
Pagi ini di kediaman keluarga Stanley, dua wanita berbeda generasi itu kembali ribut seperti sebelum-sebelumnya. dan Hal itu membuat orang-orang yang ada di sana, semakin merasa pusing. dan Hal itu membuat Arthur yang melihatnya, memutuskan untuk segera pergi dari sana. Sepertinya, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu memutuskan untuk pergi saja dari dalam rumah yang sudah tidak aman itu. laki-laki itu memutuskan untuk menuju ke danau buatan yang pernah ia kunjungi hari itu.
Memang Jika ada masalah, Arthur memilih untuk menemui tempat itu seorang diri dan menenangkan dirinya di sana. karena memang, laki-laki itu sangat menyukai tempat sunyi seperti itu. salah satunya adalah danau yang memang sengaja ia kunjungi saat ini.
Bahkan laki-laki itu sama sekali tidak memperdulikan teriakan dan juga caci maki yang dikeluarkan oleh kedua wanita itu yang masih sibuk bertengkar.
****
"andai saja dulu tidak melakukan kesalahan itu mungkin kita masih sama-sama seperti keluarga kecil kebanyakan. dan aku akan sangat bahagia bersama dengan istri dan juga anakku. nikmati waktu-waktu-waktu seperti ini"lirihnya dengan air mata mengalir.
Sungguh sampai saat ini, Arthur masih merutuki kebodohannya sendiri. andai saja dirinya tidak membiarkan Naima makhlukNya waktu itu, pasti semuanya tidak akan terjadi seperti ini.
Karena memang awal mula dari masalah itu, karena dirinya yang tidak merasa tegas dari awal pada Naima. dan sekarang ini laki-laki itu menikmati buah dari kebodohannya sendiri.
Beberapa kali laki-laki yang memiliki tahi lalat di dunia Itu tampak menghirup udara sebanyak mungkin.
Saat ini laki-laki itu tengah menatap ke arah barat dengan pemandangan yang cukup indah bagi orang-orang yang sedang suntuk.
Setelah hampir 2 jam berada di sana, pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk kembali menuju ke kediaman Stanley. karena Oma Juwita sudah memberikan ultimatum berupa pesan singkat bahwa kedua wanita itu tengah ribut saat ini.
Sekali lagi, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu akan menghela nafas panjang dan sesekali akan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut akibat masalah yang tidak ada habisnya itu.
****
__ADS_1
Saat ini Arthur tengah berada di sebuah supermarket yang tidak jauh dari danau buatan itu. Arthur memutuskan untuk membeli sesuatu cemilan. karena saat ini di dalam rumah itu tengah terjadi keributan sehingga dirinya butuh asupan yang lebih untuk menghadapi orang-orang seperti Claudia dan juga Naima.
"kamu mau beli apa, sayang?"
Indra pendengaran dari Arthur seketika sedikit merekah. saat laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu mendengar suara seseorang yang sangat familiar menyapa.
Refleks, laki-laki itu segera memutar poros tubuhnya hingga menghadap ke belakang. kedua bola matanya terpaku saat melihat pemandangan yang begitu menyakitkan yang ada di depan sana.
Bagaimana tidak menyakitkan? jika laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keharmonisan yang ditunjukkan oleh pasangan yang ada di seberang sana.
Fandy dan juga Mikaila saat ini tengah berbincang-bincang dengan hangat dan sesekali akan tertawa Jika ada yang lucu. di tengah-tengah mereka, juga ada Moza yang juga sesekali akan ikut tertawa saat melihat kelucuan yang dilakukan oleh kedua orang dewasa yang ada di hadapannya saat ini.
Dan hal itu, membuat semakin merasakan nyeri yang luar biasa. rasa cemburu seketika mendarah daging di dalam hatinya. dengan mata yang berkabut akan rasa cemburu, laki-laki itu segera melangkahkan kakinya untuk mendekati Mikaila. entah ada setan apa yang merasuki laki-laki itu sehingga dapat melakukan hal yang paling jauh seperti ini.
"brengsek apa yang kau lakukan pada istriku?!"tanya laki-laki itu Seraya melayangkan satu kali pukulan dan mendarat mulus di rahang tegas milik Arthur.
Mikaila dengan refleks langsung menutup kedua mata Moza. agar gadis kecil itu, tidak melihat adegan yang sedikit berbahaya.
Dengan perlahan tapi pasti, wanita cantik itu segera membawa mundur tubuh milik Moza agar tidak semakin merasa takut dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"kenapa kau tiba-tiba saja memeluk tubuh istriku?!"tanya laki-laki itu dengan tatapan yang begitu tajam. dan tak lama berselang, segera mencengkeram leher milik Arthur.
Uhuk uhuk
__ADS_1
Laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu seketika langsung terbatuk-batuk saat cengkraman tangan dari Fandy terlepas dari lehernya. tidak ada perlawanan sama sekali yang ditunjukkan oleh Arthur. karena mungkin saja, cirinya merasa bersalah karena terlalu gegabah dalam mengambil keputusan itu.
Semua laki-laki pastinya akan marah jika sesuatu yang berharga dalam hidupnya disentuh oleh laki-laki lain.
"sudah Fandy lebih baik kita pergi saja dari sini."dengan gerakan cepat, Mikaila langsung menarik tangan dari laki-laki itu untuk menjauh dari sana.
"awas aja kau!"tunjuk laki-laki itu pada Arthur menggunakan jari tangannya. kemudian setelah itu, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu segera membawa tubuh wanita-wanita kesayangannya untuk menjauh dari sana.
"shiitt!"
Umpatan itu, seketika keluar dengan mulus dari dalam mulut Arthur. dan tak lama berselang, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu segera meraup wajahnya menggunakan kedua tangan.
"kenapa aku menjadi seperti ini?!"tanya laki-laki itu dengan frustasi. tanpa memikirkan apa-apa lagi, Dia segera masuk ke dalam mobil dan memutuskan untuk kembali melajukan kendaraannya itu.
****
"apa yang dipegang oleh laki-laki itu?"tanya Fandy dengan sorot mata yang begitu tajam dan juga tangan yang memeriksa bagian-bagian wanita itu yang disentuh oleh Arthur.
Sungguh Fandy merasa tidak terima jika wanita kesayangannya itu, disentuh oleh laki-laki lain. apalagi laki-laki itu adalah mantan dari Mikaila. yang kemungkinan besar, masih berada dalam hati wanitanya itu.
"aku baik-baik saja kau tidak usah khawatir."dengan susah payah, Mikaila mencoba untuk menenangkan calon suaminya itu agar tidak kembali mengamuk.
Fandy sama sekali tidak menyahut. karena laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu juga masih merasa sangat kesal akibat apa yang dilakukan oleh musuh bebuyutannya itu.
__ADS_1
Yap memang sejak dulu, Fandy sudah menganggap Arthur sebagai musuh bebuyutan. karena mereka sebenarnya adalah rival dalam bisnis. dan permusuhan itu, makin kuat dan juga menajam saat mereka berdua merebutkan sosok wanita cantik bernama Mikaila itu.