
Sore harinya...
Setelah pulang dari bekerja, Arthur kembali ke rumah kedua orang tuanya untuk menjemput sang istri. sempat ada drama kecil di sana. karena Claudia, masih sempat ngotot untuk membawa cucunya itu tinggal bersamanya.
Namun berkat pengertian dari Bahrun, pada akhirnya wanita paruh baya itu pun mengalah. Dan membiarkan Putra dan juga menantunya memilih untuk tinggal terpisah.
"hati-hati bawa mobilnya. nanti setelah sampai sana, jangan lupa kabari Ibu."ucapnya masih dengan nada yang cemberut. hingga membuat Mikaila yang mendengar itu, sedikit terkekeh.
Sungguh wanita yang tengah mengandung 6 bulan itu merasa begitu beruntung mendapatkan menantu yang begitu menyayanginya. walaupun pada awal pernikahan mereka, Mikaila juga merasakan rasa tidak enak karena harus di juliti oleh mertuanya sendiri.
Beruntungnya Arthur adalah anak tunggal di keluarga itu. sehingga Mikaila tidak memiliki ipar. Karena Wanita itu, tidak bisa membayangkan Jika setiap hari akan bertengkar dengan mertua dan juga ipar iparnya.
****
Setelah perjalanan yang tidak lumayan jauh, Arthur dan juga Mikaila telah sampai di depan rumah mereka. mereka segera turun setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang semestinya.
"Ini rumah siapa?"tanya Mikaila merasa bingung. karena perasaan, rumah yang dulu mereka tempati bukanlah rumah yang ini bentuk dan juga tempatnya sangat berbeda.
Sementara Arthur yang mendengar pertanyaan dari istrinya itu hanya tersenyum tipis.
"kita masuk dulu ya sayang. nanti setelah ini, aku akan mencoba memberitahumu."sahut laki-laki itu Seraya merengkuh pinggang ramping milik sang istri.
Mikaila yang mendengar itu pun menurut mengikuti langkah lebar milik laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu
Mereka disambut oleh beberapa pelayan yang memang sudah bersiap di depan pintu rumah itu.
"selamat datang tuan, nyonya," sapa mereka semua secara serempak dan sedikit membungkukkan badan.
Arthur yang mendengar itu hanya mengganggu sama r namun tanpa senyuman sedikitpun. membuat laki-laki itu, terkesan begitu dingin dan juga menyeramkan.
"Terima kasih semuanya. semoga kalian bisa betah bekerja di sini."sahut Mikaila dengan senyuman manisnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Arthur segera membawa tubuh istrinya untuk menuju ke kamar pribadi mereka yang telah disiapkan oleh para pekerja di rumah itu.
__ADS_1
"sekarang kamu jelaskan apa yang ingin kamu jelaskan."pintanya dengan sedikit mendesak.
"menjelaskan apa?"tanya Arthur Seraya menarik sebelah alisnya ke atas.
Tentunya Hal itu membuat Mikaila yang mendengarnya, sedikit berdecak sebal."nggak usah nyebelin, bisa?"tanya wanita hamil itu Seraya melotot tajam.
Membuat Arthur yang mendengarnya, seketika terkekeh pelan."istri aku ini kalau marah nyeremin juga ya."ucapnya Seraya mengacak acak rambut wanita itu.
"jadi?" tanya wanita itu tanpa memperdulikan tingkah laku dari sang suami.
"Beberapa waktu yang lalu, setelah kepergian kamu yang entah ke mana itu, wanita itu datang menemui aku di rumah kita yang lama. namun belum berhasil menghancurkan, dia sudah aku usir." jelasnya.
"hanya itu?"tanya Mikaila yang masih merasa tidak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"tentu saja. karena aku tidak ingin rumahku dan keberadaanku diketahui oleh wanita itu, pada akhirnya aku memutuskan untuk membeli rumah ini dan menjual rumah yang lama. Agar kita, tidak diketahui oleh wanita sinting itu."jawabnya dengan begitu lembut.
"heleh katanya wanita sinting. padahal dulu sangat dicintai,"bibirnya Seraya melengos menatap ke arah lain.
"udah nggak usah cemburu! lagian Itu sudah masa lalu, kan?"tanya laki-laki itu Seraya menggenggam tangan milik sang istri.
"siapa yang cemburu?"tanya Mikaila Soraya melotot tajam.
"lebih baik kita istirahat saja."tanpa memikirkan dan memperdulikan reaksi dari wanita hamil itu, Arthur membawa Mikaila menuju ke kamar pribadi mereka. Sesampainya di sana, wanita yang pernah mengandung 6 bulan itu sedikit tertegun melihat pemandangan yang begitu indah di dalam ruangan itu.
"indah sekali."gumamnya Seraya melangkahkan kakinya untuk semakin mengagumi keindahan yang tercipta. dan secepat kilat, mood yang sempat memburuk, seketika membaik.
"gimana apakah kamu suka?"tanya laki-laki itu Seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mikaila.
"ini bagus sekali." ucapnya menatap kagum Seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.
Arthur segera membawa wanita itu untuk menuju ke tempat tidur yang memang telah tersedia di sana dengan taburan mawar dan juga dua ekor angsa yang saling berhadapan. melihatnya, membuat Mikaila sedikit terkekeh.
"kenapa senyum-senyum sendiri?"tanya Arthur dengan raut wajah kebingungan.
__ADS_1
"aku mau tanya siapa yang mendekor kamar ini sampai seperti ini?"tanya Mikaila menatap ke arah laki-laki itu.
"emangnya kenapa apakah kamu tidak suka?"mendadak laki-laki itu menjadi khawatir .Jika saja, Mikaila tidak menyukai apa yang ia persiapkan dengan sepenuh hati.
"aku suka."sahutnya cepat."tapi aku sedikit merasa geli."ucapnya masih dengan terkekeh.
"geli kenapa?"tanya Arthur dengan mengerutkan keningnya karena bingung melihat tingkah laku dari istrinya itu.
"Tentu saja aku beli. kita itu sudah menikah lama dan bahkan sudah hampir memiliki anak. tapi kamu bersikap, seolah-olah kita baru saja menjadi sepasang pengantin baru. sampai ada mawar seperti ini segala."tunjuk Mikaila dengan tawa renyahnya.
Membuat Arthur yang mendengar itu seketika menghela nafas lega."syukurlah kalau kamu suka. aku sudah khawatir kalau kamu tidak akan pernah menyukai apa yang aku persiapkan ini."
"Mana mungkin aku tidak suka? apapun yang dipersiapkan oleh suamiku, pasti aku akan langsung menyukainya."ucapnya Seraya tersenyum jenaka.
"dasar gombal!"ucapnya Seraya mencubit kecil hidung milik Mikaila. hingga membuat si pemilik, seketika mengadu karena merasa sedikit sakit dengan tindakan yang dilakukan oleh laki-laki kita.
"kita turun ke bawah ya."ajak Arthur dengan begitu lembutnya.
"Mau ngapain emangnya?"tanya wanita itu dengan nada yang sedikit malas.
"kamu harus makan dan juga minum susu."jawabnya singkat.
"tadi kan udah!"protesnya merasa tidak terima.
"tadi itu siang. sekarang itu sudah sore."jawab laki-laki itu dengan begitu gemasnya Seraya sesekali akan mencubit pipi gembul milik sang istri.
"ish sakit tau!" ucapnya Soraya mengusap pipinya itu dengan kedua tangan. sementara Arthur sendiri, laki-laki itu hanya terkekeh.
"Ya sudah kalau begitu aku ambil ya."tanpa menunggu reaksi dari wanita itu, Arthur segera keluar dari dalam kamar untuk mengambilkan asupan yang harus dimakan oleh wanita kesayangannya itu.
Tak berselang lama, Arthur kembali dengan membawa nampan di tangannya. Mikaila yang melihat itu, seketika membulatkan kedua matanya.
"kenapa banyak sekali?"protesnya Seraya menatap tajam ke arah sang suami.
__ADS_1