Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 56


__ADS_3

Pagi harinya...


Sinar mentari begitu berpijar dengan sangat cerah. sama seperti hati Mikaila saat ini. karena wanita yang tengah berbadan dua itu, benar-benar menemukan kebahagiaan di rumah sederhana milik sang nenek. walaupun mereka harus makan dengan makanan seadanya, namun hal itu sama sekali tidak membuat Mikaila merasa terusik.


Apalagi pagi ini, wanita hamil itu dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya yang secara tiba-tiba. hingga membuatnya, sedikit merasa terkesiap. Namun demikian, wanita itu tetap melebarkan senyumannya. karena memang, Mikaila merasa sangat bahagia saat ini.


"Nenek hari ini masak apa?"tanya Mikaila Seraya berjalan dengan senyum riangnya. membuat wanita sepuh itu, seketika terkekeh pelan. Jika saja, nenek Kamila tidak mengingat bahwa Mikaila sudah menikah, mungkin saja wanita renta itu akan langsung mengomel saat melihat tingkah pecicilan dari cucunya itu.


Namun berhubung Mikaila sudah menikah, wanita renta itu menjadi sedikit segan untuk hanya sekedar memarahinya.


"kok nenek diam aja?"tanya Mikaila dengan raut wajah heran.


Bukannya menjawab, nenek Kamila justru tersenyum mengusap kepala cucunya itu dengan penuh kasih sayang.


"jika tidak mengingat bahwa kamu itu sudah menikah, mungkin nenek akan langsung memarahimu dengan tingkah laku yang baru saja kau lakukan itu!"ujar wanita retak itu Seraya menjawil hidung mancung milik cucunya.


Mendengar penuturan wanita sepuh itu, Mikaila seketika memayunkan bibir mungilnya. hingga tampak lucu di mata nenek Kamila.


"kalau mau marahin Mikaila, marahin aja. memangnya kenapa kalau Mikaila sudah menikah, memangnya akan langsung mendapatkan hukuman begitu?"tanya wanita itu Seraya mendengus kesal.


Sementara nenek Kamila yang mendengar itu, seketika terkekeh pelan. Kemudian dengan segera menarik kedua tangan dari wanita itu untuk masuk ke dalam pelukannya.


"nenek merasa sangat bahagia sayang. semoga saja, kebahagiaan akan selalu menyertaimu."ucapnya Seraya membenamkan bibir tepat di kening Mikaila. membuat wanita itu, seketika langsung memejamkan mata karena menahan rasa nyaman yang luar biasa yang menyeruak di dalam dada.


"kenapa berpelukan seperti ini?"pertanyaan dari seseorang itu sukses membuat kedua wanita itu, seketika tersentak kaget. dan tak lama berselang, keduanya menoleh ke arah sumber suara secara serempak.


"ka.. kapan kalian ada di sini?"tanya Mikaila dengan nada suara sedikit gugup. bagaimana tidak gugup, saat ini wanita yang tengah hamil itu menyaksikan seluruh keluarganya berada di belakang mereka.

__ADS_1


"sejak kamu, berjalan menghampiri nenek."jawab Aditya santai. Mikaila yang mendengar itu, seketika langsung melotot menatap tajam ke arah Kakak sepupunya itu.


"kenapa nggak ngasih tahu aku? kan aku jadi malu!"rengek Mikaila. membuat semua orang yang ada di sana, tertawa secara bersamaan.


Memang selama ini, jika Mikaila tengah bermanja-manja dengan nenek Kamilah, wanita itu tidak pernah memperlihatkan kepada anggota keluarga yang lain. gengsi yang terlalu tinggi, tentu menjadi alasannya.


Karena Wanita itu, tidak ingin dianggap sebagai makhluk Tuhan yang paling lemah. Apalagi oleh para laki-laki yang seringkali mengejeknya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan kaum mereka. salah satu untuk mencegah hal itu semua, Mikaila harus merubah sedikit sikap dan juga sifatnya menjadi berani dan juga tomboy.


"udahlah nggak usah ditutup-tutupi! kami semua juga tahu kali!"seloroh Sarah memecah keheningan.


Membuat Mikaila yang mendengar itu, ketika mencebik. Namun demikian, wanita itu tetap menurut saja saat kedua orang tuanya membawa tubuhnya untuk menuju ke meja makan.


"kamu mau makan apa, sayang?"Tanya nenek Kamila Seraya mengangkat piring bersiap untuk memberikan cucunya menu terbaik di rumah itu.


"biar aku saja Nek nenek nggak usah repot-repot!"ucap Mikaila mencoba untuk mencegah upaya dari wanita sepuh itu. namun hal itu sama sekali tidak ada pengaruhnya.


'semoga pemandangan seperti ini, akan selalu ada dan tidak akan pernah berubah sedikitpun.'batin Mikaila Seraya melanjutkan makannya.


****


"bagaimana apakah rencananya sudah siap?"tanya salah seorang wanita pada seseorang dari seberang sana.


("Nona tenang saja. rencana ini, sudah tersusun secara rapi. kita semua, tinggal menunggu aba-aba dari Nona.")


"Bagus kalau begitu. selama aku masih ada di sini, kalian bisa memantau pergerakan dari wanita itu. dan jika waktunya sudah tepat, maka aku akan memerintahkan kalian untuk segera melakukan eksekusi itu."


("baik nona. kalau begitu, panggilan ini saya tutup dulu.")

__ADS_1


Wanita yang dipanggil "Nona" oleh seseorang di seberang sana, seketika tersenyum aneh setelah selesai berbincang-bincang.


"bagaimanapun juga, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. termasuk juga, laki-laki itu."setelah mengatakannya, wanita itu segera kembali ke tempat asalnya dengan perasaan yang sangat senang. Seolah-olah, Wanita itu sudah merasa tidak sabar akan sesuatu hal yang akan terjadi kedepannya.


***


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang laki-laki yang tampak murung di ruang kerjanya. siapa lagi orangnya jika bukan Arthur.


Semangat dari laki-laki itu seakan sirna begitu saja. saat mengingat, wanita yang sangat ia cintai benar-benar tidak bisa dijangkau. sesaat, laki-laki itu benar-benar menyesali kebodohannya. namun percuma saja. penyesalan tidak akan pernah membalikkan keadaan. Bahkan akan semakin memperkeruh keadaan.


"apa yang harus aku lakukan?!"tanya laki-laki itu Seraya berteriak cukup kencang. hingga membuat orang-orang yang tampak berlalu lalang di depan ruangannya, seketika tersentak. dan beberapa saat kemudian, mereka saling pandang satu sama lain.


"aku benar-benar tidak bisa seperti ini terus. Aku, harus mendapatkan wanitaku kembali."ucapnya dengan tekad yang sangat bulat.


Namun perlahan-lahan, tekadnya itu luntur. saat mengingat, kesakitan yang akan lebih parah yang mungkin saja akan dirasakan oleh wanita yang ia cintai.


"aaaakkhh! aku benar-benar merasa sangat gila jika memikirkan hal ini!" erangan frustasi.


Tak memperdulikan apapun, Arthur segera pergi dari sana. mengabaikan panggilan orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya sebentar lagi, akan mengadakan meeting penting.


Sesampainya di rumah, laki-laki itu segera berjalan dengan terburu-buru tanpa mengindahkan ekspresi apapun dari orang-orang yang berpapasan dengannya. termasuk juga kedua orang tuanya dan juga sang nenek.


"dia itu kenapa?"tanya Oma Juwita Seraya menunjuk ke arah cucu laki-lakinya yang begitu kusut.


"apalagi penyebabnya jika bukan Mikaila!"timpal Bahrun enteng.


"jadi dia benar-benar sangat mencintai istrinya itu?"tanya Oma Juwita Seraya mengangkat satu alisnya.

__ADS_1


"mungkin saja iya."jawab Claudia acuh tak acuh. dan dengan segera, pergi menyusul putranya itu daripada harus mendengar ucapan dari Oma Juwita yang begitu menyudutkan putranya.


__ADS_2