
setelah menghabiskan makanan dan juga minuman itu, Moza mengajak Mikaila untuk kembali ke teras rumah milik keluarga Wardani. karena bocah kecil itu, sangat merasa tidak nyaman jika harus satu tempat dengan laki-laki yang bernama Aditya. karena memang dari tadi, laki-laki yang merupakan kakak sepupu dari Mikaila itu sesekali akan menyindir.
Tentunya hal itu membuat semua orang yang ada di sana, merasa geram sendiri. tak terkecuali Mikaila dan juga kedua orang tuanya. mereka bertiga rasanya ingin sekali mengusir laki-laki itu dan menendangnya keluar dari kediaman Wardani.
Bagaimana tidak merasa kesal, kalau anak sekecil itu dibully terus-terusan. hingga membuatnya, seketika merasa tidak nyaman dan seringkali meminta pulang.
Beruntungnya, Gadis itu menurut saat Mikaila mengatakan akan mengajaknya ke tempat yang sejuk. namun sebelum itu, mereka akan bersinggah di teras rumah.
"Moza!"panggilan dari seseorang dari arah pintu gerbang, membuat bocah kecil itu seketika menoleh. dan tak lama berselang, kedua bola mata gadis kecil itu berbinar dengan ceria.
"Pipi!"teriak Gadis itu dengan suara yang begitu girang. dan dengan perlahan tapi pasti, Gadis itu segera turun dari pangkuan Mikaila dan langsung berlari untuk menghampiri Fandy yang memang sudah tersenyum dan berjalan ke arahnya.
"gimana keadaan kamu di sini kamu senang, kan?"tanya Fandy Sera yang mengusap kepala milik bocah kecil itu.
Gluk
Seketika itu pula secara susah payah, Mikaila mencoba untuk menelan salivanya sendiri. Karena Wanita itu sangat takut jika bocah kecil yang ada di hadapannya saat ini mengadu kepada Fandy. tentunya, Mikaila tidak ingin kehilangan Moza karena sudah benar-benar akrab dan entah mengapa, ikatan batin di antara mereka benar-benar sangat kuat.
Sehingga Mikaila semakin tidak ingin kehilangan Moza apapun Yang terjadi.
"tadi Moz--"
"Moza sayang kamu mau makan rainbow cake lagi atau enggak?"tanya Ruri dari Abang pintu. membuat gadis kecil itu, tidak jadi melanjutkan perkataannya.
Membuat Mikaila seketika dapat bernafas dengan lega. wanita itu segera memalingkan wajahnya untuk membuang nafasnya kasar.
Dengan gerakan cepat, gadis kecil itu pun menganggukkan kepala dan langsung ikut masuk bersama dengan Ruri. namun sebelum itu, Moza sempat menoleh ke arah Fandy mencoba untuk meminta izin pada laki-laki itu. dan langsung dijawab anggukan kepala olehnya.
"duduk Fan."perintah Mikaila pada Fandy. karena sejak tadi, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu hanya berdiri seperti patung yang ada di toko-toko pakaian.
"mau minum apa?"tanya wanita itu Seraya tersenyum simpul. dan itu hampir membuat Fandy, ikut tersenyum dan terpana melihat pemandangan yang begitu manis di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"es jeruk Sepertinya enak."jawabnya Seraya terkekeh pelan. dan hal itu langsung dijawab anggukan kepala oleh si tuan rumah.
Tak lama berselang, seseorang datang dengan membawa pesanan mereka beserta dengan kue pelangi yang memang khusus dibuatkan untuk Moza.
"aku mau ngajak kamu ke mall. apa kamu mau?"tanya laki-laki itu menatap ke arah Mikaila dengan tatapan ragu.
hening....
Sejenak, Mikaila terdiam untuk memikirkan sesuatu. hingga tak lama berselang, wanita cantik itu pun menganggukkan kepala. dan Hal itu membuat Fandy seketika tersenyum lebar.
"eh, kalian mau ke mana?"tanya Ruri yang terkejut saat melihat putrinya bangkit dari duduk dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
"eh Mama aku sama Fandi mau ke mall."beritahu Mikaila pada wanita paruh baya itu.
Mendengar kata 'mall' Moza yang berada dalam gendongan wanita paruh baya itu pun seketika berbinar. dengan segera turun dari gendongan dan langsung melangkahkan kakinya untuk mendekati sang Papa.
"Moza diajak kan, Pi?"tanya Moza dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.
"nggak! Moza nggak diajak."ucapnya dengan nada suara tegas dan juga raut wajah marah.
Seketika itu pula raut wajah bocah kecil itu menjadi sendu. tak lama berselang, terdengar suara pisahkan tangis di bibir kecilnya.
"eh sayang kok malah nangis kenapa?"tanya Mikaila. dengan raut wajah terkejut karena wanita itu, baru saja kembali dari dalam rumah untuk mengambil tas selempangnya. malah mendapatkan pemandangan mengejutkan seperti itu.
"nggak diajak Papanya ke mall."jawab Ruri dengan enteng Seraya melirik ke arah Fandy yang malah melipat kedua bibirnya menahan tawa.
"benar itu Fan?"wanita itu dengan pelototan tajam.
"nggak, aku bercanda kok aku bercanda!"seru laki-laki itu panik saat melihat tangan dari Mikaila terangkat ke udara memegang sebuah sepatu high heels dan mencoba untuk memukul laki-laki itu.
Tentunya, Fandy yang melihat itu langsung menghindar. dan jadilah aksi kejar-kejaran di antara mereka berdua. dan hak itu membuat Moza yang awalnya masih menangis karena penolakan dari ayahnya itu, seketika langsung tertawa.
__ADS_1
"awas ya kamu Moza! Pipi nggak akan ngajakin kamu lagi!"ancam Fandy pada putrinya itu. membuat Moza seketika terdiam.
Puk
Satu timpukan seketika mendarat mulus di kepala laki-laki itu hingga membuatnya seketika meringis.
"ngomong apa kamu?!" tanya wanita itu dengan galak membuat Fandy seketika kicep.
Pemandangan itu sukses membuat orang-orang yang ada di sana, melongo karena mereka tidak menyangka seorang yang tidak akur di masa lalu, bisa kejar-kejaran seperti ini.
"ampun Mikaila!"teriaknya memohon ampun.
Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Mikaila mengiba. justru wanita itu semakin beringas untuk memukuli Fandy.
Beberapa saat kemudian...
"sudah Mikaila, aku capek."ujarnya Seraya mengangkat tangan dan melambaikan bendera putih tanda menyerah.
Wanita itu pun juga ikut menghentikan aksinya dan ikut duduk di samping Fandy. kemudian dengan segera Moza menghampiri mereka berdua Dan duduk di tengah-tengah keduanya.
"ini Moza bawakan minuman."tangan mungil dari bocah kecil itu, seketika terulur memberikan dua botol minuman pada Fandy dan juga Mikaila.
"Terima kasih sayang!"tanpa sadar, mereka berdua mengatakan hal yang sama dan di waktu yang sama pula. membuat mereka, sejenak terdiam dan tak lama berselang, saling pandang satu sama lain.
"katanya mau pergi ke mall. kenapa malah kejar-kejaran seperti ini?"tanya Ruri seolah meledek mereka berdua.
puk
Fandy seketika menepuk keningnya sendiri. karena laki-laki itu hampir saja melupakan tujuannya datang kemari. selain ingin menjemput Moza, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, juga ingin mengajak Mikaila untuk pergi ke mall karena ada sesuatu yang ingin dibeli olehnya.
"tapi kan aku baru keringetan." Protes wanita itu Seraya mengangkat kedua tangannya dan mencium di bagian itu
__ADS_1