
Setelah menetralisir degub jantungnya yang terasa ingin melompat-lompat akibat melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat, Mikaila memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Namun sebelum itu, Mikaila ingin membuktikan ucapan dari suaminya itu bahwa tidak ada terjadi apa-apa pada malam tadi.
"oh ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Om Arthur."ucap wanita itu Seraya melangkahkan kakinya dengan cepat. dan dengan segera menutup pintu kamar mandi itu dengan sedikit keras karena merasa malu dengan tuduhannya sendiri.
Sementara Arthur yang memang sudah selesai mengganti baju, laki-laki itu hanya diam diambang pintu menatap ke arah istrinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. tak berselang lama, laki-laki itu menggelengkan kepalanya. kemudian melangkahkan kakinya, untuk keluar dari kamar itu.
Saat berada di ujung tangga, laki-laki itu kembali dikejutkan oleh pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"pengantin baru baru bangun jam sekarang?"tanya Oma Juwita Seraya menatap ke arah sang Cucu dengan senyuman yang sulit diartikan.
Arthur yang mendengar penuturan dari Omanya itu, seketika melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita tua itu." bagaimana apakah kalian sudah membuatkan cicit untukku?"tanya Oma Juwita menggoda sang cucu.
"kalian semalam tidak pulang?"tanpa mengindahkan pertanyaan dari sang nenek, laki-laki itu justru melontarkan pertanyaan yang lain dan menatap ke arah anggota keluarga yang berada di ruang makan itu.
"kami memang memutuskan kan tinggal di sini. setidaknya sampai istrimu benar-benar hamil."ucap salah satu tante Arthur dengan tersenyum kecil.
Seketika itu pula, Arthur mencoba untuk menelan salivanya dengan susah payah. bagaimana bisa permintaan mereka itu terealisasikan, kalau mereka saja menikah hanya dengan perjanjian hitam di atas putih.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh semua orang, ternyata Mikaila juga mendengar penuturan dari kerabat suaminya itu. membuat wanita itu, seketika melangkah mundur dan langsung masuk ke dalam kamarnya kembali. nafsu makannya tiba-tiba saja menghilang saat mendengar kalimat itu.
"huh menyebalkan."ucap Mikaila Seraya menyembunyikan kepalanya kembali di bawah bantal. akhirnya wanita itu, memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Mendadak, wanita itu merasakan perasaan sangat kesal.
****
"Arthur, kenapa istrimu tidak juga turun ke bawah? apa dia tidak ingin melewatkan sarapan bersama dengan keluarga suaminya?"tanya orang itu dengan ketus. siapa lagi jika bukan Claudia.
Tentu saja pernyataan dari wanita paruh baya itu, membuat semua orang menatapnya dengan tatapan tajam. terlebih lagi Oma Juwita. wanita sepuh itu bahkan sampai menarik baju milik anak menantunya itu. karena dirasa, Wanita itu telah berbicara lancang. membuat Claudia sendiri, ketika mendengus kesal.
"kalau begitu, biar aku yang memanggilnya."Arthur dengan segera beranjak dari tempat duduknya dan menaiki anak tangga untuk menuju kamar.
Membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika bangkit dari pembaringan dan menatap laki-laki yang ada di hadapannya itu dengan malas.
"kenapa wajahmu tidak bersahabat seperti itu?"tanya Arthur dengan raut wajah heran. dan dengan segera, duduk di sebelah sang istri.
"apa kamu mendengar penuturan dari anggota keluargaku?"tanya Arthur lagi.
Membuat Mikaila yang mendengar itu, semakin cemberut saja dibuatnya."bagaimana tidak dengar, aku itu punya telinga. dan lagi pula, tantemu itu berbicara dengan sangat lantang. Tentu saja aku mendengarnya."ucap Mikaila dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Arthur yang mendengar itu, seketika tersenyum. kemudian tangannya bergerak mengusap kepala wanita itu dengan lembut.
"ikut aku yuk,"ajak Arthur pada sang istri.
"ke mana?"tanya Mikaila menatap ke arah suaminya itu.
"ke mana saja asal kamu bahagia. kita cari makan di luar."jawab Arthur Seraya menarik tangan istrinya itu.
Mikaila yang mendengar itu, seketika tampak berbinar."Ya sudah kalau begitu, ayo!"ucapnya penuh dengan semangat. membuat Arthur yang melihat itu, ketika menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.
"mau ke mana kalian?"tanya Oma Juwita pada sepasang pengantin baru itu.
"kita mau jalan-jalan mau makan di luar. bolehkan Oma?"hanya Arthur meminta izin.
"Boleh silakan saja. bulan madu juga boleh."ucapnya menggoda pasangan pengantin baru itu.
Membuat Mikaila dan juga Arthur yang mendengar itu, seketika tersenyum canggung dan saling melirik satu sama lain. kemudian mereka segera berpamitan untuk menuju luar rumah.
"tidak usah dipikirkan."ucapkan yang mengetahui raut wajah dari istrinya itu. Mikaila yang mendengar itu, seketika hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
__ADS_1
Tak berselang lama, mereka telah sampai di depan rumah makan yang terlihat sangat sederhana. dan mereka berdua, memutuskan untuk masuk ke dalam bangunan itu.