Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 47


__ADS_3

Di sinilah mereka sekarang. di depan gerbang sebuah villa yang memang telah disewa oleh Mikaila. tanpa pikir panjang lagi, keduanya segera masuk ke dalam bangunan itu.


"kamu baik-baik saja?"tanya Hana yang merasa sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu.


"aku baik-baik saja. kalian tidak usah khawatir."balas Mikaila dengan senyuman.


"oh ya bagaimana dengan orang-orang itu?"tanya Mikaila dengan raut wajah penasaran.


"mereka sudah dibereskan."jawab salah dengan meminum minuman yang baru saja dibuatkan oleh Mbok Marta.


Mendengar kata 'dibereskan', membuat kedua bola mata milik Mikaila seketika membulat sempurna.


"kalian melakukan sebuah kriminal?"tanya wanita itu dengan polosnya. dan hal itu sukses membuat Sarah dan juga Hana yang mendengarnya, seketika saling pandang satu sama lain. dan tak lama berselang, kedua Gadis itu segera memukul lengan sahabatnya itu dengan gemas.


"Tentu saja tidak!"jawab mereka berdua dengan kesal. nggak membuat wanita yang tengah berbadan dua itu, hanya dapat menyemir.


"apakah ada keluargaku yang mencari?"tanya Mikaila. saat mereka, sudah sama-sama terdiam cukup lama.


"tadi waktu kita berangkat, ada Aditya yang datang menghampiri. dia bertanya, di mana keberadaanmu? katanya, keluargamu sudah mencari kemanapun dan tidak menemukannya. mereka malah berpikir, kalau keluarga suamimu dan juga suamimu sendiri, telah membunuh dan memutilasimu."adu Sarah pada wanita hamil itu.


Tentunya Hal itu membuat Mikaila yang mendengarnya, merasa sedikit terkejut. tidak menyangka, bahwa keluarganya akan menuduh keluarga dari suaminya sampai seperti itu.


"mendingan kamu kasih tahu semuanya pada keluargamu. supaya mereka, tidak lagi menerka-nerka sesuatu yang salah."ucap Hana mencoba untuk menasehati.


Memang di antara mereka bertiga, hanya Hana yang memiliki sifat sedikit kalem dan juga menyelesaikan suatu masalah menggunakan kepala dingin. karena Mikaila dan juga Sarah, lebih mengedepankan emosi daripada akal sehat. itulah sebabnya, Hana akan lebih banyak diam jika salah bertemu dengan Aditya musuh bebuyutannya sejak kecil.


Karena memang mereka berdua sempat menjadi sebuah tetangga di sebuah kompleks perumahan saat mereka dulu menginjak umur 5 tahun. dan permusuhan itu, berlanjut sampai sekarang.


"tapi aku tidak mau membuat mereka membenci keluarga suamiku."jujur Mikaila Seraya menundukkan kepala.

__ADS_1


"apakah kamu masih mencintainya?"tanya Sarah menatap ke arah wanita hamil itu.


"Tentu saja aku masih mencintainya. walaupun dia sudah menyakitiku, tapi rasa cinta itu tidak bisa hilang begitu saja."jawabnya jujur.


Membuat Sarah dan Hana yang mendengarnya, seketika menghela nafas panjang.


"tapi jika tidak seperti itu, maka akan ada masalah yang lebih besar dari ini. bagaimana jika keluargamu nanti akan menuntut keluarga dari suamimu. karena kamu dianggap menghilang karena mereka?"tanya Hana menatap lurus ke depan.


Mikaila yang mendengar itu, sejenak terdiam. bener juga apa kata Hana. bagaimana, jika mereka malah terlibat peperangan hanya karena sebuah kesalahpahaman? ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama. pikirnya


Dan pada akhirnya, Mikaila segera menuruti saran dari Sarah untuk memberitahu semuanya pada keluarga. dan pada akhirnya, Mama dan juga Papanya telah sampai di sini tempat itu dengan perasaan yang sangat lega.


"bagaimana keadaanmu sayang?"tanya Winarto Seraya mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


"aku baik-baik saja Pa. "jawabnya dengan senyuman yang sangat manis.


"iya Sayang, ada apa?"tanya laki-laki paruh baya itu serai menggenggam tangan putrinya yang tampak sedikit kurus itu.


"apa Papa bisa membantu aku?"tanya Mikaila lagi.


"membantu apa? Jika Papa bisa membantu, maka Papa akan melakukannya."ucapnya Seraya tersenyum manis.


Mikaila dengan segera mencoba untuk menceritakan semuanya. membuat Ruri dan juga Winarto yang mendengar itu, seketika saling pandang satu sama lain.


"Papa akan mencoba untuk membantu."ucap laki-laki paruh baya itu pada akhirnya. dan dengan segera, hal itu disambut sebuah senyuman oleh Mikaila.


"oh ya kenapa kamu bisa kabur dari keluarga Arthur? apakah mereka berlaku jahat?"tanya Ruri bertubi-tubi.


Karena memang sejak tadi wanita paruh baya itu belum juga diberitahu alasan mengapa putrinya sampai berada di tempat seperti ini.

__ADS_1


Mikaila yang mendengar itu, seketika terdiam. karena wanita yang tengah mengandung itu merasa benar-benar bingung harus mengatakan apa. karena di satu sisi, dirinya masih sangat mencintai laki-laki itu. dan di sisi lain, ada perasaan sakit hati yang luar biasa setiap kali mengingat adegan yang terpampang nyata di hadapannya.


"apa dia menyakitimu?"tanya Ruri mencoba untuk lebih dekat dengan putrinya.


"sebenarnya..."Mikaila mulai menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya itu. membuat mereka berdua, seketika terdiam.


"kalau begitu, lebih baik kalian pisah saja. lagi pula, kau tidak akan bisa mempertahankan hati seseorang yang telah terpaut dengan wanita masa lalunya. itu sangatlah sulit."jelas Winarto dengan raut wajah yang sedikit murka karena mendengar penuturan dari putrinya itu.


"tapi Pah,..."ucapan wanita itu seketika menggantung di udara saat melihat raut wajah dari laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya itu.


"jangan pernah berfikir untuk masuk ke dalam hati seseorang yang masih terpaut dengan masa lalunya. karena itu, hanya akan membuatmu sakit."ucapnya mengusap kepala Mikaila dengan penuh kasih sayang.


Dan pada akhirnya setelah dibujuk cukup lama, Mikaila memutuskan untuk ikut dengan kedua orang tuanya hari itu juga. dengan membawa Mbok Martha tentunya.


Karena Mikaila pastinya tidak akan pernah merasa tenang jika harus meninggalkan wanita itu seorang diri. Apalagi, Mbok Martha telah berjasa merawatnya saat berada di villa ini.


Beberapa saat kemudian...


Mereka semua telah sampai di depan rumah milik keluarga Wardani. dan setelah sampai, mereka semua segera masuk ke dalam rumah untuk meregangkan otot-ototnya. termasuk juga dengan Sarah dan juga Hana. kedua sahabat Mikaila itu, juga ikut masuk ke dalam.


"saya boleh kerja di sini?"pertanyaan dari Mbok Martha itu, sukses membuat semua orang yang tengah beristirahat, menatap ke arahnya.


"nggak usah Mbok. Mbok Martha tidak usah bekerja. Mbok Martha di sini saja menemani saya."jawab Mikaila Seraya menggenggam tangan wanita paruh baya itu.


"tidak Nona, saya tidak bisa jika harus berpangku tangan seperti ini. minimal jika kalian membawa saya, izinkan saya untuk bekerja. apapun pekerjaannya, akan saya terima dengan sangat ikhlas."sahut Mbok Marta dengan raut wajah bersungguh-sungguh.


"baiklah. kalau begitu, Mbok Martha bisa bekerja membantu keperluan Mikaila dan juga menemaninya di saat kami semua, sedang sibuk."putus Ruri pada akhirnya.


Dan hal itu sukses membuat Mbok Martha, seketika tersenyum lebar. diikuti oleh yang lain.

__ADS_1


__ADS_2