Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~53


__ADS_3

Di pagi harinya, kondisi dari Mikaila sudah membaik. Dan saat ini, wanita yang tengah berbadan dua itu, tengah berada di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari rumah sakit itu.


Sebenarnya semua orang telah melarang wanita itu untuk berjalan-jalan jauh. Karena mereka masih merasa ngeri Jika sesuatu kembali terjadi pada wanita hamil itu.


Memang dasarnya Mikaila adalah seorang wanita yang sangat keras kepala. Hingga pada akhirnya, mereka semua pun mengalah. Dan mengizinkan wanita yang tengah berbadan dua itu untuk berjalan-jalan.


"Kenapa Mikaila?"hanya Sarah dan juga Hana secara bersamaan. Saat keduanya melihat sahabatnya, mengusap perutnya sendiri.


"Kenapa tiba-tiba saja aku pingin makan telur gulung?"tanya wanita itu Seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oh mau aku pesankan?"tanya Sarah menawarkan.


"Emangnya di sini ada?"bukannya menjawab, Mikaila justru balik bertanya.


Membuat si lawan bicaranya, seketika langsung menuju ke arah sebuah gerobak kecil yang terdapat di pinggir jalan tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


Tentunya Hal itu membuat Mikaila yang melihatnya, seketika berbinar. Dan tak berselang lama, wanita yang tengah berbadan dua itu menganggukkan kepala dengan antusias.


"Tiba-tiba aku ingin makan makanan itu bersama dengan es krim rasa mocca."sahutnya Seraya mendongakkan kepalanya ke atas seraya tersenyum lebar.


Hana dan juga Sarah yang melihat itu, seketika hanya menggelengkan kepalanya. Namun demikian, wanita itu tetap membelikan Mikaila apa yang dia mau. Dan yang bertugas untuk membelikan makanan itu, adalah Hana.


Sementara Sarah sendiri, wanita itu tetap mendampingi wanita hamil itu di bangku taman.


"Bagaimana kondisimu?"tanya Sarah secara tiba-tiba hingga membuat pandangan mata dari Mikaila, yang awalnya menatap fokus ke arah gerobak makanan itu, seketika beralih menatap Sarah.


"Aku baik-baik saja bukankah kata dokter memang seperti itu? Bukankah kamu sudah mendengar secara langsung?"tanya wanita itu Seraya mengerutkan keningnya merasa bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kalau kondisi fisikmu, aku juga tahu. Yang aku tanyakan, adalah kondisi hati saat ini? Apakah masih baik-baik saja?"tanya wanita itu secara perlahan-lahan.


Membuat raut wajah dari Mikaila, yang awalnya sangat berseri, seketika berubah menjadi murung. Hal itu sukses membuat Sarah yang melihatnya, merasa sangat bersalah. Bersamaan dengan itu, Aditya datang menghampiri keduanya. Laki-laki yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Mikaila itu, seketika menatap heran.


"Kenapa?"tanya Adit  seraya menaikkan satu alisnya.


"Tidak apa-apa."jawab Mikaila Seraya tersenyum simpul. Adit yang melihat itu hanya menganggukkan kepala. Karena dirinya, sekali tidak ingin mengusik dan membuat hati dari wanita yang tengah berbadan dua itu, menjadi kacau kembali.


"Mau makan telur gulung atau tidak?"tanya laki-laki itu saat melihat adanya penjual di sana.


"Sudah dibelikan sama Hana. Itu orangnya sedang mengantri."jawab Mikaila Seraya menunjuk ke arah seseorang yang telah berdiri di sana.


Aditya yang mendengar itu, juga ikut memfokuskan pandangannya kepada Hana. Dan tak lama berselang, laki-laki itu mengajak Mikaila untuk masuk ke dalam kamar inapnya kembali.


"Kita masuk ke dalam, ya? Kita tunggu teman kamu di dalam saja. Di sini, udaranya sudah semakin panas."ucap Aditya mengajak sepupunya itu.


Mikaila langsung menganggukkan kepala. Karena memang, dirinya juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh sepupunya itu. Dan pada akhirnya, mereka bertiga segera pergi dari sana. Namun sebelum itu, Mikaila meminta Sarah untuk mengirimkan pesan pada Hana. agar wanita itu tidak merasa kebingungan saat tidak mendapati dirinya di sana.


***


Sementara itu di hadapan penjual telur gulung itu, terlihat Hana tengah mengantri. Dan sesekali, wanita itu akan memainkan ponselnya sembari menunggu pesanannya selesai dibuat.


Karena saking asyiknya bermain ponsel, Hana sampai tidak menyadari kehadiran seseorang di sebelahnya. Hal itu masih terus berlanjut hingga beberapa menit ke depan. Hingga saat penjual telur gulung ituengatakan bahwa pesanannya sudah jadi, wanita itu baru meletakkan ponselnya di saku celana yang tengah ia gunakan.


"Berapa semuanya, Pak?"tanya Hana yang bersiap akan mengambil uang itu dari dalam saku jaketnya.


"Tidak usah neng. Tadi  sudah ada yang membayar."jawab penjual itu dengan cepat.

__ADS_1


"Siapa Pak?"tanya Hana Seraya menatap kiri dan juga kanan. Suasana di sana, terlihat sangat sepi.


"Ada neng seorang laki-laki. Kalau begitu, saya permisi dulu."ucap penjual itu Seraya mendorong gerobaknya kembali untuk melanjutkan aktivitasnya.


Sementara Hana sendiri, wanita itu masih merasa sangat kebingungan dengan kejadian yang baru saja ia alami.


"Duh kenapa harus dibayarin? Gimana kalau orang itu adalah orang jahat? Dan meminta tebusan atas apa yang telah diberikan pada Mikaila?"tanya tanda pada dirinya sendiri dengan mendramatisir keadaan.


"Apa aku buang saja, ya?"selanjutnya masih bertanya pada dirinya sendiri.


Hana hendak mengangkat tangannya ke udara. Bersiap untuk melemparkan makanan itu ke sembarang arah.  Namun Seketika harus terhenti. Saat mendengar suara seseorang dari arah belakang tubuhnya.


"Jangan dibuang Itu dariku!"seru orang itu Seraya berjalan cepat menghampiri dan langsung merebut makanan itu.


Tentu saja, membuat Hana yang melihatnya, membulatkan kedua matanya. Tanpa pikir panjang lagi, wanita itu segera berlari hendak menghindari laki-laki yang sangat dibenci oleh sahabatnya untuk saat ini. Siapa lagi orangnya jika bukan Arthur.


Laki-laki itu, masih tetap berusaha untuk menemui istri dan juga calon anaknya. Dirinya sama sekali tidak peduli dengan ucapan dan juga hinaan yang mungkin akan dilontarkan oleh keluarga istrinya. Yang terpenting saat ini, dirinya harus bisa bertemu dengan wanitanya itu.


"Kakak lebih baik pergi dari sini. Aku tidak ingin, Mikaila kembali celaka."ucap Hana dengan menundukkan kepala.


"Ck,  kau ini bicara apa? Mana mungkin aku membiarkan keluarga kecilku dalam bahaya seperti itu?" Tanya Arthur dengan nada sedikit kesal.


"Buktinya kemarin  itu apa, jika bukan karena keteledoran mu?"bukan Hana yang menjawab. Melainkan Seseorang yang berasal dari belakang. Hingga membuat keduanya, serentak menoleh ke arah sumber suara.


"Aku pikir kau ke mana? Kenapa lama sekali? Eh tidak tahunya ternyata berbicara dengan orang yang telah menyebabkan Mikaila terluka seperti ini?" Sindir Sarah Seraya menarik tangan dari Hana agar segera pergi dari tempat itu.


Karena memang, telur gulung itu telah ditunggu oleh Mikaila dari tadi. Namun sebelum itu, Sarah menyempatkan diri untuk mengatakan sesuatu hal pada laki-laki itu.

__ADS_1


"segera selesaikan masalahmu dengan mantanmu itu. karena jika tidak, kamu akan mendapatkan banyak sekali penolakan dari keluarganya. termasuk juga dari kami para sahabatnya." setelah telah mengatakan hal itu, Sarah segera menyeret tubuh dari anak untuk kembali melangkah.


Meninggalkan Arthur yang masih terpaku di tempatnya.


__ADS_2