
Beberapa saat kemudian,....
Drrrttt Drrrttt
Terdengar suara deringan ponsel yang sangat nyaring. hingga membuat Claudia dan juga Arthur yang tengah berbincang-bincang, seketika terkejut.
"itu pasti dari calon istrimu."ucap Claudia mencoba untuk memberitahu pada laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu.
Membuat laki-laki itu sendiri, seketika mendengus kesal. dengan gerakan yang sangat kasar, pada akhirnya laki-laki itu mengangkat panggilan dari Naima. karena jika tidak, maka wanita itu akan tetap mengganggunya sampai kapanpun. membuat Arthur, sama sekali tidak ada pilihan lain selain mengangkat panggilan itu.
"iya ada apa?"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang begitu datar dan juga terkesan sangat dingin.
Padahal sebelumnya, laki-laki itu sudah diwanti-wanti oleh Oma Juwita untuk bersikap sedikit romantis pada wanita itu walaupun dalam kondisi terpaksa atau apalah itu namanya.
Karena memang semua kartu as keluarga dari Stanley, ada pada wanita itu. membuat mereka harus sedikit tunduk dengan aturan wanita sinting itu.
("Sayang Kau ini kenapa?") terdengar suara yang begitu mendayu-dayu dari seberang sana. membuat Arthur sendiri, merasa sangat risih saat mendengarnya.
"apakah kau tidak bisa menggunakan intonasi yang biasa saja? aku merasa sangat geli jika kau melakukan intonasi seperti itu."tegurnya dengan nada yang sangat ketus.
Namun anehnya bukan merasa tersinggung seperti biasanya, justru Neymar malah terkekeh pelan dari sebelah sana. membuat Arthur yang mendengar itu, sedikit mengerutkan keningnya.
"saja aku lagi baik sekarang jadi aku tidak harus marah-marah padamu."sahut wanita itu dari seberang sana. membuat kedua alis dari Arthur seketika tertaut karena merasa heran dengan tingkah laku dari wanita yang ada di ujung telepon itu.
"apa yang kau mau?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah keruh. karena seakan-akan, Arthur mengetahui apa yang dimaksud oleh wanita yang ada di seberang sana itu.
"hahaha kok pintar sekali sayang."puji Naima dengan tawa yang begitu menggelegar. membuat Arthur sendiri, seketika memutar bola mata malas.
"oke kita ketemu di alamat yang sudah aku kirimkan ke pesan singkat milikmu. dadah sayang jangan lupa datang."setelah mengatakan hal itu, Naima segera menutup panggilan teleponnya. membuat Arthur sendiri, merasa begitu kesal. namun, laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah.
__ADS_1
****
Sementara itu di dalam keluarga Wardani, terlihat Mikaila yang tengah berbincang-bincang dengan anggota keluarga yang lain. namun, pikiran dari wanita itu seakan melayang entah ke mana.
Apakah dia sangat merindukan Moza? bahkan sesekali, Mikaila akan berhalusinasi melihat keberadaan gadis kecil itu. karena memang sudah beberapa hari ini dirinya tidak bertemu dan bertegur sapa dengan Moza.
Perasaan rindu, tentunya telah menggerogoti hati dan juga perasaannya. ingin sekali, wanita itu melakukan hal yang nekat untuk bisa bertemu dengan gadis kecil itu. akan tetapi, setiap kali ingin melakukan hal itu, sisi pikirannya yang lain pun mencoba untuk melarang dengan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
"Mikaila kamu memikirkan apa?"tegur Ruri Seraya menepuk bahu dari Putri semata wayangnya itu dengan perasaan yang juga ikut merasa sedih dengan kejadian yang dialami oleh putrinya itu.
"ah, aku..."
"Tante cantik!"ucapan dari Mikaila seketika terhenti. saat wanita itu mendengar suara seorang gadis kecil yang memanggil namanya.
"tidak! mungkin ini, hanya halusinasiku saja seperti kemarin-kemarin."ucapnya Seraya menggelengkan kepala dan juga menutup kedua telinganya karena merasa semuanya sudah mulai kacau saat dirinya berjauhan dengan bocah kecil itu.
Mikaila terlonjak kaget. saat punggungnya disentuh oleh seseorang. dan saat wanita itu menoleh, ternyata Sarah sudah menunjukkan ke ambang pintu melalui dagunya.
Dengan patuh, wanita cantik itu mencoba untuk mengikuti intruksi dari sahabatnya. dan...
"Moza!" teriak wanita cantik itu dengan ekspresi wajah yang begitu girang. dan tanpa pikir panjang lagi, wanita itu segera berlari untuk menghampiri bocah kecil itu dan langsung memeluknya dengan erat.
"sayang tante sangat merindukanmu!" ucapnya dengan nada suara yang begitu riang.
Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, merasa begitu terkejut. ternyata memang benar ikatan batin di antara mereka sungguh sangatlah kuat. karena pada awalnya, baik Aditya ataupun Ruri sekalipun, sempat meragukan perasaan yang dimiliki oleh Fandy terhadap Mikaila.
karena mereka mengira, laki-laki itu hanya ingin membalaskan dendam atas apa yang mereka pernah lakukan pada zaman dulu. tapi setelah menyaksikan hal itu, mereka semua menjadi yakin akan ketulusan itu.
Terutama, Aditya sendiri. laki-laki yang merupakan kakak sepupu dari mikayla itu sudah mulai memberikan respon pada Fandy.
__ADS_1
"tante kita jalan-jalan yuk? ajak bocah kecil itu dengan nada suara yang begitu menggemaskan dan juga riang.
Membuat Mikaila sendiri, sesaat terdiam. wanita cantik itu bahkan menoleh ke belakang untuk beberapa kali seperti sedang meminta persetujuan dari orang-orang yang ada di sana.
Dan dengan spontan, orang-orang yang ada di sana pun menganggukkan kepala dan tersenyum kecil.
"ayo!" balas wanita itu Seraya menggendong tubuh mungil milik Moza dan membawanya keluar dari dalam rumah itu.
meninggalkan orang-orang yang ada di dalam rumah itu yang masih memandang kepergian dari Mikaila dengan perasaan campur aduk.
"semoga ini adalah pilihan terakhirmu."gumam Ruri yang langsung dijawab anggukan kepala oleh semua orang.
****
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil benar-benar sangat hening karena tidak adanya suara yang keluar dari mulut kedua manusia itu. membuat Moza sendiri yang melihat itu, benar-benar merasa kebingungan.
"tante cantik, sama Pipi, sedang berantem, ya?"gadis kecil itu bertanya secara tiba-tiba. membuat kedua orang dewasa itu, seketika saling tetap satu sama lain. dan tak lama berselang, menggelengkan kepalanya secara kompak.
"enggak kok sayang kita nggak lagi berantem. Emang, Sekarang lagi ada masalah yang cukup besar aja di pekerjaan masing-masing."balas Mikaila dengan senyuman.
Mana mungkin, wanita cantik itu mengatakan hal yang sebenarnya pada bocah kecil. yang bahkan, tidak mengetahui apapun permasalahan yang tengah mereka hadapi.
Karena memang, dunia dari Moza saat ini hanyalah bermain dan belajar. gadis kecil itu, tidak berhak untuk mengetahui masalah apapun yang menyangkut hati. karena memang, itu bukan ranahnya.
"oh lagi banyak kerjaan. Ya udah kalau gitu, kita main aja di taman. siapa tahu, tante cantik capeknya jadi hilang."ucapnya dengan nada suara yang begitu polos.
membuat Mikaila yang melihat itu, seketika terkekeh kecil. sejenak wanita itu terdiam dengan pikiran yang entah melayang kemana.
'mungkin akan sangat menyenangkan. jika aku, kembali seperti Moza ini. karena yang aku tahu, hanya bermain dan belajar tidak ada yang lain.
__ADS_1