
Beberapa saat kemudian,...
Saat ini, Mikaila dan juga Fandy tengah berada di depan halaman rumah milik keluarga laki-laki itu.
Mikaila tampak gelisah. sepertinya wanita cantik itu tengah merasa tidak nyaman saat ini. mungkin saja, dia tengah memikirkan bagaimana nanti jika dirinya kembali ditolak seperti hari-hari sebelumnya.
Mungkin akan lebih sakit dari sebelumnya. karena saat ini, hati dari wanita cantik itu sudah mulai merasa begitu nyaman dan sudah memiliki perasaan yang lebih pada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
Sementara Fandy, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, hanya menatap sekilas ke arah wanita yang ada di sampingnya saat ini.
"apakah kamu memikirkan sesuatu?"tanya laki-laki itu Seraya menatap pada Mikaila. membuat wanita itu, seketika menatap Fandy, dengan raut wajah kesalnya.
Udah tau lagi kesel, kenapa malah di tanya? batin Mikaila mengomel kesal. Namun demikian, Mikaila tetap menunjukkan sikap yang begitu ceria tanpa adanya cacat sedikitpun. padahal di dalam hati wanita itu saat ini, tengah dilanda kecemasan dan juga kesal yang secara bersamaan.
"Tante!!"
Atensi dari kedua orang itu seketika teralihkan saat mendengar suara seseorang yang memanggil dari arah dalam rumah itu. dan tak lama berselang, Mikaila menyunggingkan senyuman tipis. kemudian dengan segera, melangkahkan kakinya untuk turun dari dalam mobil dan menghampiri bocah kecil berusia 2 tahun itu.
"sayang, kamu apa kabar?"tanya Mikaila Seraya memeluk tubuh dari bocah kecil itu dengan begitu erat dan juga penuh dengan kerinduan.
"aku baik tante."sahut gadis kecil itu Seraya membalas pesan yang begitu hangat dari Mikaila.
Sementara Fandy yang berada dalam antara dua wanita itu, hanya dapat tersenyum. karena entah mengapa di dalam hati laki-laki itu saat ini juga sedikit merasa bergetar akibat penambangan yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"kok cuma tante aja yang dipeluk? Pipinya nggak dipeluk?"tanya laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu dengan raut wajah cemberut.
Tentu saja hal itu membuat Moza yang mendengarnya, seketika tertawa lepas. dan tak lama berselang, gadis cantik itu langsung menghampiri laki-laki yang ia sebut sebagai Pipi itu. dan memeluknya dengan begitu erat.
"ternyata anak Pipi sudah besar."gumam laki-laki itu Seraya menitihkan air mata. Entahlah. mengapa Fandy bisa sampai mengeluarkan air mata. apakah dia merasa begitu terharu atas perkembangan dari putrinya itu? atau mungkin karena hal lain, Hanya Tuhan dan dia yang tahu.
Setelah saling melepaskan rindu, pada akhirnya ketiga orang yang sudah bisa dikategorikan sebagai satu keluarga yang harmonis itu, melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah mewah milik keluarga Fandy.
Sebenarnya Mikaila sedikit merasa grogi ataupun sungkan saat masuk ke dalam rumah itu. karena Mikaila masih merasa was-was akan mendapatkan penolakan yang lebih buruk dari sebelumnya.
"kalian sudah datang?"tanya Ratih dengan raut wajah sumringah. tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana, menoleh cepat ke arah sumber suara.
Ketiga orang itu menatap Ratih dengan tatapan yang berbeda-beda. Moza dengan tatapan cerianya, Fandi dengan tatapan mengintimidasinya, dan yang terakhir Mikaila. menatapnya dengan tatapan penuh dengan ketakutan dan juga kewaspadaan.
Sementara Ratih, wanita paruh baya itu, malah melangkahkan kakinya dengan riang mendekati Mikaila. dan tak lama berselang, wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh milik wanita itu.
Membuat Mikaila sendiri seketika merasakan sesuatu yang luar biasa. wanita cantik itu bahkan harus menepuk pipinya beberapa kali karena merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Sementara Fandy dan Moza, pasangan ayah dan anak itu menatap pemandangan itu dengan tatapan yang berbeda. Fandi menatapnya dengan ekspresi raut wajah lega. sementara Moza sendiri, menatapnya seperti gadis kecil pada umumnya ceria dan tidak memikirkan beban apapun.
"silakan duduk kenapa masih berdiri saja?!"seruan dari wanita paruh baya itu, membuat ingatan dari Mikaila seakan kembali.
Wanita cantik itu seakan kembali dari rasa terkejutnya. dan dengan secepat kilat, wanita itu langsung mendudukkan diri di samping Fandy dan juga Moza.
__ADS_1
"ayo silakan dimakan ini Tante khusus buatkan untuk kamu loh sayang."ucap Ratih semakin membuat ekspresi raut wajah dari Mikaila begitu sangat terkejut.
'sejak kapan tante Ratih menjadi seperti ini? apakah ini ada rencana lain yang lebih besar yang mereka sembunyikan? oh Tuhan jika memang itu benar, tolong selamatkan aku. 'batin Mikaila menangis pilu.
Sungguh wanita cantik itu merasa sangat ketakutan dengan reaksi yang ditunjukkan oleh wanita paruh baya yang menjadi ibu kandung dari Fandy itu.
"kamu tidak usah khawatir Jika kamu berpikir Mama melakukan hal itu karena sebuah suatu paksaan? kamu salah besar."seperti mengetahui apa yang dipikirkan oleh wanita yang ada di sampingnya itu, Fandy berujar seperti itu.
Membuat Mikaila sendiri yang mendengar itu, seketika menoleh. tatapan mata yang menyiratkan akan keraguan yang begitu dalam. karena baginya, tidak mungkin seseorang bisa berubah secepat itu jika tidak ada maksud lain. itu sangat mustahil.
"apakah kau benar-benar mengatakan hal yang jujur padaku?" tanya wanita itu balas berbisik di telinga Fandy.
'tentu saja memangnya kenapa? apakah kau masih meragukan kebaikan dari ibuku?"tanya laki-laki itu sesekali akan menatap ke arah Ajeng.
"tentu saja. apakah menurutmu aku harus mempercayai omonganmu? bagaimana kalau ternyata Ini adalah sebuah jebakan?"tanya wanita itu dengan raut wajah yang begitu cemas.
Sementara Fandy yang mendengar itu, ketika memutar bola mata malasnya."Tenang saja Nona semua ini tidak akan pernah terjadi. ini adalah murni dari usaha Mama untuk mendekatkan diri padamu."ucapnya Seraya menghela nafas panjang.
Mikaila yang mendengarnya, sejenak terdiam. lama berselang, wanita itu menganggukkan kepala. mencoba untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh laki-laki Yang sebentar lagi akan menjadi pendampingnya itu.
Pada akhirnya wanita cantik itu memutuskan untuk membantu wanita paruh baya Ya sebentar lagi akan menjadi Ibu mertuanya itu.
"apakah ada yang bisa dibantu?"tanya Mikaila sebisa mungkin tersenyum tipis ke arah Ratih. membuat wanita paruh baya, seketika menoleh ke arah sumber suara. tak lama berselang, wanita yang masih terlihat cantik di usia yang sudah sangat tua itu, tersenyum simpul dan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"bisakah tolong kau masak menu seperti ini?"tanya Ratih dengan nada suara yang begitu lembut. membuat Mikaila yang mendengar itu seketika tersenyum tipis dan melakukan kepalanya.