersakiti dan juga Mikaila yang semakin membencinya.


Pada akhirnya mereka semua membubarkan diri sesaat setelah makanan itu benar-benar habis di dalam piring masing-masing.

__ADS_1


***


Sementara itu di dalam sebuah ruangan VVIP rumah sakit, terlihat seorang wanita yang baru saja membuka mata. siapa lagi orang itu jika bukan Mikaila.


Wanita yang tengah mengandung tiga bulan itu, baru saja tersadar. dan hal itu sukses membuat semua orang yang ada di sana, seketika bernafas dengan lega.


"untung lu nggak kenapa-napa!"ucap Aditya Seraya memeluk tubuh sepupunya itu dengan erat. hingga tak jarang, Mikaila meringis karena merasa sakit.


"pelan-pelan Dia sedang sakit!"tegur Sarah dengan tatapan yang sangat tajam seperti seorang ibu yang tengah memarahi seseorang yang melukai putrinya sendiri.


Aditya seketika mendengus kesal. Namun demikian, laki-laki itu tetap menuruti perintah dari sahabat sepupunya itu.


"bagaimana Sayang apakah ada yang sakit?"tanya Ruri Seraya mengelus kepala dari putrinya itu.


Mikaila menggeleng."sudah tidak terasa sakit lagi sih Ma. tapi sesekali, masih terasa nyeri di pinggang."jawab wanita itu dengan senyuman.


"apakah mau dipanggilkan dokter?"tanya Winarto dengan raut wajah khawatir. dan hal itu mendapatkan gelengan kepala dari si pemilik badan.


"mau ke mana?"tanya mereka semua serempak saat melihat Mikaila hendak bangkit dari tempat tidur. sesaat, wanita itu terlonjak kaget. namun tak lama berselang, senyuman manis seketika terbit dari wajah cantiknya.


"cuma mau ke kamar mandi."jawabnya masih dengan senyuman hangat.


"mau diantar sama Mama?"tanya Ruri menawarkan.

__ADS_1


Membuat pandangan Mikaila, seketika beralih ke kedua sahabatnya. seolah mengerti akan tatapan dari wanita hamil itu, Sarah dan juga Hana segera datang menghampiri.


"sama kami aja Tante."ucap mereka cepat Seraya menggiring Mikaila untuk masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2