
Sementara itu di dalam kediaman keluarga Stanley, semuanya tampak berubah. tidak ada lagi pertengkaran di antara Naomi dan juga Claudia. sepertinya pasangan mertua dan menantu itu sudah menyadari kesalahannya masing-masing. dan sepertinya, keluarga itu kembali damai seperti dulu.
Terbukti dengan pemandangan pagi ini. di mana Naima yang saat ini tengah berkutat dengan semua peralatan yang berada di dapur. tentu saja hal itu membuat orang-orang yang ada di sana, merasa curiga. mereka bahkan saling pandang satu sama lain. pemikiran masing-masing.
"kenapa istrimu itu bisa menjadi baik seperti itu? apakah ada sesuatu yang disembunyikan?"tanya Oma Juwita dengan nada suara yang begitu pelan. karena wanita rentan itu tidak ingin berurusan dengan sosok siluman yang ada di hadapannya saat ini.
Arthur yang mendengar itu seketika mengedikkan bahunya. karena memang laki-laki itu tidak mengerti apa yang direncanakan oleh Naima. karena laki-laki itu hanya menikah dengan Naima di atas kertas.
Sehingga gelap itu merasa tidak ada kewajiban untuk mengikuti alur kehidupan yang dilakukan oleh wanita itu.
"jangan sampai kita lengah."ucap Claudia yang tiba-tiba saja berjalan di tengah-tengah Oma Juwita dan juga Arthur. membuat kedua orang itu seketika menoleh ke arah sumber suara.
"Oma setuju dengan apa yang dikatakan oleh oleh ibumu itu. karena memang perubahan dari Naima terlalu mendadak dan patut untuk dicurigai."tukasnya Seraya melipat kedua tangan di depan dada.
Arthur yang mendengar itu seketika membuang nafasnya kasar."aku akan mencoba untuk masuk ke dalam kehidupan wanita itu. agar kita tahu, apa yang dilakukan oleh wanita itu ke depannya."dengan berat hati, Arthur mengatakan hal itu. karena sebenarnya laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, tidak menginginkan tindakan yang baru saja ia katakan itu. tapi apa boleh buat daripada keluarganya menjadi terancam, lebih baik dia yang berkurban. toh tidak akan selamanya dirinya berada di samping Naima.
Nanti setelah semua kebusukan dari wanita itu terbongkar, Maka ia akan langsung memikirkan wanita itu. Jahat? biarlah orang-orang mengira dia jahat. karena terkadang, orang jahat itu perlu diberikan pelajaran agar dia tidak melakukan hal itu lagi.
"makanannya sudah siap!"teriak wanita itu dengan nada yang begitu girang. hal itu sukses membuat ketiga orang itu membuyarkan lamunan masing-masing.
Sejenak mereka semua saling pandang satu sama lain karena takut akan terjadi sesuatu setelah ini. mereka dengan perlahan-lahan pun mulai mendekati ruangan makan itu dan mulai mendudukkan dirinya di tempat masing-masing.
"kenapa tidak dimakan?"tanya Naima saat melihat orang-orang yang ada di sana hanya diam mematung orang yang menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"apakah kau yakin ini tidak ada racunnya?"tanya Claudia dengan ada yang begitu ketus.
Membuat Naima yang mendengar itu, seketika memutar bola mata malas. "kenapa kalian tidak percaya padaku? Jika aku memang berniat untuk meracuni kalian, mungkin hal itu sudah aku lakukan sejak dulu. tapi nyatanya, sampai saat ini pun kalian masih tetap sehat-sehat saja, kan?"tanya wanita itu Seraya memutar bola mata malas.
Membuat keempat orang itu, seketika saling pandang satu sama lain. karena memang apa yang dikatakan oleh Naima itu ada benarnya juga. jika wanita itu ingin memusnahkan mereka, kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja ? kenapa sampai saat ini mereka masih sehat-sehat saja?
Pada akhirnya, setelah selesai saling pandang satu sama lain mereka semua memutuskan untuk menikmati makanan itu dengan santai saja.
Sementara Naima yang melihat itu seketika tersenyum puas."dasar bodoh. kalian tidak akan pernah merasakan apapun. karena aku hanya mencampurkan racun itu satu tetes aja."batin wanita itu tersenyum menyeringai.
"Arthur apakah kamu ingin datang ke pesta pernikahan Mikaila?"tiba-tiba saja, Claudia bertanya seperti itu. di saat mereka sedang menikmati makanan yang ada di depan mereka saat ini.
Uhuk uhuk uhuk
'apa-apaan lagi wanita itu? kenapa dia bisa berkata seperti itu? apakah dia memang benar-benar sengaja ingin membuatku marah?: batin Naima Seraya menatap tajam ke arah Claudia.
Namun hal itu sama sekali tidak digubris oleh wanita paruh baya itu. karena memang Sepertinya dia sedang sengaja untuk membuat menantu barunya itu panas. dan juga dia ingin menunjukkan, bahwa tidak ada yang bisa menggantikan Mikaila di hati siapapun.
'rasakan itu wanita ular.' desisnya dengan raut wajah yang begitu mengejek. tak lama berselang, segera memalingkan ke arah lain saat melihat tatapan mata dari Naima yang tajam.
*****
"apakah tidak ada tertinggal lagi?"tanya Ratih pada semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"sudah tidak ada nyonya."jawab mereka semua Seraya menggelengkan kepala secara serempak.
Ratih yang mendengar itu pun seketika menganggukkan kepala. karena sepertinya wanita paruh baya itu merasa sangat puas dengan apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang telah Ia pilih.
Tak lama berselang, tampak seorang anak kecil yang berlari ke arah wanita paruh baya itu dan langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Oma dari mana saja? Moza kangen."ucapnya dengan merengek kecil. dan hal itu sukses membuat Ratih seketika tertawa.
"kenapa kamu mencari Oma? apakah sudah merindukan Oma?"tanya wanita paruh baya itu dengan nada menggoda.
Membuat Moza yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala Seraya tersenyum simpul.
Dengan gemas, wanita paruh baya itu langsung menggendong tubuh milik cucunya dan membawanya masuk ke dalam kamar. sejenak, wanita itu pun terdiam. entah mengapa Ratih tiba-tiba saja teringat akan sesuatu.
Bagaimana nanti jika tiba-tiba saja orang tua kandung dari Moza datang dan mengambil bocah kecil itu? apakah Ratih akan merasa sanggup jika hal itu sampai terjadi? secepat kilat, Ratih pun menggilingkan kepalanya.
"tidak! sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah membiarkan gadis ini jatuh ke tangan orang lain. Karena dia sudah menjadi milikku. milik keluarga kami. dan mereka, tidak bisa untuk mengambilnya begitu saja. jika mereka memaksa, maka aku akan siap untuk membawa ini ke jalur hukum!"ucapnya dengan nada tegas dengan tangan yang terkepal kuat.
"Oma kenapa?"tanya Moza saat melihat raut wajah yang begitu mengerikan dari wanita paruh baya itu. tentu saja hal itu membuatnya, merasa sedikit takut.
Mendengar penuturan dari cucunya itu, pada akhirnya Ratih segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedemikian rupa seperti awal mereka bertemu.
"ah Oma tidak apa-apa."sahut wanita itu dengan senyuman tipis.
__ADS_1