
Beberapa hari kemudian,...
Kondisi dari Arthur semakin lama semakin memburuk. masih mencoba berbagai cara untuk bisa terlepas dari wanita gila seperti Naima. namun sampai saat ini juga, laki-laki itu masih belum bisa untuk memikirkan cara agar bisa terlepas dari cengkraman iblis berwujud manusia itu.
"aaarrrgggh! bisa gila kalau aku memaksa menikah dengan wanita itu!" serunya mengerang frustasi. bahkan sesekali, laki-laki itu akan menjambak rambutnya sendiri karena masalah yang pernah ia hadapi saat ini, benar-benar terasa begitu menyesakkan dada.
tok tok tok
atensi dari laki-laki itu seketika teralihkan saat mendengar suara pintu yang diketuk dari luar kamarnya.
"Arthur, ini ada Naima!"seru Oma Juwita dari Balikpapan.
brakk
Dugh
Seketika itu pula Arthur membuang semua barang-barang yang ada di hadapannya karena merasa sangat kesal dan muak dengan kehadiran wanita iblis itu.
Sementara itu di luar sana, Oma Juwita sesekali akan memandang ke arah Neymar dengan tatapan yang sulit untuk dibaca. karena saat ini, berbagai perasaan tengah berputar-putar di dalam kepala dan juga hatinya.
Sungguh wanita tua itu sama sekali tidak menyukai yang tengah berdiri menatapnya dengan tersenyum manis itu. karena Oma Juwita tahu, bahwa semua itu hanya keterpura-puraan belaka.
"apakah dia mau keluar kamar, Oma?"tanya Naima dengan nada yang begitu lembut. membuat semua orang yang ada di sana seketika merinding karena merasa begitu mual dengan apa yang baru saja diucapkan oleh wanita itu.
Lagaknya seperti wanita lemah lembut dan penyabar. padahal sebenarnya, wanita itu tidak ubahnya seperti sesosok iblis yang mengerikan. bayangkan itu saja, membuat Claudia dan juga Oma Juwita yang memang ada di sana mendadak ingin muntah.
Ceklek
"Mau apa kamu?"tanya laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu dengan nada suara yang begitu dingin.
__ADS_1
Karena sebenarnya, laki-laki itu sudah benar-benar muak dengan permainan yang dilakukan oleh wanita yang akan menjadi istrinya itu.
Mendengar ucapan dari laki-laki pujaan hatinya, Naima segera menoleh dan langsung bangkit dan memeluk tubuh kekar milik Arthur.
"aku mau ke butik kita harus segera mengukur pakaian untuk acara pernikahan kita. waktunya tinggal beberapa minggu lagi?"tanya wanita itu dengan nada yang begitu lembut dan juga tangan yang sudah merayap kemana-mana.
Dengan gerakan yang begitu kasar, Arthur segera menepis tangan dari wanita itu dan ikut duduk bersama dengan kedua orang tuanya.
"aku sibuk!" balasnya dengan singkat tanpa berniat menoleh ke arah Naima sedikitpun.
Tentunya, membuat wanita itu menggembungkan kedua pipinya. untuk bersabar. karena memang, Hari ini adalah hari spesialnya dan dia tidak ingin merusak hari itu dengan penolakan yang ditunjukkan oleh Arthur.
"jangan memancing kemarahanku Arthur!"catnya Terdengar sangat lembut namun juga sangat mengerikan di telinga semua orang yang ada di sana. dan tanpa pikir panjang lagi, Arthur seketika menganggukkan kepala setuju. karena tidak ingin, berdebat terlalu lama dengan wanita itu.
"kita mau ke butik mana?"tanya Naima dengan sangat lembut dan langsung menggandeng tangan milik Arthur untuk membawanya keluar dari kediaman keluarga Stanley.
****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di ruang keluarga kediaman Wardani. lihat semua orang tengah berkumpul di. termasuk juga Moza. karena bocah kecil itu, baru saja dijemput oleh Mikaila. sebenarnya, Bunda dari Fandy tidak menyetujui jika cucunya sering dibawa oleh keluarga itu.
Karena memang, Fatih masih merasa tidak suka dengan kedekatan Mikaila dan juga Moza itu. namun karna bujuk rayu dari Fandy, pada akhirnya wanita paruh baya itu hanya dapat pasrah.
"oke kamu bisa bawa Moza. tapi ingat, harus segera dipulangkan sebelum matahari terbenam!"ucapnya menatap tajam ke arah Mikaila kala itu.
Membuat wanita cantik itu hanya menganggukkan kepala dan tersenyum simpul. kemudian dengan segera membawa Moza untuk menuju ke rumah kediaman Wardani.
Dan sekarang di sinilah Moza berada. tengah-tengah keluarga yang begitu harmonis dan juga ceria. karena semua orang yang ada di sana mencoba untuk berinteraksi dengan gadis itu. hal itu tak jarang, membuat Moza sesekali akan tertawa lepas karena mendengar celotehan yang lucu dari sepupu dan juga sahabat-sahabat Mikaila.
krukk krukkk
__ADS_1
Tiba-tiba saja, suara yang begitu nyaring entah dari mana. semua orang yang ada di sana seketika terkejut. namun tak lama berselang, mereka justru tertawa karena melihat raut wajah malu dari gadis kecil itu.
"kamu lapar sayang?"tanya Mikaila dengan suara yang begitu lembut mengusap kepala Moza.
Gadis kecil itu seketika menganggukkan kepala. dan tak lama berselang, tersenyum manis.
"sebenarnya aku lapar. kata nenek dan juga Pipi, aku nggak boleh minta sama orang lain kecuali mereka. karena di luar sana, orang-orang belum tentu baik pada Moza."ucapnya dengan ada suara yang begitu lucu.
hening...
Untuk beberapa saat kemudian, suasana di ruang tengah itu mendadak menjadi hening. saling berpandangan satu sama lain dengan pikiran yang sambung menyambung seperti ikatan batin yang begitu kuat.
"emangnya siapa saja yang bilang seperti itu, sayang?"tanya Mikaila dengan tubuh yang sedikit gemetar.
"nenek Pipi, sama kakek."jawabnya polos.
"itu nggak bener Moza. orang-orang di luar sana itu memang ada yang jahat tapi mereka ada juga yang baik seperti keluarga ini. Buktinya, saat Moza datang kemari kita semua baik, kan?"tanya Ruri dengan nada suara yang begitu lembut.
Membuat gadis kecil itu, seketika mengangguk riang. "jadi aku boleh makan dari sini?" tanyanya dengan polos.
Mikaila dengan cepat segera menganggukkan kepala."tentu saja, sayang. memangnya kamu mau makan apa?"hanya wanita itu dengan ekspresi wajah yang begitu gemas ingin sekali mencubit pipi dari bocah gembul itu.
"pancake sama susu coklat, boleh?"tanya Moza dengan puppy eyes. tentunya itu bukan hanya membuat Mikaila gemas. akan tetapi semua orang yang ada di sana hampir juga merasakan hal yang sama.
Hanya satu orang yang tidak merasa gemas dengan tingkah laku dari bocah kecil itu. siapa lagi orangnya jika bukan Aditya. karena beberapa kali, laki-laki itu malah justru melototkan matanya menatap ke arah Moza. membuat bocah kecil itu, ketika menundukkan kepala karena merasa ketakutan.
plak
Seketika itu pula satu geplakan keras, mendarat mulus di punggung milik Aditya. hingga membuatnya seketika merintih. karena memang benar-benar merasa begitu sakit di area itu.
__ADS_1