
Entah bagaimana ceritanya, Mikaila dan juga Mbok Marta berlari dan menghindar dari orang-orang itu. yang jelas saat ini, mereka telah terbebas dari orang-orang itu.
Tentunya Hal itu membuat Mikaila dan juga Mbok Marta yang menyadarinya, merasa begitu lega dan juga bahagia.
"kalau begitu, Mbok pergi dulu ya."pamit wanita paruh baya itu Seraya berjalan untuk keluar dari area rumah yang ditempati oleh Mikaila.
"jangan!"cegah wanita hamil itu Seraya menarik tangan dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.
"Nona jangan seperti ini. saya hanya tidak ingin, non Mikaila kembali mendapatkan masalah hanya karena saya. Mungkin memang sebaiknya, saya pergi saja dari sini. agar Nona Mikaila, tidak mendapatkan musibah.
Tanpa mengindahkan permintaan dari wanita paruh baya itu, Mikaila segera membawanya masuk ke dalam rumah dan menguncinya. dalam keadaan seperti itu, sungguh sebenarnya Mikaila begitu takut. apalagi saat ini, posisinya terbilang cukup lemah karena membawa dua nyawa sekaligus di dalam raganya.
Namun, wanita itu tidak bisa untuk tidak menolong wanita yang telah sukarela merawatnya selama ada di sini.
"sebaiknya aku segera menghubungi Sarah dan juga Hana. siapa tahu saja, mereka bisa membantuku."ucap Mikaila pada akhirnya.
Namun demikian, wanita itu sedikit meringis saat mengetahui fakta bahwa dirinya hampir saja melupakan dua sahabatnya itu.
("halo tumben kau menghubungi kami? memangnya ada apa?") tanya Sarah dan juga Hana secara bersamaan. karena saat ini mereka bertiga tengah melakukan sambungan video call secara bersama-sama.
"maafin aku ya. tapi sekarang, kalian bisa datang ke sini atau tidak?"tanya Mikaila dengan raut wajah yang sangat sendu dan juga sedikit serius.
("ke mana memangnya?") tanya Sarah dengan raut wajah yang sangat penasaran.
Dengan perlahan tapi pasti, wanita yang tengah berbadan dua itu segera menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya. tentunya Hal itu membuat Hana dan juga Sarah yang mendengarnya, merasa sangat terkejut. dan pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk menyusul Mikaila ke tempat persembunyiannya.
("oke. nanti malam, kita berdua akan segera sampai.")
Sontak saja, kedua mata Mikaila berbinar saat mendengar penuturan dari kedua sahabatnya itu.
"oke kalau begitu. aku tunggu kalian di sini! tapi..."ucapan Mikaila terhenti disusul dengan raut wajah yang sedikit menegang. hingga membuat Hana dan juga Sarah yang melihat itu, sedikit merasa heran.
__ADS_1
("tapi kenapa Mikaila?")tanya Hana menatap khawatir ke arah sahabatnya itu.
"tapi aku mohon, jangan pernah beritahu kepada siapapun jika aku ada di sini. karena aku benar-benar sedang menghindar dari orang-orang itu."jawabnya penuh dengan keseriusan.
Sarah dan juga Hana kembali menganggukkan kepala.("kamu tenang saja Mikaila. kami juga merasa sangat sakit hati saat mendengar ceritamu itu.")
Setelah perbincangan dari mereka itu, perasaan dari Mikaila, begitu tenang dan juga lega. tanpa basa-basi lagi, wanita yang tengah berbadan dua itu, segera menghampiri Mbok Marta untuk mengatakan semuanya.
"apakah kamu yakin?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah yang masih terlihat sangat ragu.
"Mbok Marta tenang saja. mereka berdua itu, tidak bisa dianggap remeh."jawabnya meyakinkan.
"Ya sudah kalau begitu terserah kamu saja."setelahnya, Mbok Marta segera pergi dari sana.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat Sarah dan juga Hana yang baru saja mengemasi pakaiannya. dan saat ini, tengah berada di sebuah apartemen. yang tak lain, adalah milik Sarah.
"apakah kau sudah mengerahkan semua pasukan?"tanya Sarah pada sahabatnya.
Di saat mereka berdua ingin masuk ke dalam taksi yang akan membawa keduanya, tak sengaja mereka berdua bertemu dengan Aditya.
Kontan saja, mereka segera menghentikan aktivitasnya. apalagi saat Aditya, berjalan menghampiri mereka. membuat keduanya, sedikit merasa salah tingkah.
"kalian sahabat Mikaila, kan?"tanya laki-laki bertubuh jangkung itu to the point.
"I.. iya memangnya ada apa?"tanya Hana dengan nada suara sedikit terbata-bata.
"apakah kamu tahu di mana keberadaan Mikaila? karena sudah beberapa hari ini, dia susah sekali untuk dihubungi."aduh laki-laki itu dengan raut wajah cemasnya.
Sebenarnya, Hana dan juga Sarah merasa tidak tega karena harus membohongi laki-laki itu. namun keduanya sudah terlanjur berjanji untuk tidak mengatakan semuanya pada siapapun termasuk juga pada keluarganya sendiri.
__ADS_1
"kenapa lu malah tanya kita? bukannya lu keluarganya? Aneh bukan, jika keluarganya saja tidak tahu di mana keberadaan Mikaila?"tanya Sarah sarkas.
Membuat Aditya yang mendengar itu seketika terdiam. dan membuat Hana yang mendengar itu, merasa tidak enak. namun bagaimana lagi, permusuhan antara sahabat dan juga sepupu dari Mikaila itu, Tidak bisa dihindarkan lagi.
"dia sudah lama menghilang. kami semua, tidak bisa untuk menghubunginya."ucap Aditya dengan nada pasrahnya.
Hal itu sempat membuat Hana dan juga Sarah sejenak terdiam. karna baru pertama kali ini, melihat raut wajah menyedihkan dari laki-laki menyebalkan seperti Aditya.
"kenapa lu tidak berusaha untuk berkunjung ke rumah suaminya?"tanya Hana pada akhirnya.
Aditya menggelengkan kepalanya."mereka selalu sibuk dan seperti menghindar saat gue mencoba untuk mencari keberadaan Mikaila."ucapnya dengan wajah ditekuk.
Tak lama berselang, kedua bola mata dari Aditya membulat sempurna saat sebuah pemikiran melintas cepat di hadapannya.
"jangan-jangan..."ucapan Aditya menggantung di udara. membuat Sarah dan juga Hana, semakin merasa was-was.
"jangan-jangan apa?!"tanya Sarah dengan cepat.
"jangan-jangan Mikaila dimutilasi dan jasadnya, dibuang entah ke mana. makanya, keluarga mereka susah untuk dihubungi?"tebak Aditya Semakin jauh.
plak
Sarah dengan cepat menampar punggung milik Aditya. hingga membuat si pemilik tubuh, meringis karena merasakan panas di bagian itu.
"kenapa lu malah mukul gue?"tanya laki-laki itu Seraya melayangkan tatapan tajam pada wanita yang menyebalkan di hadapannya itu.
"karena pemikiran lu itu ngaco!"dengus Sarah dengan nada suara sewot.
"apanya yang ngaco? yang gue pikirin Ini benar, kan? jika mereka baik-baik saja, mereka tidak akan menghindar seperti itu."ucap Aditya yang menurut Hana dan juga Sarah masuk akal.
Namun, hal itu adalah ungkapan yang sangat salah. karena pada kenyataannya, tidak seperti itu. namun Sarah dan juga Hana, tidak mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya pada laki-laki itu. karena mereka berdua, sudah terlanjur janji pada Mikaila sang sahabat.
__ADS_1
"udahlah kita ada urusan! Sebaiknya, lu pergi aja Dari sini!"setelah mengatakan hal itu, Sarah segera masuk ke dalam taksi. disusul oleh Hana yang sesekali akan menoleh ke arah Aditya yang masih berdiri di tempatnya. ada perasaan sedikit tidak enak pada laki-laki itu.
Namun sekali lagi, Hana tidak bisa berbuat apa-apa. karena itu, menyangkut sebuah janji yang harus ditepati pada Mikaila.