
Beberapa hari kemudian,...
setelah pertemuannya dengan Fandy dan juga Moza, entah mengapa Mikaila menjadi sosok yang lebih pendiam dari biasanya. dan itu santai saja membuat orang-orang yang ada di sana, kembali merasa khawatir luar biasa.
Bergantian, mereka semua mencoba untuk menghibur wanita yang baru saja kehilangan anaknya itu. agar tidak terlalu depresi dan juga terlarut-larut dalam kesedihan.
"sudahlah Mikaila lebih baik sekarang kita fokus pada pekerjaan aja. lagi pula, kamu kan memiliki anak asuh yang lucu-lucu."ucap Aditya mencoba untuk menenangkan.
Membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika menoleh kepada sepupunya itu dan mencoba untuk tersenyum. walaupun hati dan juga pikirannya, masih tetap terbayang-bayang putri cantik yang dibawa oleh seseorang yang ada di masa lalunya itu.
"lebih baik kita ke pasar saja yuk. daripada, di sini galau terus menerus." ajak Sarah pada sahabatnya itu.
Mikaila yang mendengar itu pun, segera menganggukkan kepala. kemudian segera bergegas menuju ke tempat yang akan mereka tuju untuk membeli sesuatu yang memang harus disediakan di panti milik Mikaila itu. dan setelah selesai barang-barang itu Mikaila juga memberi barang-barang untuk keperluan restoran miliknya.
Karena Wanita itu sudah mulai aktif untuk kembali membuka bisnis makanan yang sempat terhenti untuk beberapa saat.
***
Sesampainya di sana, mereka semua segera menuju ke tempat-tempat yang memang telah diincar selama mereka masih berada di rumah milik Mikaila itu.
"kamu mau membeli apa saja di sini?"tanya Aditya pada sepupunya itu.
Mikaila seketika menoleh ke arah sumber suara. kemudian dengan segera mulai menunjuk beberapa barang yang memang harus ia sediakan.
"beberapa bedong, popok bayi, beberapa botol susu dan juga kereta bayi."tunjuk wanita itu pada beberapa barang yang memang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Aditya sun tak mengerutkan keningnya. karena laki-laki itu merasa kebingungan. kenapa harus membeli di tempat seperti ini. bukankah kedua orang tua Mikaila mampu memberikan yang terbaik dan memberikan sesuatu itu di pusat perbelanjaan termahal? tapi kenapa malah membeli di tempat seperti ini? batin Aditya bertanya-tanya.
"kenapa malah melamun?"tanya Mikaila dengan raut wajah heran. membuat Aditya yang mendengar itu, seketika menoleh dan menatap ke arah sepupunya itu dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.
"kenapa kamu malah memberi di tempat seperti ini? bukankah seharusnya kamu membeli di tempat-tempat ternama?"tanya laki-laki itu pada akhirnya.
Mikaila yang mendengar itu, sempat tertegun seseorang. sebelum pada akhirnya, wanita itu menghela nafas panjang.
"sepertinya aku mulai saat ini harus hidup lebih sederhana. kalau di tempat seperti ini bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, kenapa kita harus memilih tempat mahal? toh Di sini juga sama-sama berkualitas. yang membedakan, tempat dan juga harganya."ucap wanita itu panjang lebar.
Aditya sempat terdiam untuk beberapa saat. sebelum akhirnya, laki-laki itu pun menganggukkan kepala setuju. dengan segera mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing untuk membeli sesuatu yang mereka butuhkan di panti nanti. apalagi mulai saat ini, Fandy sudah mulai mengucurkan dana untuk fasilitas dan semua yang menyangkut tentang panti asuhan.
Sepertinya penilaian Mikaila tentang laki-laki itu, sudah salah. karena semenjak mereka bertemu beberapa hari yang lalu itu, sifat dan juga sikap Fandi sudah berubah total.
Membuat Mikaila, sedikit menghirup udara lega. setelah selesai dalam membeli sesuatu yang telah mereka butuhkan, pada akhirnya Mikaila dan juga yang lain memutuskan untuk menyantap soto ayam yang memang berada di pasar itu.
Sementara itu di tempat lain, terlihat keluarga Fandy menikmati makanan mereka. dan tak lama berselang, salah seorang pelayan di rumah itu datang menghampiri keluarga yang tengah bersantai itu.
"permisi Nyonya Ratih. saya mau izin ke pasar untuk membeli beberapa keperluan yang memang telah habis."beritahu wanita paruh baya itu pada orang-orang yang ada di sana.
Membuat Fandy yang mendengar itu, seketika mengerutkan keningnya. kemudian dengan segera, menatap ke arah ibunya dengan tatapan bingung.
"bukankah biasanya berbelanja di supermarket ataupun di mall? kenapa malah ke pasar?"tanyanya.
"di pasar lebih murah Fandy. lagi pula, kualitas di sana juga tak kalah bagus kok. hanya yang membedakan adalah tempat dan juga harganya."sahut Ratih dengan masih mengoleskan selai coklat di roti yang ada di atas tangannya itu.
__ADS_1
Fandy hanya membuang muka saja. karena laki-laki itu pasti akan kalah jika berhadapan dengan salah satu ras terkuat di bumi ini. jadi daripada menambah masalah, baik laki-laki itu membungkam mulutnya saja.
"nanti kamu pergi sama saya."ucap Ratih setelah beberapa saat berdiam diri di tempatnya.
Sontak saja Moza yang mendengar itu, seketika menoleh dengan raut wajah berbinar."aku mau ikut dong Oma. boleh kan Pi?"Tanya bocah kecil itu dengan raut wajah yang begitu memelas.
"tapi sayang kamu kan---"
"boleh saja nanti kamu sama Oma."ujar Ratih sebelum putranya itu berhasil menyelesaikan ucapannya.
"sudahlah tidak usah dikekang. jangan sampai, Moza menjadi tidak betah bersama denganmu karena terlalu dikekang."tegur Arga pada putranya itu. dan pada akhirnya, yang dapat dilakukan oleh Fandy hanyalah pasrah.
***
Sementara itu di tempat lain terlihat keluarga dari Stanley baru saja berkumpul di rumah keluarga mereka. dan sepertinya, tengah membahas sesuatu yang begitu penting. lihat dari raut wajah mereka yang tampak sekali tegang.
"apa kamu yakin kamu tidak pernah melakukan aksi pembunuhan itu?"tanya Bahrun untuk yang sekian kalinya pada putranya itu. membuat Arthur yang mendengar itu, seketika memutar bola mata malas.
"aku yakin 100%."takutnya dengan tegas.
" lalu, bagaimana cerita sebenarnya sehingga kamu bisa dituduh sebagai dalang dari pembunuhan itu?"tanya Claudia dengan raut wajah penasaran.
Karena memang, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu tidak pernah membeberkan kejadian yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. karena menurutnya, percuma juga dirinya melakukan hal itu karena pasti akan tetap kalah di persidangan. Karena mantan istri dan juga keluarganya, tetap kekeh dalam pendirian.
Setelah menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya secara perlahan, pada akhirnya Arthur mulai menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya itu. tidak ada yang ditutupi dalam kasus ini.
__ADS_1
"kalau begitu, kita harus menemui keluarga dari Mikaila untuk mengatakan hal yang sebenarnya ini."usul Claudia setelah mereka terdiam cukup lama.
"itu tidak akan pernah terjadi. karena mereka sudah sangat membenci kita. apalagi, kita masih belum ada bukti yang cukup kuat untuk mengatakan hal itu."Arthur menggelengkan kepalanya lemah.