
Beberapa saat kemudian,....
"tante, tante udah ngerasa bahagia apa belum hatinya?"tanya Moza dengan ekspresi yang begitu menggemaskan. membuat Mikaila sendiri, tidak tahan untuk tidak menciumnya.
Hingga beberapa kali, wanita cantik itu menguyel pipi dari gadis kecil itu karena sangking merasa gemas dengan tindakan yang dilakukan olehnya.
Bukannya marah atau merajuk, gadis imut dan menggemaskan itu justru menambah volume tertawanya. hingga membuat orang-orang yang ada di sana, sepakat menoleh dan ikut tersenyum saat melihat kehangatan dari keluarga itu.
Yap pemandangan yang kali ini disuguhkan, persis seperti sebuah keluarga yang begitu bahagia. ada kedua orang tua yang lengkap, dan juga ada seorang anak kecil yang begitu menggemaskan.
Walaupun di dalamnya, ada sebuah hubungan yang retak antara dua insan itu.
"kenapa Tante tidak pernah datang ke rumah seperti dulu lagi?"pertanyaan polos dari Moza, membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika tersentak kaget.
Refleks, wanita cantik itu menoleh ke arah Fandy yang juga ternyata tengah menatapnya dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
"Tante sedang sibuk Sayang."jawab wanita itu dengan ekspresi wajah sekenanya.
"lalu, kapan akan main lagi sama Moza? Moza kangen Tante."ucapnya dengan nada suara yang begitu lirih.
Membuat Mikaila sendiri, seketika merasa tidak tega karena melihat bagaimana respon dan raut wajah dari gadis kecil itu. sebenarnya, wanita cantik itu juga merasakan hal yang sama. dia merasa begitu berat karena harus berpisah dengan gadis yang sudah ia engkau sebagai Putri kandungnya sendiri itu.
Entahlah kenapa Mikaila bisa berpikir seperti itu? Padahal, wanita itu kan juga membangun panti asuhan yang isinya juga anak-anak? tapi entah mengapa, saat bersama dengan Moza, auranya menjadi berbeda seperti itu. sampai saat ini pun, Mikaila masih belum mengerti apa yang terjadi kepada hidupmu itu.
__ADS_1
"emmm Tante..."
"besok tante akan main ke rumah."putus Fandi secara tiba-tiba menyela omongan dari Mikaila. membuat wanita itu sendiri, seketika terperangah kaget. karena Mikaila sendiri merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki yang sebenarnya sudah mulai memasuki ruangan di hatinya itu.
"kenapa kamu memutuskan sepihak seperti itu?"tanya Mikaila dengan nada suara yang berbisik.
"apakah kau ingin melihat anakku bersedih karena penolakanmu?"bukannya menjawab, Fandy justru balik bertanya. hingga membuat Mikaila, seketika terdiam.
Karena memang wanita itu, tidak akan pernah bisa untuk bersikap tega pada gadis kecil yang sudah benar-benar mengisi jiwa dan raganya itu.
"lalu bagaimana dengan ibumu?"tanya wanita cantik itu sesaat setelah terdiam cukup lama.
"kau tenang saja. aku, akan selalu berada di sampingmu saat nanti kau berkunjung ke rumahku. dan aku akan pastikan, ibuku tidak akan pernah macam-macam. lagi pula di sana kan, ada Moza. Mana mungkin, ibuku akan berani untuk berkata sesuatu hal yang tidak baik padamu Jika ada anak kecil?"Lagi Dan Lagi, laki-laki itu malah bertanya. membuat Mikaila yang mendengar itu, merasa begitu kesal.
kenapa selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi? sungguh sangat menyebalkan! Batin Mikaila menggerutu kesal.
Bahkan, laki-laki itu sama sekali tidak menghiraukan bentakan dan juga teriakan dari Naima yang sudah mencak-mencak seperti seseorang yang kehilangan kewarasannya.
"kenapa kau masih ada di sini?!"tanya wanita itu dengan nada suara yang begitu tinggi. bahkan saking tingginya, pada beberapa orang yang menatap itu dengan tatapan sedikit aneh.
Mungkin mereka semua merasa, jika Arthur adalah seorang laki-laki yang takut dengan istrinya. buktinya setelah dibentuk seperti itu, tidak ada respon yang berarti yang dilakukan oleh laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu. padahal yang terjadi sebenarnya adalah, Arthur sama sekali tidak memperdulikan ucapan dan juga ocehan dari wanita yang ada di sebelahnya itu.
Mata dan juga hatinya masih fokus untuk mengagumi dan menatap mikayla yang seperti itu bahagia bersama dengan keluarga kecilnya. ah, ngomong-ngomong tentang keluarga kecil? laki-laki itu menjadi sangat iri pada Fandy.
__ADS_1
Bagaimana tidak iri, jika laki-laki yang pernah melakukan kejahatan itu sudah mendapatkan kebahagiaan yang terlebih dahulu. sementara dirinya, tidak pernah melakukan hal itu justru malah tertuduh dan berada di dalam kurungan selama bertahun-tahun. sungguh mengingat hal itu saja, membuat Arthur merasa begitu sakit.
Sementara itu, tampak sebelahnya Naima tampak sangat geram. dengan gerakan terburu-buru yang terlihat begitu kasar, wanita itu segera menarik tangan dari Arthur membawanya keluar dari dalam mobil. dan setelahnya, menggiring laki-laki itu seperti seekor hewan peliharaan. dan aksinya itu, sukses membuat orang-orang yang ada di sana menatap prihatin pada Arthur.
"hai kalian apa kabar?!"Naima langsung duduk tepat di hadapan Mikaila dan juga Fandy. begitu wanita itu, tiba di taman kota itu.
Membuat ketiga orang yang tengah berbincang-bincang dengan hangat, seketika langsung mendongakkan kepalanya. ada reaksi terkejut yang ditunjukkan oleh Mikaila untuk beberapa saat. walaupun setelahnya, wanita itu kembali bersikap biasa saja.
"ada apa?"tanya Fandi dengan raut wajah yang sepertinya tidak bersahabat menatap ke arah sepasang manusia yang akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi itu.
"nggak ada apa-apa aku ke sini cuma mau ngasih ini aja."setelah mengatakan hal itu, Naima segera menyodorkan sebuah undangan yang berwarna emas kepada Fandy dan juga Mikaila.
"jangan lupa datang ya!"ucapnya dengan senyuman yang penuh dengan arti.
Mereka berdua hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hal itu membuat Naima sedikit merasa terkejut. diam-diam, wanita itu mengepalkan kedua tangannya.
'kurang ajar mereka berani-beraninya mengabaikanku. terutama Fandy. apakah dia sudah tidak ingin menerima bantuanku lagi?'batin wanita itu Seraya membuang muka ke arah lain.
"euuumm Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu."setelah mengatakannya, Arthur dan juga Naima pergi dari sana dengan perasaan yang begitu campur aduk di antara keduanya.
****
"apakah kamu baik-baik saja?"tanya Fandy saat sudah memastikan Mereka telah pergi dari sana.
__ADS_1
"apa maksudmu?"bukannya menjawab, Mikaila justru bertanya dengan raut wajah yang begitu tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"tidak ada apa-apa. aku hanya mengira, bahwa kau masih memiliki perasaan pada laki-laki itu. sehingga kau memutuskan hubungan kita secara sepihak seperti ini."ada nada suara yang begitu ketus yang terdengar dari kata yang terlontar dari bibir laki-laki itu.