
Saat ini Mikaila dan juga Arthur, masih berada di kediaman kedua orang tua gadis itu. semua orang terdiam. termasuk juga dengan kedua orang tua Fandy yang memang diundang secara khusus oleh Ruri. mereka akan membahas tentang perkembangan anak mereka.
Namun kenyataannya, sebuah fakta mengejutkan justru membuat mereka semua tercengang.
"kita tidak bisa di sini terus. kita harus segera pergi dari sini."ucap seorang wanita paruh baya Seraya menarik tangan Fandy untuk segera bangkit dari tempat duduknya.
"tunggu nyonya, apa yang Anda lakukan? kenapa Anda harus pergi dari sini?"tanya Ruri bermaksud untuk menahan wanita yang digadang-gadang akan menjadi besannya itu.
Tentu saja perkataan dari wanita paruh baya itu, membuat ibunda dari Fandy, merasa sangat kesal. dengan tatapan yang sangat tajam, wanita paruh baya yang menggunakan sanggul dan juga sedikit aksesoris di kepalanya itu, melangkahkan kakinya untuk mendekati Ruri.
"apa maksudmu nyonya? kau ingin mempermainkan kami? jelas-jelas, putrimu itu telah membawa laki-laki lain untuk dikenalkan sebagai calon suaminya. lalu apa maksudmu berkata seperti itu?"tanya Ratih-ibunda Fandy dengan senyuman tipis namun dengan tatapan yang sangat tajam. persis tengah marah.
Tentu saja, hal itu membuat Ruri yang mendengar itu, seketika menatap ke arah putrinya dengan tatapan mata yang sangat kesal. Namun demikian, wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa. Karena di situasi seperti ini, semua orang tengah berkumpul.
"tuan Winarto, kami permisi dulu."ucapan dari Arga itu membuat lamunan semua orang ketika buyar.
Dengan tanpa basa-basi lagi, mereka segera keluar dari rumah mewah milik keluarga Wardani dengan perasaan campur aduk.
Sementara Ruri, wanita paruh baya itu tidak tinggal diam. karena dirinya masih tetap mengejar wanita yang ingin menjadi besannya itu.
"kalian tunggu saja di sini. nikmati semuanya. anggap apa yang kalian lihat itu, tak pernah ada."setelah mengatakan hal itu, Winarto segera berjalan menyusul sang istri.
"Nyonya, tolong tunggu dulu!"ucap Ruri menahan keluarga dari Fandy agar tidak pergi dari sana.
"sudahlah tante, Mungkin memang kita memang tidak akan pernah berjodoh. kalau begitu, kami semua permisi dulu. selamat malam."setelah mengatakan hal itu, Fandy dan kedua orang tuanya segera masuk ke dalam mobil mereka dan mengajukannya dengan perasaan yang campur aduk.
Ruri yang melihat itu, merasa sangat geram. dengan tanpa basa-basi lagi, wanita paruh baya itu segera masuk ke dalam rumah dan menghampiri putrinya yang tengah berbincang-bincang dengan Arthur.
__ADS_1
"apa maksudmu Mikaila?"tanya Ruri yang langsung menarik tangan putrinya untuk menjauh dari laki-laki itu.
"maksud Mama?"tanya Mikaila yang memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu.
" kau tidak usah berbohong. aku tahu kau tidak pernah ada hubungan dengan laki-laki itu, kan?"tanya Ruri Seraya menunjuk ke arah Arthur yang masih berdiam diri di tempatnya.
"Mama ini bicara apa, sih? jelas-jelas aku ada hubungan dengan mas Arthur. Ini juga baru saja main ke rumah Mas Arthur untuk mengatakan semuanya. dan keluarganya pun setuju."ucap Mikaila Seraya menyunggingkan senyum tipis.
"tapi kenapa kamu tidak bilang dari awal? kalau tahu begini, Mama tidak akan menjodohkan mu dengan banyak laki-laki. lihat sekarang apa yang kamu lakukan? Mama harus mengatakan apa untuk memberikan penjelasan pada keluarga Fandy?"tanya Ruri dengan raut wajah kesalnya.
"Mama ini gimana sih? sudah dari awal aku mengatakan, bahwa aku tidak ingin dijodohkan. aku bisa memilih jodohku sendiri. tapi ternyata, Mama yang nekat menjodohkanku dan mengenalkanku pada laki-laki itu. padahal, Mikailah sama sekali tidak memiliki perasaan pada laki-laki itu."sahut Mikailah dengan raut wajah kesal.
"Halah terserahlah. lebih baik, Mama ke kamar saja."setelah mengatakan hal itu, Ruri berjalan masuk ke dalam kamar tanpa mengindahkan tata krama dalam menyambut tamu.
Tentu saja hal itu membuat Mikaila yang melihatnya, seketika menghela nafas panjang. kemudian, melirik ke arah Arthur yang masih terdiam di sampingnya dengan raut wajah datar.
Membuat Mikailah dan juga Arthur yang mendengarnya, seketika menatap ke arah laki-laki paruh baya itu. kemudian dengan segera menganggukkan kepala secara hampir bersamaan.
"nanti kalau sudah berbincang-bincang, tolong antarkan tamu dengan baik. Papa masuk kamar dulu."ucap Winarto Seraya bangkit dari tempat duduknya.
"oh ya anak muda, tolong maafkan istri saya."ucap laki-laki paruh baya itu Seraya menatap Arthur dengan tatapan yang sangat dalam.
"tidak masalah tuan."ucap Arthur saraya tersenyum simpul.
***
Suasana terlihat sangat sepi karena semua orang di rumah itu, sudah melakukan aktivitas di dalam kamar masing-masing.
__ADS_1
"apa kamu ingin pulang?"tiba-tiba saja, Mikaila bertanya seperti itu. membuat Arthur yang tengah melamun, seketika menoleh ke arah gadis itu.
"hmm,"jawabnya dengan deheman.
Mikailah dan juga Arthur akhirnya keluar dari dalam rumah dengan saling beriringan satu sama lain. dan sesampainya di teras rumah, Mikaila menatap ke arah Arthur dengan tatapan rasa bersalah.
"kenapa?"tanya Arthur dengan raut wajah penasaran.
"maafkan kelakuan ibuku."ucap wanita itu Soraya menunjukkan kepala.
Hal itu tentu saja membuat Arthur yang mendengarnya, seketika terkekeh pelan. membuat Mikaila merasa sangat kebingungan.
"apa ada yang lucu?"tanya Mikaila menatap ke arah sekelilingnya. membuat Arthur yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya.
"tidak ada. tapi sepertinya, kamu juga lupa. bahwa ibuku pun juga melakukan hal yang sama, kan?"tanya Arthur memandang wajah cantik Mikaila.
Sontak saja itu membuat Mikaila yang mendengarnya, menyadarinya. membuat gadis itu, seketika ikut tertawa.
"lalu bagaimana sekarang?"tanya Mikaila saat mereka berdua sudah tidak menertawakan kekonyolanya masing-masing.
"kita tetap pada rencana awal. karena aku tidak ingin, menikah dengan wanita seperti Citra itu."ucap Arthur Seraya menghela nafas.
"aku pun juga sama."sahut Mikailah menganggukkan kepala.
"sebisa mungkin kita harus bisa membujuk ibu masing-masing agar merestui pernikahan ini."ucap Arthur Seraya menatap lurus ke depan.
Membuat Mikaila yang mendengarnya, seperti tersadar akan sesuatu."emm oh iya Om, mengenai pernikahan itu, apakah kita tetap akan melaksanakannya dengan sungguhan? maksudku apa tidak bisa untuk direkayasa? lagi pulang kita menikah kan hanya pura-pura?"tanya wanita itu dengan pelan.
__ADS_1
Arthur yang mendengar itu, seketika menatap dalam ke arah wanita itu."kita harus tetap melakukannya dengan sungguh-sungguh. agar tidak terlihat oleh mereka."jawabnya dengan senyuman tipis.