
Beberapa hari kemudian,...
Setelah kejadian itu, hubungan antara Mikaila dan juga Ibu mertuanya, semakin lama semakin membaik. mereka sudah tampak seperti keluarga impian pada umumnya. tentu saja hal itu membuat Arthur yang melihatnya, merasa sangat bahagia karena pada akhirnya dapat melihat dua wanita yang sangat ia sayangi, dapat bersatu kayaknya ibu dan anak.
"kenapa senyum-senyum seperti itu?"tanya Mikaila. saat mereka, tengah berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari kediaman keduanya.
Padahal Mikaila memiliki sebuah restoran sendiri yang juga tampak terkenal. namun wanita cantik itu memilih untuk membawa keluarganya untuk menuju restoran orang lain.
"kenapa sih, kita tidak makan siang di restoran milik Mikaila?"tanya Claudia dengan raut wajah cemberut.
Membuat Mikaila dan juga Arthur yang melihatnya, ketika saling pandang satu sama lain. tak lama berselang mereka berdua tersenyum-senyum saat melihat aksi dan reaksi dari wanita paruh baya itu.
"ya iya ibuku sayang, besok kita akan berkunjung ke restoran menantu kesayangan ibu ini."ucap Arthur Soraya menunjukkan ke arah sang istri dengan ratapan matanya.
Tentu saja itu membuat Mikaila yang mendengarnya, seketika menatap tak percaya ke arah sang suami. "kamu ini apa-apaan sih, Mas? pokoknya aku nggak mau ya, kalau sampai ibu datang ke restoranku."ucap wanita itu penuh dengan penekanan Seraya berbisik di telinga Arthur.
"memangnya kenapa?"tanya Claudia yang ternyata mendengar bisikan dari menantunya itu. tentu saja hal itu membuat Mikaila yang mendengarnya, seketika merasa gelagapan.
"nggg nggak apa-apa kok Bu. aku hanya membahas tentang hal lain pada Mas Arthur."kila wanita itu berbohong.
Claudia yang mendengar itu seketika mencebikkan bibirnya Seraya mendengus kesal."awas ya, pokoknya ibu tidak ingin menerima penolakan dari kalian. terutama dari kamu Mikaila."ucap wanita paruh baya itu kemudian kembali menatap ke arah lain.
Sontak saja, Mikaila menarik tangan dari suaminya itu agar menjauh dari sana. dengan alasan, ingin ditemani oleh sang suami ke toilet. Tentu saja itu membuat Claudia yang melihatnya, merasa curiga. namun wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa. menghadang mereka? itu sama saja membuat kepercayaan anak dan menantunya menjadi runtuh kembali.
__ADS_1
Padahal Claudia, sudah benar-benar menerima dan menyayangi Mikaila sepenuh hati. jangan sampai karena hal ini, mereka kembali menjadi berselisih paham.
***
"kenapa kamu ngajak Mas ke sini?"tanya Arthur Dengan raut wajah kebingungan.
"karena aku, ingin bicara sama Mas."sahut wanita itu dengan cepat. mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan menuju ke belakang restoran yang kebetulan terdapat bangku panjang di sana.
"kamu mau bicara apa sih sayang?"tanya Arthur dengan nada suara yang sangat lembut.
"Mas kenapa mengiyakan usulan ibu? padahal Mas tahu, kan? kalau restoranku itu bukan restoran yang mewah?"protes Mikaila pada sang suami.
Sementara Arthur yang melihat itu, hanya terkekeh pelan. kemudian menggenggam tangan dari istrinya itu dengan sangat lembut.
Mikaila lantas menggelengkan kepalanya."bukan begitu aku hanya merasa malu jika sampai wanita yang telah melahirkan suamiku ini, mengetahui bahwa istri dari putranya memiliki usaha yang terbilang tidak sebanding dengan usaha keluarganya."ucapnya Seraya menundukkan kepala.
Tentu saja hal itu membuat Arthur yang mendengarnya, segera mengangkat wajah istrinya dan membuat mereka saling berhadapan satu sama lain.
"asal kamu tahu keluargaku tidak pernah memandang seseorang dari segi ekonomi."ucap Arthur membuka sebuah fakta dalam keluarga besarnya.
Tentu saja hal itu membuat Mikaila yang mendengarnya, seketika menatap ke arah laki-laki itu. setelah sebelumnya, wanita itu tampak engkau untuk menatap manik kita milik sang suami.
"maksud Mas apa? bukankah Ibu tidak menyetujui hubungan kita karena itu?"tanya Mikaila dengan raut wajah tidak mengerti.
__ADS_1
Arthur menggelengkan kepalanya."bukan. Ibu tidak menyetujui hubungan kita karena mendapatkan suatu fitnah dari Citra."jawab laki-laki itu dengan menatap dalam manik hitam istrinya.
Seketika itu pula, pandangan mata dari wanita itu segera menghangat dan bersahabat. setelah sebelumnya, tampak ada raut kekecewaan dari mata wanita itu.
"apa kamu sudah tenang?"tanya Arthur menoleh dan menatap istrinya.
"tahu dari mana kalau aku sempat merasa kecewa dengan pemikiranku sendiri?"tanya Mikaila Tak habis pikir.
"karena kita suami istri. semua yang ada dalam pikiranmu, itu semua akan aku ketahui dengan mudah."ucapnya Seraya mengusap kedua pipi wanita itu dan menariknya pelan.
"heleh modus!"cibir Mikaila. Namun kedua tangan wanita itu, segera memeluk erat tubuh Sang suami. sementara tangan kekar Arthur, ikut membalas dan mengusap punggung milik istrinya itu.
"apa kamu tidak ingin punya anak?"tiba-tiba saja, pertanyaan dari laki-laki itu memecah keheningan. membuat Mikaila yang mendengarnya, seketika menatap ke arah sang suami.
"siapa yang tidak memiliki anak? aku rasa semua wanita memiliki impian itu."ucapnya dengan senyuman.
Tanpa basa-basi, Arthur segera mengangkat tubuh istrinya ala bride style. membuat Mikaila seketika merasa terkejut.
"eh, mau dibawa ke mana?"tanya Mikaila dengan raut wajah panik dan juga sedikit malu atas ulah suaminya itu. Karena saat ini, banyak pasang mata Yang melihat ke arah mereka dengan sesekali menahan senyum.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan tingkah laku dari Arthur. "sial aku duluan!"umpat orang itu dengan kasar.
Kemudian dengan segera, melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
__ADS_1