Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 86


__ADS_3

Hari ini, adalah hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Mikaila dan juga keluarganya. karena hari ini, adalah sidang pertama kasus perceraiannya dengan Arthur.


Membuat wanita itu sedikit merasa gugup. apalagi nantinya, dirinya akan bertemu dengan kedua orang tua dari laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu.


Entah mengapa, Mikaila sedikit merasa grogi dan juga rasa takut jika acara hari ini, akan berjalan sedikit tidak normal. namun demikian, Mikaila mencoba untuk tetap bersikap tenang.


"apakah kau sudah siap Mikaila?"tanya Winarto Seraya menyentuh pundak dari Sang Putri. membuat orang itu, seketika menoleh dan menganggukkan kepala.


"kita berangkat sekarang."ucap wanita itu penuh dengan ketegasan. dan pada akhirnya, keluarga dari Wardani itu memutuskan untuk segera menuju ke tempat yang telah mereka sepakati sebelumnya.


Di sepanjang perjalanan, wanita itu tampak menatap lurus ke depan. sementara kedua orang tuanya, berada di sisi dan kanan tubuhnya. mencoba untuk menguatkan Putri mereka satu-satunya itu.


"Tenang sayang semuanya akan baik-baik saja."ucap Ruri mencoba untuk menenangkan Sang Putri. hal itu mendapatkan anggukan kepala oleh wanita cantik itu sendiri.


"terima kasih Ma, Pa, semoga Mikaila, akan tetap merasa kuat seperti ini."sahutnya dengan lembut dan tersenyum simpul.


Mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. sementara Mikaila sendiri, wanita itu mencoba untuk memejamkan mata agar semua ingatan buruk itu bisa sedikit pudar dari dalam kepalanya.


***


Sementara itu dari tempat lain, terlihat Arthur yang baru saja keluar dari dalam penjara dengan raut wajah yang begitu lesu. laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, diperbolehkan oleh pihak kepolisian untuk mendatangi proses perceraian yang sudah berlangsung di sebuah pengadilan umum itu.


"bagaimana apakah kamu sudah siap?"tanya Bahrun saat melihat putranya keluar dari dalam ruang penjara itu.


"Tidak ada manusia normal yang merasa siap jika akan ditingkat oleh orang yang ia sayangi."sahut laki-laki itu dengan nada suara datarnya.


Bahrun dan Claudia yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang."maafkan kami. kami memang benar-benar tidak bisa untuk membantumu."ucap mereka berdua penuh dengan penyesalan.


"sudahlah semua juga sudah berakhir!" pasrah laki-laki itu dengan langkah gontai.


Mereka semua segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang akan menjadi saksi perpisahan dua anak manusia yang seharusnya masih saling mencintai. namun Harus terpisah karena keegoisan dari salah satunya.

__ADS_1


****


" jadi dia bayi siapa?"tanya Fandy yang saat ini sudah bergabung dengan keluarganya tengah duduk di ruang keluarga.


"Mama juga tidak tahu. yang Mama tahu adalah, saat ini putri cantik ini, sudah menjadi putri Mama."ucap Ratih Seraya tersenyum kecil menatap ke arah wajah damai bayi mungil itu.


Membuat Fandy yang mendengar itu, ketika memutar bola mata malas. dan tanpa sengaja, laki-laki itu menatap ke telapak kaki milik bayi itu yang kebetulan tidak terbungkus apapun.


"kenapa aku merasa familiar dengan tanda itu?"tanya Fandy Soraya mencoba untuk mengingat-ingat apa yang hilang dalam ingatannya.


Tak berselang lama, Fandy segera mengeluarkan ponselnya. kedua matanya seketika membulat sempurna saat menyadari sesuatu.


"aku harus bertemu dengan mereka. aku harus memastikan semuanya."setelah mengatakan hal itu, Fandy berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi sebentar ke suatu tempat.


****


Sementara itu di ruang sidang, terlihat Arthur menatap nanar ke arah wanita yang sebentar lagi, akan menjadi mantan terindahnya itu.


Mikaila dengan mantap, menganggukkan kepala. dengan segera mulai menceritakan apa yang ia alami. mereka semua yang ada di sana, tempat terdiam mengamati dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh wanita cantik itu.


"baiklah! kalau begitu, dengan ini kalian berdua sudah resmi bercerai!"bertepatan dengan kalimat itu, suara ketukan palu seketika menggema di ruang sidang itu.


Membuat Arthur yang melihatnya, seketika mengalirkan cairan bening itu dari dalam kelopak matanya. dirinya benar-benar kehilangan Mikaila sekarang. dan sekarang ini, laki-laki itu tidak tahu kapan dirinya akan bersatu dengan wanita itu.


Selesai keputusan itu, Mikaila dan juga keluarganya segera keluar dari tempat itu dengan raut wajah lega. namun langkah mereka harus terhenti saat mendengar suara dari Arthur.


"tolong apakah aku boleh berbicara sebentar padamu?"tanya Arthur dengan mata memerah.


membuat Mikaila yang mendengar itu sejenak terdiam. kemudian menatap ke sekeliling menatap semua keluarganya. yang saat ini, tengah menetap ke arah Arthur dengan tatapan penuh kebencian.


"putriku tidak pernah Sudi bicara denganmu lebih baik kau----"

__ADS_1


"tidak apa-apa jika sebentar saja."potong mikhaila dengan cepat. dan dengan segera, menatap kedua orang tuanya dengan memberikan sebuah isyarat pada mereka untuk segera ke depan terlebih dahulu.


"apakah kau yakin?"tanya Aditya mencoba untuk memastikan.


"tentu saja! memangnya kenapa?"tanya wanita itu Seraya mengangkat sebelah alisnya. membuat mereka semua yang ada di sana, seketika menghembuskan nafasnya panjang.


"Ya sudah kalau begitu kita tunggu kamu di mobil. setelah selesai, jangan lupa cuci tangan." ucapnya dengan melirik sinis ke arah keluarga Stanley.


Claudia yang mendengar itu, seketika membulatkan kedua matanya. merasa tersindir dengan ucapan sepupu dari mantan menantunya itu. namun demikian, Claudia harus tetap terlihat tenang.


Dan pada akhirnya, mereka semua segera pergi meninggalkan Arthur dan Mikaila untuk berbicara dari hati ke hati.


"kenapa kau ingin berbicara denganku?" tanya wanita itu dengan tatapan datar dan nada suara yang sangat dingin.


Arthur yang mendengar itu, seketika terdiam. karena merasa wanita yang ada di hadapannya saat ini, sudah semakin tinggi dan tidak bisa di jangkau.


"apakah tidak ada lagi rasa yang tersisa untukku?" tanya laki-laki itu dengan nada sendu.


Mikaila yang mendengar itu, seketika mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah laki-laki yang baru saja menyandang sebagai mantan suaminya itu.


"rasa belas kasihan dan juga rasa sayangku, sudah mati bersama dengan anakku yang kamu bunuh!" ucapnya sengak.


" bukan aku yang melakukan itu semua. tolong percayalah padaku." ujarnya tertunduk lesu.


Mikaila sama sekali tidak memperdulikan apa yang di katakan oleh laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. dengan langkah tergesa-gesa, wanita itu segera pergi dari sana.


Sementara Arthur sendiri, mencoba untuk mengejar wanita yang namanya masih berada di tahta tertinggi di dalam hatinya.


Namun sayangnya, laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa. karena langkanya di hentikan oleh beberapa petugas yang berada di sekitarnya.


"aku akan membuat kamu kembali padaku. aku janji!" gumamnya Seraya berjalan keluar dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2