Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 87


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, terlihat tiga orang manusia tengah berbincang-bincang dengan serius. Mereka tampak mengobrolkan sesuatu hal yang penting.


"apakah kau yakin bahwa bayi yang ditemukan oleh orang tuamu adalah sesuai dengan ciri-ciri yang aku katakan beberapa hari yang lalu?"tanya Citra dengan raut wajah yang masih tidak percaya.


"aku serius. bahkan sekarang, bayi itu masih berada di tangan kedua orang tuaku."jawab laki-laki itu dengan yakinnya.


" lalu,apa yang akan kamu lakukan?"tanya Naima yang sejak tadi diam.


Seketika itu pula, senyum dari laki-laki itu melebar dengan sempurna."aku akan jadi pahlawan dengan berpura-pura---"dengan semangat, Fandy segera menceritakan rencananya. membuat kedua wanita itu, seketika mengangguk setuju.


"oke bagus sekali idemu."sahut Naima dengan cepat. untuk saat ini, wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa selain mengandalkan Fandi untuk melancarkan aksinya.


Setelah selesai berbincang-bincang dengan kedua wanita itu, Fandy memutuskan untuk segera pulang ke rumah. dirinya mencoba akan mendekatkan diri pada bayi mungil itu. siapa tahu saja, putri dari Mikaila itu, menjadi terbiasa dan tergantung padanya. dan hal itu akan memudahkan semua rencananya.


Sesampainya di dalam rumah, Fandy segera bergegas mengganti pakaian dan juga membersihkan diri. karena laki-laki itu ingat, bahwa bayi Mikaila adalah bayi prematur yang tentu saja kesehatannya, lebih rentan dan juga lebih beresiko dari bayi normal pada umumnya.


"eh ada apa ini?"tanya Ratih merasa terkejut saat Putra tunggalnya, tiba-tiba saja datang menghampiri. karena wanita paruh baya itu, merasa sedikit aneh dan janggal dengan tindakan yang dilakukan oleh putranya itu.


"apakah aku boleh menggendong bayi ini?" tanya Fandy dengan nada antusias. dan hal itu, sempat membuat kedua orang tuanya menganga lebar. karena merasa terkejut.


"ka...kau yakin?" tanya wanita paruh baya itu, dengan tatapan tidak percaya.


" memangnya kenapa? ada yang salah?" Fandy balik bertanya dengan alis terangkat.


Mereka berdua seketika menggelengkan kepala. dan mulai menyerahkan bayi itu pada Fandy. membuat laki-laki jangkung itu, tersenyum lebar.


Fandy yang biasanya tidak bisa mengurus anak kecil, kini tiba-tiba saja menjadi sosok laki-laki yang sangat lembut. tentunya Hal itu membuat kedua orang tuanya, menjadi kebingungan seorang diri. Namun demikian, mereka diam-diam tersenyum kecil saatmu memandang pemandangan itu.


"Ma, Pa, bolehkah aku merawat bayi ini?"tiba-tiba saja, Fandy bertanya seperti itu. membuat kedua orang tuanya, seketika saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


"bukankah memang bayi ini berada pada kita?"tanya Ratih dengan raut wajah kebingungan.


"maksudku, biar dia menjadi putri angkatku dan memanggilku dengan panggilan Papa dan memanggil kalian dengan sebutan nenek dan juga kakek."ucap laki-laki itu memperjelas.


uhuk uhuk


Mereka berdua sukses tersedak salivanya sendiri saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Fandy.


"kau serius?!"tanya Ratih dengan raut wajah tidak percaya.


"aku serius!"jawab Fandy dengan raut wajah bersungguh-sungguh. membuat mereka berdua kembali saling pandang satu sama lain.


"memangnya kau bisa mengurus bayi?"tanya Arga dengan raut wajah tidak yakin.


Karena mereka berdua tahu jika Fandy tidak menyukai anak kecil. dan tiba-tiba saja, laki-laki itu menginginkan bayi perempuan ini menjadi anaknya? agak mencurigakan memang. tapi Ratih merasa, ini sesuatu hal yang baik karena dengan seperti ini, Fandy akan lebih bisa dekat dengan anak kecil.


"baiklah terserahmu saja."ucap Ratih pada akhirnya. membuat Arga yang mendengar itu, tampak terkejut bukan kepalang.


"memangnya kenapa? bukankah itu hal yang bagus jika Fandy dapat berbaur dengan seorang anak kecil?"Ratih balik bertanya.


"terserahmu saja."ucap laki-laki paruh baya itu memalingkan wajahnya enggan untuk berdebat dengan sang istri.


Sementara Fandy yang berada di tengah-tengah mereka, sama sekali tidak memperdulikan ocehan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya itu. yang terpenting saat ini, langkah awal dari rencananya sudah berjalan dengan lancar.


"aku akan pastikan, kau dan seluruh kekayaanmu akan jatuh ke tanganku secepat mungkin."ucap laki-laki itu dalam hati dengan tekad yang begitu kuat.


****


"Sayang apakah perasaanmu sekarang lebih lega?"tanya Ruri pada putrinya. saat mereka, sudah berada di depan rumahnya sendiri.

__ADS_1


Mikaila yang mendengar itu seketika menganggukkan kepala. dan dengan segera masuk ke dalam rumah itu.


Namun seketika, langkahnya terhenti saat melihat ada beberapa orang yang telah berkumpul di ruang tamu.


"kalian?"sapa wanita itu pada kedua sahabat dan juga sepupunya yang sudah duduk manis di sana.


"halo Mikaila apa kabar?"tanya mereka semua secara serempak.


Hal itu membuat Mikaila yang mendengarnya, menaikkan satu alisnya merasa bingung dengan situasi saat ini. Namun demikian, wanita yang baru saja merasakan patah hati luar biasa itu ikut bergabung bersama dengan sepupu dan teman-temannya.


"mau jalan-jalan atau tidak?"tanya Sarah merangkul pundak sahabatnya itu.


"mau ke mana memangnya?"tanya wanita itu Seraya menoleh kepada sahabat-sahabatnya.


"makan bakpia kesukaanmu."jawab mereka serempak. tentunya Hal itu membuat Mikaila yang mendengarnya, menatap ketiga orang itu dengan tatapan berbinar.


"aku mau aaaa"sahutnya histeris lebay. dan hal itu sukses membuat semua orang yang ada di sana, tertawa pelan karena melihat reaksi dari wanita itu.


"Mama sama Papa mau ikut nggak?"tanya Mikaila menatap kepada Ruri dan juga Winarto yang saat ini berdiri di hadapannya.


Mereka berdua kompak menggelengkan kepalanya."nggak usah kalian aja yang pergi! lagi pula, ini kan acara para jomblo jomblo."kelekar Ruri disertai kekehan kecil di sana.


Mikaila yang mendengar itu, seketika mencebikkan bibirnya ke bawah. membuat mereka semua semakin tertawa. dan pada akhirnya, Mikaila dan teman-temannya memutuskan untuk segera pergi dari sana.


"udah nggak usah sedih-sedih terus. hidup itu terus berjalan. kehilangan dan juga memiliki, itu sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Yakinlah, bahwa suatu saat nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih panjang dari ini."ujar Aditya merangkul pundak sepupunya itu.


"kenapa kebahagiaan yang lebih panjang? kenapa nggak lo bilang kebahagiaan selamanya?"tanya Sarah menimpali.


Sontak saja Aditya yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah sahabat sepupunya itu dengan tatapan sebel.

__ADS_1


"emangnya di dunia ini ada sesuatu yang abadi?"tanya laki-laki itu sinis.


Sarah seketika menatap tajam ke arah laki-laki itu. entah mengapa, keduanya tidak bisa akur jika dipertemukan dalam suatu waktu. sementara Hana dan juga Mikaila yang menonton itu, hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol dari sahabat dan juga sepupunya itu.


__ADS_2