Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 115


__ADS_3

Setelah merasa tidak ada yang perlu dibicarakan dengan sang ibu, Fandi memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


Sungguh laki-laki itu merasa begitu lelah. di saat Fandy ingin memejamkan mata, terdengar suara berisik dari dalam ponselnya. dengan gerakan yang begitu malas, lelaki itu mencoba untuk mengangkat sambungan telepon itu.


"kenapa?"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang begitu malas.


("bagaimana perkembanganmu dengan wanita itu?")


"semua baik sesuai dengan rencana kita."sahut Fandy dengan nada yang sedikit malas. karena laki-laki itu, masih merasa kesal akibat insiden tampar-menampar yang berlangsung di pusat perbelanjaan itu.


("kenapa kamu terdengar begitu malas?")


"aku sedang lelah."setelah mengatakan hal itu, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, segera mematikan panggilan itu tanpa memperdulikan reaksi dari orang yang ada di sana.


****


"sialan! kenapa laki-laki itu bersikap acuh kepadaku seperti ini?!" teriak wanita dengan membabi buta.


Praaang!!


Braaakk!!!


Wanita itu, dengan tatapan yang sangat tajam memporak pondakan barang-barang yang ada di kamarnya. sehingga membuat kamar itu, sangat berantakan seperti kapal pecah.


"astaga Naima, apa yang terjadi kenapa kau memporak-porandakan kamarmu seperti ini?"teriak Ibu dari Naima dengan raut wajah merah padam karena menahan kesal yang luar biasa.


Wanita itu sama sekali tidak menoleh dan menggubris amukan dari sang ibu. yang difokuskan oleh Naima saat ini, adalah rasa kesal yang begitu luar biasa. karena berani-beraninya, seorang Fandy mengabaikannya seperti ini.


Dengan gerakan tergesa-gesa, wanita itu segera memberikan pesan suara pada laki-laki itu.


"Jika kau berani macam-macam denganku, jangan salahkan aku jika aku akan membongkar semuanya."


Begitulah isi pesan suara yang ia kirimkan pada Fandy.


Orang-orang yang ada di sekitarku, tidak boleh ada yang mengabaikanku seperti ini. aku harus tetap menjadi pusat perhatian."gumam wanita itu penuh dengan tekad.

__ADS_1


Memang, Naima memiliki psikologis yang sangat aneh. wanita itu, akan merasa tidak suka jika orang-orang mengabaikannya dan akan melakukan berbagai cara agar mereka kembali terfokus terhadapnya.


Dan hal itulah yang memicu semua kejadian yang menimpa hidup Mikaila dan juga Arthur.


Karena Wanita itu, tidak menginginkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada kehidupannya. pokoknya, harus selalu sempurna.


Beberapa hari kemudian,....


Hubungan antara Mikaila dan juga Fandy semakin lama semakin membaik.hal itu semakin membuat praduga orang-orang semakin tajam saja.


Terutama nenek Kamila. wanita renta itu bahkan akan langsung mencoba untuk mendekati cucu perempuannya itu guna mengorek informasi yang ia perlukan.


Seperti pagi ini sebelum Mikaila memutuskan untuk pergi bersama dengan Fandy dan juga Moza, wanita renta itu mencoba untuk berbincang-bincang dengan Mikaila dari hati ke hati. Mana tahu, apa yang ia pikirkan selama ini adalah kebenaran.


"apakah kau sudah ingin pergi Mikaila?"tanya wanita renta itu Seraya menatap ke arah cucu perempuan satu-satunya itu.


Mendengar penuturan dari sang nenek, wanita cantik itu segera menolehkan kepalanya. dan tak lama berselang, tersenyum tipis Seraya menganggukkan kepala.


"iya nek, memangnya ada apa?"punya wanita itu dengan raut wajah yang begitu penasaran.


Uhuk uhuk uhuk


Refleks, Mikaila seketika terbatuk-batuk. karena merasa begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh neneknya itu.


"nenek ini bicara apa Mana mungkin aku melakukan hal itu."sekuat tenaga wanita cantik itu mencoba untuk menghindar dan mengelak dari ucapan neneknya itu.


Karena untuk saat ini, Mikaila benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi pada hatinya.


"apa benar aku sedang jatuh cinta pada laki-laki itu? tapi apa mungkin?"di dalam hatinya Mikaila masih mencoba untuk menyangkal semua iya rasakan saat ini.


Karena memang wanita cantik itu merasa begitu tergesa-gesa jika memang apa yang ia rasakan itu benar.


"Mikaila, kenapa malah melamun?"tegur nenek Kamila Seraya menyentuh bahu dari wanita itu.


Hingga membuatnya seketika tersentak kaget dan kembali dengan kesadaran penuh.

__ADS_1


"a...ah aku tidak apa-apa Nek."sahut wanita itu dengan nada terbata-bata.


"jadi apa jawabanmu?"tanya wanita rentak itu seakan tidak ingin cucunya itu menghindari pertanyaan yang menurutnya begitu penting.


Mikaila yang menyadari akan hal itu, seketika menundukkan kepala. karena sadar, tidak bisa lagi untuk menghindari wanita renta yang ada di hadapannya saat ini.


"aku tidak tahu Nek,"sahut wanita itu dengan lirih.


Nenek Kamila yang melihat itu, seketika menghela nafas panjang. karena wanita renta itu tahu saat ini, cucunya itu tengah dilanda perasaan bingung.


Tin tin tin


Kedua wanita berbeda generasi itu seketika terkejut. saat mendengar suara klakson mobil dari luar rumah kediaman keluarga Wardani.


"sepertinya mereka sudah datang, Nek? "kedua sudut bibir dari wanita itu seketika tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.


Nenek Kamila yang mendengar itu seketika menganggukkan kepala. kedua sudut bibir dari wanita renta itu, otomatis juga ikut tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman saat melihat kebahagiaan yang tercipta dari cucu perempuannya itu.


"semoga Fandy memang benar-benar laki-laki yang tepat untuk kamu Mikaila. Karena nenek tidak bisa membayangkan Jika kamu benar-benar disakiti kembali oleh seorang laki-laki."lirihnya dengan lelehan air mata yang membasahi Pipi rentanya itu.


****


"kita sekarang mau ke mana lagi?"tanya Moza dengan nada yang begitu antusias menatap ke arah kedua orang dewasa yang berada tepat di kiri dan kanan tubuhnya itu.


"Moza mau ngerasain makanan cimol atau enggak?"tanya wanita cantik itu menatap ke arah bocah kecil yang ada di gandengannya saat ini.


"cimol itu apa Tante?"dengan nada polos dan juga wajah yang begitu menggemaskan, bocah kecil itu bertanya demikian.


Membuat Mikaila yang merasa tidak tahan dengan ekspresi wajah menggemaskan dari Moza, ketika terkekeh kecil. kemudian menarik kedua pipi bulat milik gadis kecil itu secara perlahan.


"ayo kita beli sekarang."ajak Fandy setelah terlalu lama melihat interaksi antara anak dan orang tua kandung yang terpaksa terpisah itu.


"Yeah aku suka akan hal itu!"tanpa sadar Mikaila berteriak-teriak seperti itu. membuat Fandi yang melihatnya, seketika menganga tidak percaya. namun tak lama berselang, dua sudut bibir dari laki-laki itu juga ikut tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.


"huh lucu sekali dia."gumamnya dalam hati dengan menahan senyum kegemasan. hampir saja, laki-laki itu merasa khilaf ingin mencubit pipi gembul wanita itu.

__ADS_1


Beruntungnya, Fandy mampu mengendalikan tubuhnya. hingga pada akhirnya laki-laki itu mampu bersikap biasa saja.


__ADS_2