
Sementara itu di parkiran rumah sakit, Arthur tengah menunggu kedatangan dari Debby. laki-laki itu telah mendengar semua percakapan dari sang istri dan juga sepupunya itu. dan hal itu semakin membuatnya merasa begitu bersalah.
"maafkan aku sayang. aku mohon maafkan aku."lirih laki-laki itu penuh dengan penyesalan.
Tak lama berselang Debi pun masuk ke dalam mobil itu dengan ekspresi wajah yang tidak enak untuk dipandang. dan Arthur tahu penyebab wanita itu berubah sikap sedemikian rupa.
"dia bilang, kau menyakitinya apakah itu benar?"tanya wanita itu pada sang sepupu. karena memang Arthur belum mengatakan tentang kejadian terakhir kali yang dialami oleh Mikaila. laki-laki itu hanya mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan sang mantan kekasih.
"aku tidak sengaja."ucapnya dengan menundukkan kepala.
Debby yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang."kalau begitu tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali istrimu itu membuka pintu maafnya sendiri. karena apa yang kamu lakukan itu, benar-benar keterlaluan." ucapnya dengan sedikit raut wajah kesal.
Dan Arthur, laki-laki itu hanya bisa menghela nafas panjang. dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawa istrinya itu kembali.
drrrttt drrttt
Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. dan dengan segera, laki-laki itu mengangkatnya yang ternyata panggilan itu berasal dari sang ayah.
"halo, ada apa?"tanya laki-laki itu tanpa basa-basi.
("hal penting yang harus bapak sampaikan.") terdengar suara dari Bahrun yang begitu serius.
Mendadak perasaan dan juga insting dari laki-laki itu menjadi tidak enak.
("sudahlah! lebih baik, kau pulang dulu saja. nanti setelah sampai rumah, aku akan menceritakan semuanya.")
Tut Tut
__ADS_1
Setelah panggilan itu terputus, wajah Arthur menjadi begitu tegang. laki-laki itu segera menyalakan kembali mesin mobilnya dan melesat jauh membelah padatnya jalan raya.
Sementara Debby yang mengerti, segera mengusap punggung dari sepupunya itu untuk menenangkan.
***
Sementara itu di dalam kamar rawat milik Mikaila, terlihat wanita itu tengah bersandar di sandaran kepala ranjang. pandangannya menerawang jauh entah ke mana. sementara di sisi tubuhnya, ada Aditya yang selalu setia menemani.
"bagaimana keadaanmu apa ada yang masih terasa sakit?"entah sudah berapa kali laki-laki itu mengatakan hal yang sama. hingga membuat wanita itu sedikit merasa jengah.
"kamu kenapa sih?"tanya Mikaila Seraya memutar bola mata malas. kadang tingkah laku dari sepupunya itu benar-benar Di luar batas melebihi khawatirnya seorang suami kepada sang istri.
"aku?"tanya laki-laki itu Seraya menunjuk dirinya sendiri."memangnya aku kenapa? aku itu hanya khawatir dengan kondisimu? memangnya salah?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah yang begitu serius.
Mikaila yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya."tidak ada yang salah."jawabnya dengan nada malas. karena jika wanita itu meneruskan ucapannya, mungkin mereka akan menjadi berdebat dan tidak ada ujungnya.
Dan untuk saat ini, mikayla sedikit malas untuk membuat keributan dengan sepupunya itu.
"Mungkin sebentar lagi. Memangnya, kamu mau minta apa?"tanya laki-laki itu dengan mengusap kepala milik sang sepupu.
Sejenak Mikaila terdiam. sepertinya wanita itu tengah memikirkan sesuatu yang ia inginkan."bolehkah aku makan spaghetti?"tanya wanita itu dengan hati-hati.
Karena memang, hari sudah semakin larut. wanita itu hanya takut, jika sepupunya itu tidak bisa mengabulkan apa yang dia inginkan. karena memang jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun ternyata, jugaan wanita itu salah besar. karena dengan entengnya, Aditya menganggukkan kepala.
Membuat Mikaila yang melihat itu, sejenak terdiam. sejak kapan sepupunya itu gampang untuk diajak diskusi atau dimintain tolong? biasanya laki-laki itu akan menolak dengan berbagai alasan yang mungkin tidak masuk akal dalam otak Mikaila. tapi kali ini, seperti ada yang berbeda dengan laki-laki itu.
tuk
__ADS_1
"aaaakkhh! kenapa malah disentil?"protes Aditya Saraya mengusap dahinya yang sedikit berdenyut akibat sentilan dari sepupunya itu.
"Mau memastikan aja. kalau yang berdiri di hadapanku saat ini, adalah benar-benar Adit sepupuku."sahut Mikaila dengan entengnya.
Aditya yang mendengar itu seketika mendengus kesal."memangnya aku hantu?"gerutu laki-laki itu. membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika tertawa lepas. Aditya yang mendengar itu, juga ikut tersenyum kecil.
"Ya sudah! kalau begitu, hamba akan menuruti permintaan tuan putri."ucapnya Seraya membungkuk hormat persis seperti seorang prajurit terhadap ratunya.
Dan hal itu kembali membuat mikayla yang melihatnya tertawa lepas. tak lama berselang laki-laki itu pun, keluar untuk memenuhi permintaan dari sang sepupu.
Sementara Mikaila sendiri, wanita yang telah hamil muda itu kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. tanpa diketahui oleh siapapun, ada seseorang yang mengintai pergerakan mereka dari jauh.
"jika waktunya sudah tepat, maka cepatlah mengucapkan selamat tinggal untuk hidupmu wanita sial!"gumam seseorang yang jauh berada entah di mana.
"kapan kita akan memulai eksekusinya?"tanya wanita yang lain dengan raut wajah tidak sabar.
"tenang. jika nanti waktunya sudah datang, kita akan langsung melumpuhkannya."ucapnya dengan tersenyum lebar.
Tiba-tiba saja wanita itu berbalik menatap manik hitam dari wanita yang lain.
"apakah kamu masih memiliki perasaan dengan Arthur?"tanya wanita itu pada Citra.
Secepat kilat wanita yang bernama Citra itu, menggelengkan kepalanya."aku sudah tidak memiliki perasaan dengannya setelah apa yang dia lakukan terhadap keluargaku. yang ada di dalam hatiku saat ini, adalah sebuah kebencian yang mulai mendarah daging."ucapnya penuh dengan aura kebencian.
'Bagus kalau begitu. dengan seperti ini, aku akan mudah menyingkirkan wanita itu tanpa harus mengotori tanganku sendiri.' batin wanita itu yang tak lain adalah Naima.
Yap. Naima saat ini tengah berada di sebuah tempat yang tidak bisa dijamah oleh orang-orang. Karena Wanita itu tengah melakukan persembunyian. bukan dari ajaran polisi. tapi memang, wanita itu tengah menyusun rencana untuk melenyapkan Mikaila. Karena sudah berani-beraninya mengambil Arthur dari sisinya. dan wanita itu tidak sendiri, saat ini dia bersama dengan seorang wanita bernama Citra. yang tak lain dan tidak bukan, adalah wanita yang sempat ingin dijodohkan pada Arthur.
__ADS_1
Ya. Naima memberikan jaminan pada polisi. agar dirinya bisa terbebaskan dengan cepat. dan tentunya hal itu berhasil dilakukan. karena memang keluarga Naima terkenal sebagai keluarga konglomerat. sehingga dirinya, bisa melakukan apa saja dengan uang itu. termasuk juga membeli hukum.
Tentunya hal itu langsung disambut baik oleh Citra. Karena Wanita itu benar-benar sudah merasa tidak tahan berada di dalam penjara. dan lagi pula, mereka memiliki tujuan yang sama. jadi tidak ada salahnya mereka melakukan aksi kerjasama itu.