
Beberapa hari kemudian....
Setelah pertemuan antara Arthur dan juga Mikaila yang bersama dengan Fandy dan seorang anak kecil itu, kondisinya semakin memprihatinkan.
Arthur sama sekali tidak ingin berbicara dengan siapapun dan mencoba untuk mengurung dirinya di dalam kamar terus menerus. tentunya Hal itu membuat Claudia merasa begitu khawatir.
Karena wanita paruh baya itu, tidak pernah melihat putranya sampai seperti ini. bahkan dulu saat ditinggal oleh Naima, laki-laki yang memiliki tahi lalat di dunia itu tidak seprustasi ini. tapi sekarang, saat Arthur ditinggal oleh Mikaila, putranya itu sudah seperti orang gila.
Dan Claudia, sama sekali tidak tahu bagaimana caranya untuk membujuk putranya itu agar kembali seperti semula.
"kenapa Arthur malah lebih parah sekarang ini?"tanya Oma Juwita menatap ke arah pintu kamar dari cucunya itu yang masih tertutup rapat.
Claudia dan juga baru yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya. karena memang, kedua manusia berubah yaitu tidak mengerti apa yang dialami oleh Putra mereka. karena Arthur sama sekali tidak pernah berbicara apapun semenjak hari itu.
Karena merasa jengah dan juga tidak tahan, pada akhirnya sesepuh dari keluarga Stanley itu bangkit dan langsung menghampiri kamar milik Arthur. berniat ingin mengajak laki-laki itu makan malam. karena wanita renta itu tahu, cucunya itu selalu makan asal-asalan dan tidak memperhatikan kesehatannya lagi semenjak beberapa hari yang lalu.
Dan hal itu tentu saja membuat semua orang merasa begitu khawatir. tak terkecuali Oma Juwita. walaupun wanita renta itu sempat memiliki perasaan benci kepada cucunya sendiri akibat insiden beberapa tahun lalu itu. namun tidak bisa dipungkiri, jika wanita itu begitu sangat menyayangi Arthur.
tok tok tok
Dengan hati-hati, Oma Juwita mengetuk pintu milik cucunya itu."Arthur apakah kau tidak ingin makan malam?"tanya Oma Juwita beberapa saat kemudian.
Hening...
Untuk beberapa saat kemudian, suasana di balik pintu hening seperti tidak kehidupan. membuat Oma Juwita, seketika menoleh ke arah menantu dan juga putranya untuk meminta kejelasan.
Membuat Claudia dan juga Bahrun yang melihat itu, seketika menggelengkan kepalanya. menandakan bahwa mereka berdua juga tidak mengetahui dengan perubahan dari laki-laki itu.
__ADS_1
Hingga tak lama berselang,...
ceklek
Semua orang, seketika kembali menoleh ke arah pintu kamar dari Arthur yang ternyata telah dibuka oleh pemiliknya. dan tak lama berselang, seorang laki-laki tampan tiba-tiba saja menyembul dari balik pintu.
"kenapa Oma?"tanyanya dengan raut wajah sendu dan juga mata yang sayu. pertanda bahwa laki-laki itu saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"kau tidak apa-apa, kan?"tanya wanita tua itu suara hati-hati.
Sejenak Arthur terdiam. hingga tak berselang lama, laki-laki itu pun menggelengkan kepalanya."Maaf Oma aku tidak lapar."ucapnya yang hendak menutup pintu.
Namun seketika langsung terhenti. saat tangan dari wanita renta itu, mencekal pergelangan tangannya. hingga membuat Arthur, sontak saja menoleh.
"kenapa?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah kebingungan.
Membuat Arthur yang melihat itu seketika merasa sedikit terenyuh. karena di saat semua orang menjauhinya, keluarganya tetap menerimanya dengan lapang dada. masuk juga dengan Oma Juwita. wanita renta itu bahkan sama sekali tidak berubah perlakuannya setelah mengetahui dirinya dituduh sebagai pembunuh yang tidak berdasar.
Setelah terdiam cukup lama, pada akhirnya Arthur pun menganggukkan kepala. dengan segera, laki-laki itu melangkahkan kakinya untuk mengikuti langkah dari anggota keluarganya yang lain yang saat ini tengah menuju ke ruang makan.
Di sana, sesekali Claudia akan melihat ke arah sang Putra yang tampak begitu kacau. dan beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu akan menghela nafas panjang. Mendadak kepalanya begitu pusing karena masalah yang dialami oleh putranya itu yang sepertinya tidak pernah usai.
***
"wah ini bagus sekali di rumah siapa Tante?"tanya Moza. saat mereka baru saja tiba di depan rumah yang begitu mewah.
Membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika tersenyum simpul."ini rumah Tante sayang."jawabnya dengan tersenyum tulus. tak lama berselang, wanita cantik itu segera memeluk kepala dari Moza dan memberikan beberapa kali kecupan di sana.
__ADS_1
Entahlah Mikaila juga merasa tidak mengerti kenapa dirinya menjadi sosok yang begitu menyayangi Moza. padahal mereka tidak begitu akrab dan Baru beberapa kali bertemu. akan tetapi seperti ada ikatan di dalam diri Mikaila untuk bersama dengan bocah kecil itu.
"Mikaila, kau bawa siapa?"pertanyaan dari seseorang yang berada di ambang pintu, membuat kedua wanita itu seketika menoleh. dan tak lama berselang, Moza segera berdiri di belakang Mikaila.
"mah ini Moza."ucap wanita itu dengan begitu tenang dan langsung menggandeng tangan bocah kecil itu untuk bertemu dengan sang Ibu dan memperkenalkannya.
hening...
Untuk beberapa saat kemudian, kedua mata dari Ruri juga ikut memandangi gadis kecil itu dengan pandangan yang begitu lekat. ada perasaan yang sedikit mengganjal dari dalam dirinya saat melihat bocah itu untuk pertama kalinya.
'kenapa aku seperti melihat Mikaila waktu kecil saat melihat wajah Moza saat ini?'batin Ruri bertanya-tanya.
'ah mungkin saja itu hanya kebetulan.' namun dengan segera, wanita paruh baya itu menepis anggapan-anggapan yang hinggap dalam otaknya.
"oh ini anak yang kamu ceritakan itu? kalau begitu ayo masuk."ajak wanita paruh baya itu dengan begitu ramahnya.
Membuat Mikaila dengan segera langsung menggendong Moza dan membawanya untuk masuk ke dalam rumah. Diam-diam, Ruri memperhatikan interaksi di antara kedua manusia berbeda generasi itu. hingga tak lama berselang, kedua sudut bibir dari Ruri terangkat membentuk sebuah senyuman.
"kamu mau makan apa, sayang?"tanya Mikaila dengan begitu lembutnya mengusap kepala dari Moza dengan begitu sayang.
"boleh makan ayam goreng tante?"tanya gadis kecil itu dengan raut wajah takut-takut. membuat Mikaila yang melihat itu, seketika terkekeh pelan.
Dengan perlahan tapi pasti, wanita cantik itu menganggukkan kepala. dan langsung mengambilkan makanan yang disukai oleh gadis kecil itu.
"kamu suka apa jus atau susu?"tanya Mikaila sekali lagi. rasanya gadis kecil itu ingin selalu mengajak Moza berbicara.
"susu coklat."cicitnya tertahan. karena sebenarnya, Moza dilarang oleh Nenek dan juga sang Ayah untuk merepotkan Mikaila. tentunya, dengan tujuan yang berbeda.
__ADS_1
"boleh sayang apa sih yang nggak buat kamu."ucapnya Seraya menjawil pipi gembul milik bocah kecil itu. hingga membuat si pemilik, seketika tertawa karena merasa geli dengan perilaku yang ditunjukkan oleh Mikaila.