
Beberapa waktu kemudian,....
Hubungan antara Mikaila dan juga Fandy sudah menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan. kedua insan itu sudah saling memperkenalkan diri pada keluarga masing-masing. seperti saat ini, Mikaila tengah berada tepat diantara kedua orang tua Fandy.
"apakah kamu sudah benar-benar merasa sangat yakin dengan pilihanmu saat ini?"tanya Arga pada Mikaila.
Membuat wanita itu, seketika menundukkan kepala karena mungkin merasa malu dengan tindakannya saat ini. dulunya Wanita itu sangat menolak keras saat dirinya akan dijodohkan oleh Fandy. tapi lihatlah sekarang dia benar-benar telah menyerahkan diri pada laki-laki yang bahkan sempat menjadi tersangka karena ulahnya itu.
"saya sudah yakin Om."ucap Mikaila dengan nada suara yang begitu lirih.
Membuat Ratih yang mendengarnya, seketika memutar bola mata malas. tak lupa, wanita paruh baya itu mencibir wanita yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.
"cih, dulu aja nggak mau sekarang malah sok-sokan malu-malu seperti itu. dasar nggak tahu diri!"umpat wanita paruh baya itu dengan nada suara yang begitu pelan.
Namun demikian, perkataan yang sangat menyakitkan itu masih terdengar di telinga Mikaila. karena jarak di antara mereka berdua, sungguh sangat berdekatan.
Membuat Mikaila sendiri, hanya dapat menghela nafas panjang. karena memang apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu tidak ada salahnya.
"Ma, jangan seperti itu!"tegur Fandy mentatap tajam ke arah wanita paruh baya itu. membuatnya seketika mendengus kesal.
tanpa pikir panjang lagi, wanita paruh baya itu segera pergi dari sana meninggalkan ruang tamu membuat mereka semua terdiam. terutama Mikaila.
Karena reaksi yang ditunjukkan oleh Ratih itu, sama dengan apa yang ditunjukkan keluarga dari Stanley dulu. terutama, reaksi yang ditunjukkan Ratih sama dengan yang ditunjukkan oleh Claudia dulu.
"maafkan istri saya. saya janji saya akan membujuk istri saya itu agar menyetujui hubungan kalian."setelah mengatakan hal itu, laki-laki paruh baya itu segera pergi dari sana.
Sesaat setelah Semua orang pergi dari sana, Mikaila pun ikut beranjak dengan ekspresi wajah yang begitu sedih dan juga tertekan. ada perasaan senang dan juga ada perasaan sedih.
__ADS_1
Senang karena ternyata, wanita yang ada di hatinya saat ini benar-benar mencintainya. sehingga rasa yang ia miliki, tidak lagi bertepuk sebelah tangan. tapi sedihnya, ternyata hubungannya tidak semulus yang ia bayangkan.
"Sayang, tunggu!"tegur Fandy pada wanita itu. namun sayangnya, Mikaila sama sekali tidak menghiraukan hal itu. wanita cantik itu semakin mempercepat laju kakinya.
Karena merasakan dadanya begitu sesak luar biasa. dua kali pendapatan penolakan dari awal. dan pada saat pertama itu, Mikaila sedikit membangkang. walaupun berakhir manis, namun itu tidak berlangsung lama.
Dan Mikaila tidak ingin hal itu terjadi untuk yang kedua kalinya. lebih baik, wanita itu memutuskan untuk menyerang dari awal daripada harus menentang dan menghancurkan kebahagiaan dari sebuah keluarga yang harmonis.
"Maaf Fandy, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. cukup masa laluku yang berawal dengan hal yang tidak baik dan akhirnya berakhir dengan tidak baik pula. aku tidak ingin kembali melakukan hal itu. Maaf aku pergi."lirih Mikaila seraya melepas cincin yang memang sudah melekat di jari manis milik wanita itu.
Dengan cepat, Fandy merebut cincin itu yang hendak dibuang oleh Mikaila."nggak mau kamu jangan seperti ini sayang."ucapnya Seraya menggelengkan kepalanya.
Kedua sudut bibir dari wanita itu seketika tertarik ke bawah. dan tak lama berselang, terdengar suara isakan tangis yang begitu memilukan.
"Maaf aku nggak mau kalau keluarga kita nanti akan kembali hancur seperti keluargaku yang aku bangun dengan Arthur dulu."liriknya dengan isakkan tangis.
Entah mengapa, nada dari Fandy ikut berdenyut nyeri akibat penuturan dari wanita yang ada dalam dekapannya saat ini.
Karena memang pada awalnya, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, hanya ingin melakukan pembalasan dendam pada wanita yang ada dalam pelukannya saat ini. Namun entah mengapa, malah berubah menjadi rasa sayang yang amat sangat dalam.
Dan tak lama berselang, ulir bening itu pun ikut menetes dari dalam mata elang milik Fandy.
"to .. tolong jangan seperti ini aku mohon jangan pernah menangis seperti ini."suara dari Fandy seketika tercekat. dan ikut menangis dengan saling berpelukan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian...
"sudah jangan menangis lagi."laki-laki itu ikut mengusap wajah dari wanita yang tanpa sadar sangat ia cintai dengan penuh kelembutan dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"sekarang lebih baik kamu pulang."sambung laki-laki itu Seraya membawa tubuh Mikaila untuk masuk ke dalam mobil.
"aku mohon, lepaskan aku lebih baik kita berpisah saja. aku tidak ingin hal buruk kembali terjadi padaku."lirih Wanita itu namun masih didengar oleh Fandy. dan reaksi dari laki-laki itu, sama sekali tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Mikaila.
****
"kita lebih baik berpisah saja daripada seperti ini saling menyakiti satu sama lain kita harus---"
"gak!" sela laki-laki itu dengan nada suara yang sangat berat dan juga cepat.
"Fandy kamu nggak boleh egois. aku nggak ingin, orang tuamu semakin membenciku. cukup pengalaman yang dulu saja yang seperti itu. aku tidak ingin, kembali terulang."setelah mengatakan hal itu, Mikaila melangkahkan kakinya untuk menjauh dari laki-laki itu.
Namun Baru beberapa saat kakinya melangkah untuk memasuki bangunan megah milik keluarga Wardani, tangan dari Fandy sudah berhasil mencekal tangan milik Mikaila. membuat wanita itu seketika terdiam. tak lama berselang, menepis tangan laki-laki itu dengan sedikit kasar.
"tolong. aku ingin kita benar-benar perpisah Fandy."mohon wanita itu dengan nada suara yang begitu lirih.
"nggak sampai kapanpun juga, aku nggak akan pernah mau melepaskanmu. dan sampai kapanpun juga, kamu akan tetap menjadi milikku."desis laki-laki itu dengan tatapan yang begitu Taja.
"terserah aku tidak peduli."sudah merasa sangat lelah, pada akhirnya Mikaila tidak ingin terlalu berdebat memutuskan untuk pergi dari sana.
"aaaaarrgghhh! sialan kenapa semuanya menjadi seperti ini?!"teriak laki-laki itu dengan suara yang begitu lantang.
Setelah puas mengamuk di dalam mobilnya seperti seseorang yang tidak memiliki akal sehat, pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk pergi dari sana dengan amarah yang luar biasa bergemuruh di dalam dada.
"kenapa Mama malah menolak pilihanku? apakah dia mau kalau aku kembali hancur?"tanya laki-laki itu pada dirinya sendiri dengan tatapan yang begitu tajam.
Tak lama berselang, mobil yang dikendarai oleh laki-laki itu, telah sampai di depan rumahnya. dan tanpa pikir panjang lagi, segera pergi dari sana.
__ADS_1