Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 91


__ADS_3

"Moza mau ikut Pipi, nggak?" tanya Fandy saat mereka tengah berada di ruang meja makan menikmati makanan yang baru saja dihidangkan oleh pembantu rumah tangga di rumah itu.


"mau ke mana?" tanya Ratih yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa buah yang telah dikupas dan menyerahkannya pada Moza. membuat bocah kecil itu, seketika ceria. karena memang, Moza sangat menyukai buah-buahan.


"ke panti asuhan mau menyalurkan dana ke sana. apa Mami mau ikut?"tanya laki-laki itu menoleh ke arah sang ibu. yang saat ini, duduk di samping gadis kecil itu.


Ratih seketika menggelengkan kepalanya. membuat Fandi yang melihat itu, seketika menghela nafas lega. karena memang laki-laki itu hanya sekedar untuk menawarkan hal itu pada sang ibu.


Mana mungkin Fandy membiarkan kedua orang tuanya ikut untuk menuju ke panti asuhan itu? yang ada, mereka akan menggagalkan rencana yang telah disusun rapi oleh laki-laki itu.


"tapi ingat pulangnya jangan malam-malam. Moza ini masih terpantau oleh dokter."ujar Ratih memperingatkan. dan hal itu langsung mendapatkan anggukan kepala dari Fandy.


"Mami tenang aja. kami akan pulang sebelum matahari terbenam."sahutnya Seraya mengusap kepala dari Moza dengan penuh kasih sayang.


Ratih yang melihat itu, seketika tersenyum manis. dugaan awalnya yang mengira bahwa putranya itu tidak bisa akrab dengan Moza, ternyata salah besar. karena laki-laki itu terlihat begitu menyayangi bocah kecil yang sangat malang itu.


Setelah menyelesaikan acara makan siang mereka, Fandy segera berpamitan dan mengajak Moza untuk menuju ke panti asuhan yang dikelola oleh wanita yang menjadi incarannya beberapa tahun yang lalu itu.


***


Sementara di panti itu sendiri, terlihat Mikaila yang baru saja menidurkan bayi malang itu kembali. setelah sebelumnya, sempat menangis kejar entah apa penyebabnya. namun untungnya Mikaila bisa menenangkan bayi itu.


Sementara Aditya dan juga yang lain, seketika tersenyum simpul saat memandangi interaksi antara Mikaila dan juga anak-anak panti itu. dia memang nggak salah mendirikan panti asuhan ini. karena Mikaila, benar-benar mencurahkan kasih sayangnya kepada anak-anak malang itu.


"kamu ini memang benar-benar berbakat menjadi Ibu yang teladan."ujar Aditya Seraya merangkul pundak dari sepupunya itu.


Mikaila yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. kemudian kembali menatap ke arah anak-anak yang tidak berdosa itu dengan tatapan yang begitu sendu.

__ADS_1


"misal kalau ada orang yang ingin mengadopsi mereka? apakah kamu akan setuju?"tiba-tiba saja, Sarah bertanya seperti itu.


Hingga membuat pasangan sepupu itu, seketika menoleh. dan tak lama berselang, Mikaila menggelengkan kepalanya.


"sepertinya aku tidak ingin kehilangan mereka. untuk itu, aku akan sekuat tenaga untuk berusaha membuat mereka nyaman dan tidak kekurangan kasih sayang apapun."ucapnya penuh tekad.


Ketiga orang itu seketika saling tetap satu sama lain. tidak mengerti dengan jalan pikiran Mikaila. Bukankah seharusnya wanita itu merasa senang jika anak-anak itu mendapatkan orang tua yang utuh dan juga keluarga yang harmonis? tapi kenapa malah berucap seperti itu?.


"kenapa kamu bicara seperti itu? bukankah seharusnya kamu senang karena mereka mendapatkan keluarga yang utuh dan juga harmonis?"tanya Sarah dengan raut wajah kebingungan.


"aku bisa memberikan mereka kasih sayang yang utuh. ditambah lagi, mama dan juga Papa pasti juga akan memberikan hal yang sama pada mereka. Jadi, aku sudah sepakat tidak akan ada anak-anak yang keluar dari pantai ini. jika mereka sudah ditelantarkan, untuk apa diambil kembali? mereka bukan barang mereka adalah manusia."tegas wanita itu tanpa berani untuk dibantah.


Memang benar, bukan? kalau sesuatu yang telah dibuang Itu tidak boleh diambil kembali? dan Mikaila sangat membenci akan hal itu.


tin tin tin


walaupun wanita itu bisa mengurus pantai ini tanpa harus mencari donatur. karena kedua orang tuanya, masih mampu untuk memberinya dana yang meluber.


"siapa?"kata Mikaila pada Mbok Marta. saat wanita paruh baya itu, Baru saja datang menghampirinya dengan langkah tergopoh-gopoh.


"ada orang yang ingin menjadi donatur tetap di pantai ini."ucap Mbok Martha Seraya menunjuk ke arah sebuah mobil yang terparkir di depan bangunan itu.


Mikaila sempat mengerutkan kening sebentar. dan setelah itu, segera melangkahkan kakinya untuk mendekati orang itu.


Wanita itu sempat tercekat saat melihat seseorang keluar dari dalam mobil itu bersama dengan gadis kecil yang ada di dalam gendongannya.


Tiba-tiba saja tubuhnya mendadak kaku saat menatap wajah ceria bocah itu.

__ADS_1


"dia anaknya Fandy?"tanya wanita cantik itu menatap nanar ke arah laki-laki dan juga gadis kecil yang ada dalam pelukannya itu.


Entah mengapa, perasaan dari Mikaila seketika campur aduk karena melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. dan tanpa sadar, air mata dari wanita itu pun tumpah ruah dan mengalir dengan begitu deras dari kedua bola matanya.


"Kau kenapa menangis?"tegur Aditya Sarah yang menepuk bahu milik sepupunya itu.


Mikaila tersentak kaget. Karena Wanita itu juga merasa bingung tentang apa yang baru saja ia alami itu.


"lah kenapa aku malah menangis seperti ini?"gumam wanita itu dengan raut wajah kebingungan.


Sementara Fandi yang ada di depan sana, sudah tersenyum dan tertawa di dalam hatinya. karena laki-laki itu tahu apa yang ada dalam pikiran wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini.


"selamat siang Mikaila, apakah aku mengganggu waktumu?"tanya Fandy dengan nada suara yang begitu lembut.


Wanita itu sempat mengerjapkan matanya beberapa kali. sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


"ka..kau untuk apa datang kemari?"tanya wanita itu dengan nada terbata-bata.


"bolehkah aku melihat panti asuhan ini? karena aku ingin menjadi donatur disini. Ngomong-ngomong, Di mana pemilik panti ini aku ingin berbicara serius dengannya."tanya laki-laki itu Seraya menatap ke sekeliling.


"a..aku pemilik panti asuhan ini. apa yang ingin kau bicarakan?"tanya wanita itu dengan nada terbata-bata.


Fandy yang mendengar itu seketika merasa begitu terkejut. walaupun itu hanya pura-pura, tapi tetap saja laki-laki itu harus melakukannya dengan sebaik mungkin.


"oh, astaga ternyata kau pemiliknya."ucap laki-laki itu Seraya melebarkan kedua matanya.


"sayang, kamu turun dulu ya. Pipi ingin berbicara dengan teman Pipi."ucap Fandy dengan nada yang begitu lembut hingga membuat Mikaila sedikit tersentak.

__ADS_1


__ADS_2