
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, Arthur telah sampai di depan kediaman kedua orang tuanya. saat laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu keluar dari dalam mobil, dia sudah disambut oleh kedua orang tuanya.
"kau ini dari mana aja Arthur?"tanya kau dia dengan raut wajah yang begitu cemas. dan tak lama berselang, wanita paruh baya itu segera menggandeng tangan milik Sang putra dan membawanya untuk masuk ke dalam rumah.
"aku ada urusan sebentar."sahut laki-laki itu dengan nada santai.
Namun itu sama sekali tidak membuat Claudia menjadi tenang. justru wanita paruh baya itu memicingkan kedua matanya karena sempat menangkap luka lebam di rahang laki-laki itu.
"ini kenapa?"tanya wanita paruh baya itu dengan ekspresi wajah yang begitu terkejut dan juga kedua bola mata yang membulat sempurna.
"hanya kecelakaan kecil saja."sahut laki-laki itu masih tetap tidak ingin berbicara dengan jujur pada orang tuanya.
Karena menurut Arthur semua itu tidak akan pernah memperbaiki masalah. bahkan mungkin akan membuat masalah kembali muncul.
"jujur sama Ibu itu kenapa sebenarnya? apakah kamu bertengkar ataupun berkelahi lagi? Dengan siapa kamu melakukannya?"pertanyaan dan pertanyaan seketika merambat begitu saja di gendang telinga milik laki-laki itu.
Membuat Arthur yang mendengarnya seketika Manghela nafas panjang. sepertinya memang dirinya tidak bisa untuk sekedar berbohong pada wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Dan pada kenyataannya, laki-laki itu pun menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya. tentunya Hal itu membuat semua orang yang ada di sana merasa kita terkejut. karena memang rumah itu dihuni Bukan Hanya mereka bertiga saja. Melainkan, ada Oma Juwita, ada Naima dan juga ada para pelayan yang memang tinggal di sana.
"kurang ajar berani-beraninya Dia melukai Putra kesayanganku!"ucap wanita paruh baya itu Seraya menatap tajam lurus ke depan.
Bahrun yang melihat pergerakan tidak biasa yang dilakukan oleh istrinya itu, segera menghentikan segala sesuatu yang akan dilakukan oleh wanita paruh baya itu ke depannya.
"jangan seperti ini! di sini, Putra kita yang bersalah jangan menyalahkan orang lain!"peringat laki-laki paruh baya itu pada Claudia.
__ADS_1
Membuat wanita paruh baya itu seketika menghembuskan nafasnya panjang. amarah yang sudah meluap-luap di dalam dada, seketika menguap begitu saja karena mendengar penuturan dari suaminya itu yang memang adalah suatu kebenaran.
"Ya sudah lebih baik kita obati saja kamu ini jangan sampai malah menjadi infeksi dan malah membuat kamu menderita."setelah mengatakan hal itu, Claudia segera menarik tangan dari putranya itu untuk menuju ke ruang perawatan.
Tanpa mereka semua sadari, ada seseorang yang menguping pembicaraan dari mereka sejak tadi. siapa lagi jika bukan Naima. wanita yang sangat terobsesi pada Arthur itu mendengar semua pembicaraan yang dilakukan oleh laki-laki itu dan juga kedua orang tuanya.
"jika kalian tidak ingin membalas perbuatan mereka, maka aku yang akan membalasnya. karena aku tidak ingin, seseorang sekalipun melukai apa yang aku miliki."gumam wanita itu Seraya pergi dari sana.
****
"Kau sudah pulang bagaimana kegiatanmu hari ini?"tanya Ratih saat melihat anak dan juga cucunya baru saja pulang dari rumah Mikaila.
"kurang baik!"setelah mengatakan hal itu, Fandy segera membopong tubuh mungil milik Moza dan membawanya untuk masuk ke dalam kamar.
Fandy tampak menghela nafas untuk beberapa kali. terlihat dengan jelas raut wajah yang ditunjukkan oleh laki-laki itu yang menampakkan kekesalan yang luar biasa.
"nanti aku akan cerita. sekarang, aku harus membaringkan tubuh Moza dulu ke kamar."setelah mengatakan hal itu Fandi segera pergi dari sana untuk merebahkan tubuh milik Moza di atas tempat tidur.
****
"jadi apakah kamu bisa menceritakan apa yang terjadi sehingga anak kesayangan Mama ini menjadi cemberut seperti ini?"tanya Ratih Seraya mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk di sebelahnya.
"apa sebenarnya terjadi?"tanya Ratih dengan nada hati-hati karena wanita parah kaya itu melihat aura yang tidak biasa yang ditunjukkan oleh putranya saat ini.
Fandy beberapa kali menghela nafas panjang. setelahnya, mulai menceritakan semuanya pada ibu kandungnya itu. sontak saja Hari itu membuat Ratih merasa sangat terkejut. wanita paruh baya itu merasa tidak terima karena mendengar penuturan dari Sang putra.
__ADS_1
" ini tidak bisa dibiarkan! apakah kita harus mendatangi keluarga mereka dan memberikan pelajaran?"tanya Ratih dengan raut wajah yang begitu gemas dan juga geram.
Fandy sontak saja menggelengkan kepalanya."tidak usah. aku harus bisa memberikan pelajaran yang lebih berharga pada laki-laki itu."ucapnya saya tersenyum miring.
"undangan pernikahan contoh salah satunya."lanjut laki-laki itu tersenyum menyeringai.
Membuat Ratih yang mendengarnya juga ikut merasa bangga atas apa yang akan direncanakan oleh putranya itu.
"bagus Mama juga setuju."sahut wanita paruh baya itu juga ikut tersenyum miring.
*****
"kenapa kamu melakukan hal itu?"tanya Ruri yang merasa tidak terima atas perlakuan yang diperbuat oleh Aditya pada Arthur itu.
Tatapan dari semua orang seketika terarah pada wanita paruh baya itu. membuat Ruri yang melihatnya seketika mengangkat kedua tangan karena dirasa telah salah dalam mengatakan sesuatu.
"ma.. maksudnya, jika kamu melakukan hal itu apakah ada yang menjamin bahwa keluarga mereka tidak akan pernah menuntut balik tentang perbuatanmu itu?"pertanyaan dari wanita itu sukses membuat orang-orang terdiam.
"kamu bener Ma. mereka pastinya tidak akan pernah membiarkan orang yang telah menyakiti putranya lolos begitu saja."Winarto ikut menyahut.
Aditya yang mendengarnya seketika Mendengus kesal."sayangnya aku tidak memperdulikan agar hal itu tante. yang aku pedulikan saat ini adalah harga diri dari Mikaila. terserah mereka mau melakukan apa. yang terpenting saat ini, aku sudah bisa membuat pelajaran pada laki-laki itu."setelah mengatakannya Aditya segera pergi dari sana meninggalkan semua orang yang masih terdiam dengan pikiran masing-masing.
Mikaila seketika memijat pelipisnya yang terasa berdenyut dengan begitu kencang akibat permasalahan yang seperti tidak ada habisnya itu.
"sudahlah lebih baik aku kamar saja aku merasa begitu pusing saat ini."keluhnya Seraya terlalu pergi dari sana. Sarah dan juga Hana seketika ikut menyusul masuk ke dalam kamar Mikaila. memang dua wanita itu sudah beberapa hari ini tinggal bersama dengan Mikaila. dan mereka berdua, dilarang untuk menolak permintaan itu.
__ADS_1