
Saat ini, Arthur tengah berusaha keras untuk menuju ke rumah sakit terdekat dengan kecepatan di atas rata-rata. dalam perjalanan itu, suami dari Mikaila sesekali akan merutuki dirinya sendiri karena lelah menganggap remeh situasi di sekitarnya.
Ya. beberapa saat yang lalu, Arthur sempat meminta para bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga istrinya itu, mundur karena merasa situasinya saat ini telah aman dan dia bisa menjaga wanita itu seorang diri. Namun nyatanya, Arthur salah besar karena di saat dirinya lengah, mara bahaya itu datang menghampiri mereka.
Tentu saja hal itu membuat Arthur merasakan menjadi laki-laki tidak berguna sepanjang hidupnya di sepanjang perjalanan itu pun, laki-laki itu tanti-hentinya mengumpat dirinya sendiri.
"Sayang tolong bertahanlah."ucap laki-laki itu Seraya menggenggam tangan milik wanita yang saat ini sudah tidak sadarkan diri tepat berada di sampingnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Arthur segera menyambar ponsel dan menghubungi seseorang yang ada di seberang sana. namun sayangnya, karena terlalu gemetar tangan dari laki-laki itu tak sengaja menekan salah satu nomor dari keluarga istrinya.
"segera datang ke rumah sakit terdekat."setelah mengatakan hal itu, Arthur kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sungguh saat ini, dunianya begitu hancur mendapati kenyataan sepahit ini. laki-laki itu sesekali akan menoleh ke arah sang istri dengan perasaan yang tidak karuan.
"tolong bertahanlah Sayang aku mohon."ucapnya Seraya berderai air mata. sungguh saat ini, tidak ada yang ditakutkan oleh Arthur. kecuali, kehilangan Mikaila dan juga calon bayi mereka.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai oleh Arthur telah sampai di depan sebuah rumah sakit yang memang tidak jauh dari pusat perbelanjaan itu. tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu segera berlari untuk menemui tenaga medis untuk menyelamatkan istri dan juga calon anaknya.
Mereka semua berbondong-bondong kembali dengan membawa ranjang rumah sakit. Setelahnya, para tenaga medis itu segera membawa tubuh Mikaila yang tidak berdaya itu untuk segera ditangani.
"ya Tuhan aku mohon selamatkan mereka!"ucap laki-laki itu Seraya merosotkan tubuhnya di lantai rumah sakit itu. sungguh saat ini, Arthur benar-benar merasa ketakutan yang luar biasa.
tring tring tring
Beberapa kali terdengar suara ponsel milik laki-laki itu. namun Arthur sendiri, masih enggan untuk mengangkatnya karena masih merasa kacau dengan situasi saat ini. namun nada suara yang terus-menerus terdengar membuat laki-laki itu sedikit jengah. dan pada akhirnya, memutuskan untuk mengangkatnya saja.
("halo di mana anak saya?!")
Arthur seketika langsung menjauhkan konsep itu dari telinganya setelah mendengarkan suara yang begitu nyaring dari seberang sana.
__ADS_1
"Pa..Papa aku..."suara Arthur seketika terhenti saat mendengar sahutan dari seberang sana.
("sekarang katakan saja di mana anakku berada.")
"di rumah sakit Cahaya."jawab laki-laki itu dengan nada suara yang sangat lirih.
Tut
Seketika itu pula, sambungan telepon itu terputus secara sepihak. tentunya Hal itu membuat Arthur kembali menjadi murung. karena laki-laki itu tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. dan untuk saat ini, Arthur tidak ada keinginan untuk melawan karena benar-benar merasa kejadian yang baru saja menimpanya itu, benar-benar sangat dahsyat.
****
"bagaimana apa kata Arthur?"tanya Ruri dengan raut wajah panik. sementara Winarto sendiri, belum mau untuk membuka suaranya. laki-laki paruh baya itu, justru malah menarik tangan istrinya untuk mengikuti langkahnya.
"kita mau ke mana?"tanya wanita itu dengan raut wajah kebingungan. karena memang benar, Ruri belum mengetahui apapun yang menimpa Mikaila.
"Pah apa yang sebenarnya terjadi?"tanya wanita itu dengan nada yang sangat menuntut. karena sudah merasa tidak tahan dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh suaminya itu.
degh
Seketika itu pula jantung Ruri seakan ingin lepas dari tempatnya. apa yang dimaksud oleh suaminya itu kenapa dirinya harus berdoa dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan Mikaila? apa yang sebenarnya terjadi?
Karena tidak mau menerka-nerka, pada akhirnya Ruri pun hanya menuruti keinginan dari sang suami. wanita paruh baya itu kusuk memanjatkan doa meminta keselamatan pada yang di atas. tak terasa, air mata dari wanita paruh baya itu pun, mengalir begitu saja.
"kenapa ini, apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Ruri dengan raut wajah kebingungan. karena tiba-tiba saja, dadanya terasa begitu sesak seperti baru saja dihantam sebuah batu yang cukup besar. sangat perih dan juga sakit.
****
"bagaimana keadaan istri saya?"tanya Arthur saat menyadari kehadiran seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang tindakan.
__ADS_1
"luka goresan itu sangat parah hingga mengenai rahim lapisan dalam. Untung saja bayi kalian belum sempat terkena benda tajam itu. Namun demikian, kami harus meminta persetujuan dari anda untuk mengeluarkan bayi itu."ucap dokter itu panjang lebar.
Tentunya Hal itu membuat Arthur yang mendengarnya, membelalak kaget. bagaimana bisa, kandungan istrinya harus segera dilakukan tindakan. padahal baru menginjak usia 7 bulan?
"tapi dok, usia kandungan istri saya itu baru menginjak usia 7 bulan. apakah itu tidak beresiko?"tanya Arthur dengan raut wajah khawatirnya.
"semoga tidak tuan. karena kami juga masih berusaha untuk menyelamatkan keduanya."jawab dokter itu juga dengan raut wajah tidak yakin.
Dan setelah melakukan pertimbangan cukup lama, pada akhirnya Arthur pun menyetujui apa yang dikatakan oleh dokter wanita itu.
"baik terima kasih atas persetujuannya. semoga mereka berdua, mendapatkan perlindungan dari Tuhan. sehingga membuat keduanya, baik-baik saja."setelah mengatakannya, Dokter wanita itu segera pergi dari sana meninggalkan Arthur yang masih termenung seorang diri.
bugh
Arthur seketika tersungkur dengan wajah yang menghantam lantai cukup keras. saat sebuah pukulan, mendarat mulus di wajahnya.
"apa yang kau lakukan pada putriku?"tanya Winarto dengan rahang mengetat dan mata memerah menahan amarah yang luar biasa.
Sementara Ruri sendiri, wanita itu masih terdiam di tempatnya dengan ekspresi wajah yang begitu terkejut dan juga bingung. karena jujur saja, wanita paruh baya itu belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"maafkan aku Pa."ucapnya menundukkan kepala penuh dengan rasa sesal yang begitu luar biasa.
"jika terjadi sesuatu pada keduanya, maka akan aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu!"
bugh
Arthur kembali jatuh tersungkur saat mendapatkan satu buah pukulan yang begitu keras dari ayah mertuanya itu.
"ini kenapa ada apa memangnya?"tanya wanita itu dengan raut wajah kebingungan.
__ADS_1
Winarto dengan segera, memeluk tubuh wanita paruh baya yang berstatus sebagai istrinya itu dengan begitu erat.