
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di dalam mobil milik Arthur suasana di sana, semakin mencekam. karena Naima yang berteriak-teriak seperti orang yang tidak waras.
Sementara itu, Arthur sendiri laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, hanya dapat terdiam. karena saat ini, situasinya benar-benar terpojok.
"benar-benar keterlaluan Arthur! apa kau emang benar-benar ingin keluargamu hancur di tanganku?!"tanya wanita itu dengan berteriak histeris luar biasa.
Bahkan Arthur sendiri, sampai harus menutup kedua telinganya karena merasa sudah tidak tahan dengan suara lengkingan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang ditumpangi oleh Naima dan juga Arthur, telah sampai di depan Mansion keluarga Stanley. dan tanpa pikir panjang lagi, wanita itu segera menarik tangan dari Arthur seperti seseorang ibu yang tengah menarik tangan anaknya untuk masuk ke dalam rumah karena melakukan suatu kesalahan.
Semua penjaga dan juga pelayan yang melihat itu, di buat terdiam dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh Naima itu.
"astaga ini ada apa?!"hanya kau dia saat mendapati putranya diseret seperti itu oleh seorang wanita.
bugh
Dengan tindakan yang begitu kasar, Naima segera mendorong tubuh kekar milik Arthur hingga terjerembab di atas sofa ruang keluarga. semua orang yang ada di sana, seketika terpekik kaget saat melihat pemandangan itu. terkecuali anggota keluarga dari Stanley sendiri.
"astaga Ada apa ini?! tolong jangan emosi sabar dulu Naima!" ucap Oma Juwita mencoba untuk meredakan emosi dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga Stanley itu.
Sejenak, wanita renta Itu tampak mematung di tempatnya. rasanya melayang entah ke mana memikirkan hubungan rumah tangga milik cucunya itu nanti. bagaimana tidak kepikiran, mereka belum menikah saja Wanita itu telah berani melakukan tindakan kekerasan pada Arthur. apalagi nanti, saat mereka sudah berumah tangga. dan Oma Juwita, tidak bisa membayangkan hal itu.
"tanya saja pada cucumu ini!" sentak wanita itu Seraya berkacak pinggang.
Refleks Oma Juwita dan yang lain, seketika menatap ke arah Arthur yang masih menundukkan kepala itu.
__ADS_1
"sudah Naima, lebih baik kau pulang dulu saja. masalah ini, biar menjadi masalah keluarga kami."tutur Claudia mencoba untuk menenangkan wanita itu.
Dan beruntungnya, Naima segera menganggukkan kepala. karena memang jujur Saja, wanita itu saat ini merasa begitu lelah butuh istirahat dan juga menyegarkan pikiran dan juga tubuhnya.
"baiklah kalau begitu. aku akan pergi. tapi ingat, ajari laki-laki ini. jangan sampai, aku naik pitam dan langsung menyebarkan video-video tidak senonoh yang dilakukan olehnya. karena jika hal itu sampai terjadi, maka riwayat kalian akan langsung tamat!"setelah mengatakan hal itu, Naima segera pergi dari sana. meninggalkan suasana Mansion yang begitu hening.
plak
Satu tamparan keras seketika mendarat mulus di wajah tampan milik Arthur. dan kalian pasti tahu siapa pelakunya. Yap, dia adalah Oma Juwita. mungkin saja, hobi baru dari wanita tua itu adalah menampari cucu semata wayangnya itu.
"coba kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"tanya wanita itu mencoba untuk bersabar.
hening...
Untuk beberapa saat, suasana di ruang keluarga itu, hening. karena tidak ada sahutan dari Arthur.
"a... aku menemui Mikaila."ucapnya dengan nada suara terbata-bata. karena jujur saja, Arthur saat ini benar-benar merasa begitu ketakutan.
"untuk apa kau menemuinya?"tanya Oma Juwita dingin.
"aku masih sangat mencintai dia. aku berharap, Dia segera datang ke acara pernikahanku dan menggagalkan semuanya."ucap laki-laki itu dengan nada suara yang sangat lirih.
"dasar bodoh!"Sentak wanita renta itu Seraya melayangkan tatapan tajam.
"Kau pikir, dengan kau seperti itu kau akan dilirik oleh Mikaila dan juga keluarganya? masalah besar Arthur. jika kau, menganggap akan hal itu."ucapnya Seraya mengusap ujung mata yang terasa memanas. tak lama berselang, wanita itu mengusap air matanya dengan kasar.
__ADS_1
"memangnya ada apa?"tanya Arthur dengan raut wajah yang begitu penasaran. karena memang dirinya tidak ada di dekat keluarganya selama 2 tahun itu. sehingga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"mereka sudah tidak pernah menganggap kita ada di dunia ini. mereka semua, menganggap keluarga kita sudah berada di bawah tanah alias mati!" ucapnya terdengar begitu terluka.
Arthur seketika tersentak kaget. laki-laki Itu tampak menggelengkan kepalanya beberapa kali. karena, tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh sang nenek.
"tidak mungkin itu Oma. mereka adalah keluarga yang baik. Mana mungkin, Mikaila dan juga keluarganya sampai sejauh itu."elaknya Seraya menggelengkan kepala.
"kenyataanya memang seperti itu Arthur. keluarga mereka itu memang baik karena mau memaafkan semua kesalahan. asal tidak membunuh. Karena itu, adalah salah satu yang sangat dibenci oleh keluarga mereka.
"tapi aku tidak pernah melakukan hal itu."ucapnya Seraya menitikan air mata.
"kami tahu."sahut oma Juwita dengan cepat. "tapi apakah mereka akan percaya dengan hal itu? tentu tidak Arthur. keluarga dari Wardani itu, tetap akan menganggapmu sebagai seorang pembunuh."ucapnya dengan nada yang begitu sendu.
****
"astaga Mikaila, ini kenapa?!"tanya wanita paruh baya itu dengan nada suara yang begitu histeris. karena mendapati, Putri tunggal mereka pulang dalam keadaan babak belur seperti itu.
Sementara Mikaila sendiri, menggelengkan kepalanya Seraya tersenyum simpul. karena jika wanita itu mengakui semuanya, maka hubungan antara keluarga Stanley dan juga keluarga Wardani akan kembali ricuh. dan Mikaila, tidak ingin itu kembali terjadi.
Ruri tampak menghela nafas panjang. Karena Wanita itu tahu, bahwa putrinya itu sama sekali tidak akan pernah mengatakan hal yang jujur. entah di mana sifat terbuka Mikaila. karena semenjak wanita itu kehilangan buah hatinya, sifatnya benar-benar tertutup.
"baiklah kalau begitu. kalau kau memang tidak ingin bercerita dengan Mama. Mama akan menunggu sampai kamu benar-benar siap."setelah mengatakan hal itu, Ruri segera pergi dari kamar itu.
Sementara Mikaila sendiri, wanita itu masih mematung di tempatnya dengan berbagai pemikiran yang ada di dalam otaknya.
__ADS_1
"apa yang harus aku lakukan? apa memang aku Harus jujur? Tapi, jika aku nanti jujur aku tidak ingin keluargaku kembali bermusuhan dengan keluarga Stanley. karena mereka memiliki hubungan kerjasama yang baik pada awalnya. aku tidak ingin, hanya karena aku semuanya menjadi berantakan."gumam wanita itu dengan tatapan kosongnya.