Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 85


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian,...


kondisi dari Mikaila semakin lama semakin membaik. Wanita itu sudah tidak lagi histeris cara tiba-tiba seperti sebelumnya. hanya saja, masih sering melamun dan terkadang terisak seorang diri. mungkin saja, wanita itu juga kepikiran tentang si putrinya yang telah tenang di alam sana.


"sayang sudah dong nggak usah sedih-sedih terus."Ruri berjalan menghampiri dan langsung duduk di samping wanita itu. dan langsung merangkul pundaknya.


Membuat si pemilik badan, seketika menoleh dan tersenyum kecil. kemudian berhambur ke dalam pelukan wanita paruh baya itu.


"Terima kasih Mah. makasih karena sudah selalu ada di samping Mikaila. Mikaila sayang Mama."ucap wanita itu terisak pelan di samping pondok sang ibu.


"maaf karena udah selalu ngerepotin kalian berdua sampai saat ini. tapi Mikaila janji, akan berubah menjadi sosok yang lebih penurut dari sebelumnya."sambung wanita itu kembali memeluk tubuh ibunya dengan begitu erat.


Sementara Ruri sendiri, wanita paruh baya itu diam-diam juga ikut menitihkan air mata karena melihat bagaimana nasib nahas yang menimpa Putri semata wayangnya itu. rasa-rasanya, tidak ada seorang ibu pun yang ingin melihat putrinya kesakitan seperti ini. jika bisa memilih, mungkin Ruri lebih memilih dirinya saja yang mengalami kesakitan ini daripada harus melihat putrinya yang mengalami semua hal menyakitkan tentang sebuah pernikahan.


"sssstttt kamu itu ngomong apa? gak ada seorang ibu atau orang tua, yang merasa terbebani dengan anaknya. karena kelahiran seorang anak, itu adalah keinginan orang tua. Jadi mereka harus siap menanggung semua konsekuensi yang terdapat di dalam keinginan itu."ucapnya mencoba untuk menenangkan.


Mikaila yang mendengar itu, mendongakkan kepalanya dan tersenyum simpul mendengar penuturan dari wanita paruh baya yang telah berhasil melahirkan dan merawatnya sampai sebesar ini.


"udah ah nggak usah nangis-nangis terus. jelek anak mama kalau nangis terus."ucap wanita paruh baya itu Seraya menjawil hidung mancung milik Mikaila. membuat si pemilik hidung, seketika mengerucutkan bibirnya.


"kehilangan itu memang berat Sayang. tapi kamu harus ikhlas. karena hidup itu selalu berjalan. dan setiap yang bernyawa, itu pasti akan kembali. dan itu pasti. entah kapan dan bagaimana cara orang itu untuk kembali. yang jelas, semua itu pasti akan terjadi."ucap Ruri dengan penuh wibawa.


Mikaila seketika memejamkan matanya. mencoba untuk melepaskan semua beban yang ada di hati dan juga pikirannya saat ini.


"aku akan mencoba untuk ikhlas."ucapnya Seraya menundukkan kepala dan tersenyum kecil. Ruri sama sekali tidak menjawab apapun. wanita itu, kembali memeluk tubuh putrinya dengan erat.


Ekhem

__ADS_1


Suara dari belakang tubuh mereka, membuat keduanya seketika terjingkat. dan Hal itu membuat pasangan ibu dan anak itu, sukses menulis secara bersamaan.


"Papa! ngagetin aja sih!" seru Mikaila Seraya mengusap dadanya yang terasa berdenyut akibat terlalu terkejut.


Semetara Winarto sendiri, laki-laki paruh baya itu ikut bergabung dan langsung memeluk dua bidadarinya dengan sangat erat. kemudian, mengecup kening kening keduanya secara bergantian.


"Sayang besok adalah jadwal persidangan kamu dengan Arthur. kamu mau datang sendiri, atau menggunakan pengacara?"tanya Winarto hati-hati saat mereka, sudah terdiam cukup lama.


Mendengar kata Arthur, membuat ekspresi wajah dari Mikaila seketika berubah. dan hal itu membuat kedua orang tuanya, seketika saling pandang satu sama lain. dan tak lama berselang, laki-laki paruh baya itu meringis saat mendapatkan sebuah cubitan maut dari tangan istrinya.


"kalau kamu nggak mau menemui suamimu itu, kita pakai pengacara saja. karena Mama tidak ingin kam----"


"aku mau datang sendiri saja Ma, Pa, kalian Tenang saja aku sudah tidak apa-apa."potong Mikaila dengan cepat.


Membuat kedua manusia paruh baya itu, seketika saling pandang. tak lama berselang, mereka menganggukkan kepala.


****


Membuat kedua manusia itu, seketika saling pandang satu sama lain. dan tak lama berselang, menghela nafas berat.


"maafkan kami sayang. kami tidak bisa membantumu untuk kembali bersama dengan istrimu. karena mereka semua, benar-benar sangat membencimu."ucap Claudia pada akhirnya.


Tentunya Hal itu membuat Arthur yang mendengarnya, menatap nanar kedua orang tuanya. sungguh, laki-laki itu merasa sangat frustasi saat ini.


"apakah aku harus berakhir dengan Mikaila dengan cara seperti ini?"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang sangat lirih. dan tak terasa air mata dari laki-laki itu pun mengalir dengan sangat deras.


Bahrun dari tadi hanya diam. karena laki-laki paruh baya itu juga mulai meragukan tentang tindakan yang di lakukan oleh putranya. menurutnya, itu sama sekali tidak mungkin dilakukan oleh Arthur. namun, barang bukti yang terpampang nyata membuat laki-laki itu bimbang.

__ADS_1


"apakah kau ingin menggunakan kekuasaanmu ini untuk lolos dari jerat hukum ini?"tanya Bahrun secara tiba-tiba. sesaat setelah mereka semua terdiam cukup lama.


Membuat Arthur yang mendengarnya, sempat terdiam cukup lama. sebenarnya, dirinya sudah tidak memiliki gairah untuk melawan fitnahan yang ada saat ini. namun di sisi lain, Arthur harus bisa keluar dari tempat ini agar bisa mencari kebenaran atas apa yang menimpa dirinya.


"apakah itu bisa?"tanya laki-laki itu menatap ke arah kedua orang tuanya secara bergantian.


"apapun bisa terjadi jika menggunakan uang."sahut Claudia dengan tenang.


Lama laki-laki itu terdiam, dan memikirkan tentang semuanya. hingga pada akhirnya, Arthur pun menggelengkan kepalanya.


"biarkan semua mengalir seperti air. karena jika aku keluar dari penjara ini lebih cepat, maka aku tidak akan pernah bisa mendapatkan maaf dan kesempatan untuk bersama dengan Mikaila."ucapnya tertunduk lesu.


Claudia dan juga baru yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. mereka menghargai keputusan dari putranya itu.


****


"hahaha akhirnya aku bebas!" seru Fandy dengan begitu girangnya. karena berkat perkelahiannya dengan Arthur beberapa hari yang lalu, hukumannya seketika diremisi karena dia berkelakuan baik dengan tidak membalas pukulan dari Arthur.


"aku akan berusaha untuk mendapatkan kamu lagi sayangku."ucapnya menyeringai.


"saudara Fandy, Anda ditunggu oleh keluarga. dan sekarang anda sudah boleh bebas."ucap sipir penjara itu Seraya membuka sel tahanan milik laki-laki itu.


Fandy yang mendengarnya seketika tersenyum lebar. dan dengan langkah pasti, laki-laki itu melangkahkan kakinya untuk menghampiri kedua orang tuanya.


Namun, langkah laki-laki itu memelan saat mendapati sesuatu di depan matanya.


'Tunggu, anak siapa yang di di gendong Mama?'batin laki-laki itu bertanya-tanya. Demikian, Fandy tetap melanjutkan langkahnya untuk mendekati kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2