Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 59


__ADS_3

Bugh


Satu Pukulan keras mendarat mulus di wajah milik Arthur. hingga membuat laki-laki itu, ketika tersungkur di atas lantai. dengan darah yang keluar dari mulutnya


Seakan tidak puas, Aditya kembali melayangkan sebuah tendangan tepat di perut laki-laki itu. sama sekali Aditya tidak memperdulikan jika nantinya dirinya akan dituntut atas pasal penganiayaan. yang terpenting saat ini, laki-laki itu mampu memberikan sebuah pelajaran berharga pada suami sepupunya itu.


"puas Lo ngebuat sepupu gue terbaring di atas tempat tidur?"tanya laki-laki itu Seraya mencengkeram kerah baju milik Arthur


Begitu Arthur sama sekali tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Karena bagaimanapun juga, laki-laki itu menyadari atas kesalahannya. dan yang hanya dapat dilakukan olehnya, hanyalah membiarkan wajah mulusnya mendapatkan beberapa pukulan dari sepupu istrinya itu.


"gara-gara lu, sepupu dan juga keponakan gue, hampir mati!"ucapnya penuh dengan penekanan di akhir kalimat.


sontak saja hal itu membuat Arthur yang mendengarnya, seketika terbelalak tak percaya. karena memang pada saat itu, Arthur sudah diusir oleh keluarga dari istrinya. sehingga dirinya tidak mengetahui tentang apa yang dialami oleh wanita kesayangannya itu.


Wanita kesayangan? huh, Entahlah. apakah setelah melakukan sesuatu yang membahayakan untuk Mikaila dan juga calon bayinya, laki-laki itu tetap bisa menyebut bahwa wanita itu adalah wanita kesayangannya atau tidak.


Tanpa memperdulikan ucapan dan juga sumpah serabah dari Aditya, atur memutuskan untuk pergi dari sana membawa rasa sakit yang mulai menggerogoti hatinya.


***


"aaaakkhh! kenapa semua bisa menjadi seperti ini?!"teriak Arthur Seraya menjambak rambutnya sendiri. niat hati ingin membuat wanita kesayangannya itu kembali ke dalam pelukannya, seketika harus kandas. saat apa yang ia lakukan, justru malah membuatnya semakin berjarak dengan wanita itu.


Dan mungkin saja setelah ini, Arthur akan benar-benar kehilangan Mikaila. dan untuk hal itu, laki-laki itu masih belum sanggup untuk membayangkannya.

__ADS_1


Setelah berhasil menenangkan diri, laki-laki itu segera kembali menuju ke kediamannya. dan Sesampainya di depan pintu rumah itu, sebuah pukulan mendarat keras di wajahnya. siapa lagi pelakunya jika bukan Bahrun.


Laki-laki paruh baya itu bahkan tidak memperdulikan melihat kondisi putranya yang sudah babak belur sebelumnya.


"sudah Pak cukup!"ucap Claudia mencoba untuk menengahi antara suami dan juga anaknya itu. Karena bagaimanapun juga, seorang ibu tidak akan pernah merelakan putranya sendiri terluka seperti itu. lagi melihat dengan mata kepalanya sendiri siapa yang membuat luka itu.


"lihat anak ini. Dia sudah menjadi laki-laki pecundang!"ucap Bahrun cerai yang menunjuk ke arah Arthur dengan jari tangannya. membuat laki-laki muda itu, seketika menundukkan kepala karena merasa tidak mempunyai keberanian untuk menatap mata sang ayah.


"maafkan aku." hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari dalam mulut Arthur. membuat Bahrun yang mendengar itu, semakin menatapnya langka arah laki-laki yang bergelar sebagai putranya itu. Andai saja, Arthur bukanlah darah dagingnya, mungkin laki-laki paruh baya itu akan membuatnya mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami oleh wanita malang itu.


Sayangnya, Arthur adalah darah dagingnya. bagaimanapun juga, laki-laki paruh baya itu memiliki andil besar atas perbuatan yang dilakukan oleh putranya itu. hingga pada akhirnya, Bahrun memutuskan untuk pergi dari sana.


Sementara Claudia sendiri, wanita paruh baya itu segera berhambur ke dalam pelukan Sang putra. sesaat setelah sang Suami pergi meninggalkan tempat itu.


"apakah kamu baik-baik saja, sayang?"tanya Claudia dengan ekspresi wajah panik dan juga tangan yang memeriksa semua anggota tubuh dari putranya. takut jika ada luka yang lain yang tidak ia ketahui.


Sontak saja hal itu membuat Claudia yang melihatnya, segera memeluk tubuh putranya dengan erat. "tolong jangan seperti ini sayang. Ibu benar-benar tidak sanggup jika harus melihatmu seperti ini. sebaiknya kita segera masuk ke dalam kamar. supaya luka-lukanya bisa segera diobati."ajak wanita paruh baya itu pada putranya.


Arthur menggeleng."tidak usah. biarkan saja aku seperti ini. Hitung-hitung, aku akan merasakan sedikit saja tentang kesakitan yang dirasakan oleh istriku."ucapnya dengan lirih.


Ya. hanya sedikit saja. mungkin saja tidak ada seujung rambut Arthur merasakan kesakitan itu. dibandingkan rasa sakit yang dialami oleh Mikaila akibat ulahnya itu.


Karena terus-menerus melakukan penolakan, pada akhirnya Claudia pun menyerah. wanita paruh baya itu memutuskan untuk mengikuti langkah kaki suaminya menuju ke kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


Sementara Arthur sendiri, laki-laki itu seketika merosotkan tubuhnya di dinding rumah itu. tak lama berselang, terdengar isakan tangis yang begitu memilukan.


"maafkan aku sayang! aku benar-benar tidak bermaksud untuk kembali menyakitimu."ucapnya Seraya mengucurkan cairan bening dari dalam matanya.


Hingga samar-samar, Indra pendengarannya menangkap suara langkah kaki seseorang yang berjalan menghampirinya. dan di saat laki-laki itu mendongakkan kepalanya, kedua matanya dapat menatap sesosok wanita sepuh yang berdiri dengan berkacak pinggang.


"apa yang kamu lakukan?!"tanya wanita sepuh itu Seraya menatap tajam ke arah cucunya.


Sejenak Arthur terdiam karena laki-laki itu berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh wanita itu.


"apa yang kamu lakukan kepada cucu menantuku?"tanya wanita sepuh itu seraya menerangkan tatapan-tatapan penuh permusuhan pada laki-laki muda itu.


"maaf."lirihnya tertunduk.


plak


Satu kali lagi Arthur mendapatkan satu buah pukulan tepat di pipi kanannya. hingga membuat sudut bibirnya berdarah.


"kamu benar-benar keterlaluan Arthur. Awalnya, Oma mendukung kamu jika ingin berbaikan dengan istrimu itu. tapi setelah melihat bagaimana perlakuanmu pada dia, maka Oma berubah pikiran."ucapannya terjeda untuk sesaat.


"... Oma setuju dengan pemikiran keluarga Mikaila. bahwa kalian harus berpisah. atau bahkan, secepatnya."tandasnya seraya berlalu pergi dari sana.


Meninggalkan Arthur yang mematung di tempatnya. mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Omanya itu. hingga tak lama berselang, laki-laki itu pun menggelengkan kepalanya dengan kuat.

__ADS_1


"tidak sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi."ucapnya Seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Setelahnya, laki-laki itu bergegas masuk ke dalam kamarnya. entah apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu di dalam kamarnya. yang jelas saat ini, raut wajah dari Arthur tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


__ADS_2