
Beberapa hari kemudian,...
kini suasana di kediaman keluarga milik Wardani, telah disambut oleh kebahagiaan. karena besok lusa, Mikaila akan kembali menempuh hidup baru. Dan semoga saja, ini adalah pernikahan terakhir wanita itu.
Karena semua orang di keluarga Wardani, tidak ingin kembali melihat kesedihan dari wajah cantik milik wanita itu. karena semua orang di sana, sangat menyayangi dan juga mencintai Mikaila.
"pokoknya, setelah ini kau harus bahagia dengan Fandy jangan pernah ada air mata kesedihan lagi. karena jika hal itu sampai terjadi, maka laki-laki itu akan habis di tanganku."ancam Aditya penuh dengan penekanan.
Dan hal itu sukses membuat Mikaila yang melihatnya, seketika memutar bola mata malas.
"sudahlah lebih baik kau masuk lagi ke dalam kamar!"tutur Ruri memperingatkan putrinya itu agar tidak keluar dari kamar karena dia dalam proses merawat diri.
Hana dan juga Sarah yang memang masih berada di sana, segera menarik tangan dari sahabat mereka itu untuk dibawa masuk ke dalam kamar. sementara Mikaila sendiri, wanita itu tampak bosan karena terus-menerus berada di dalam ruangan itu.
Rasanya, Mikaila ingin keluar saja dari tempat ini. Karena dia sudah merindukan dengan aktivitas jalan-jalan bersama dengan kedua sahabatnya itu.
"kenapa sih kita tidak boleh keluar? aku tuh bosen di rumah terus."dumelnya menggerutu kesal.
Sementara Hana dan juga Sarah yang mendengar itu seketika saling pandang satu sama lain. dan tak lama berselang, kedua manusia itu terkekeh pelan saat melihat tingkah laku lucu dari sahabatnya itu sontak saja hal itu membuat Mikaila, seketika melotot tajam karena merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu.
"sudahlah lebih baik kamu ikut kami saja."ucap Hana dan juga Sarah secara bersamaan.
Dan hal itu sukses membuat Mikaila yang mendengarnya, ketika menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan yang penuh dengan binar mata bahagia.
"serius kalian mau ngajakin aku ke mana?"tanya wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri itu dengan nada suara yang tidak sabar.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan dari Mikaila, pada akhirnya Hana dan juga Sarah segera menarik tangan dari sahabat mereka itu untuk dibawa naik ke atas tempat tidur.
"e..eh mau ngapain ini?"tanya wanita cantik itu dengan nada suara yang begitu panik. namun hal itu sama sekali tidak digubris oleh dua sahabatnya itu. mereka tetap melakukan kegiatannya masing-masing.
"nih ini yang aku katakan tadi." dengan nada entengnya, Hana dan juga Sarah mulai mengerjakan aktivitas mereka masing-masing.
Hana dengan mengoleskan masker di wajah milik Mikaila. tak lupa wanita yang sedikit kalem dari kedua temannya itu memijat daerah wajah milik Mikaila agar masker itu meresap dengan sempurna sampai ke dasar kulit.
Sementara Sarah sendiri, wanita yang sedikit tomboy itu langsung mengambil lulur mandi milik Mikaila dan mengoleskannya pada tubuh wanita itu kemudian memijatnya secara bersama-sama. membuat Mikaila sendiri yang hampir saja teriak, seketika tidak melanjutkannya.
Karena Wanita itu sudah merasa sangat nyaman dengan perbuatan yang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu. perlahan tapi pasti, kedua kelopak mata dari wanita itu lama-lama terkejam. dan tak berselang lama, terdengar dengkuran halus dari bibirnya. menandakan bahwa Mikaila sudah benar-benar terlelap.
Hal itu semakin membuat Hana dan juga Sarah yang melihatnya, merasa sedikit senang karena bisa membantu sahabatnya itu walau tidak banyak.
Sementara Hana sendiri yang mendengar itu, seketika terkekeh pelan. karena wanita yang paling kalem di antara mereka bertiga itu merasa begitu lucu dengan apa yang diperbuat oleh dua sahabat yaitu.
Setelah memastikan Mikaila terlelap Dan berselimutkan mimpi, kedua wanita itu segera pergi dari sana.
"astaga!"
Seru mereka secara bersamaan dengan sesekali menyentuh area dada masing-masing karena merasa terkejut dengan apa yang mereka lihat saat ini.
"ngapain lo ada di sini?"tanya Sarah Seraya berkacak pinggang. tentunya wanita yang sedikit tumbuh itu merasa begitu terkejut saat mendapati Aditya berada di hadapan mereka saat ini.
"Tentu aja gue mau lihat keadaan dari adik gue sendiri. emangnya salah?!"tanya laki-laki itu Seraya menaikkan sebelah alisnya karena merasa bingung dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh kedua wanita di hadapannya saat ini. terutama Sarah.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi dan tanpa membalas pertanyaan dari Aditya, Sarah segera menarik tangan dari Hana untuk menjauh dari tempat itu. sementara Aditya sendiri, laki-laki Itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan tindakan Sarah.
****
"apakah semua undangan sudah disebar?"tanya Ratih Seraya duduk di samping anggota keluarga yang lain.
Fandy yang mendengar itu pun hanya mengangguk-anggukkan kepala. karena memang, laki-laki itu yang bertugas untuk menyebarkan undangannya sendiri.
Padahal Ratih dan juga Arga sudah memerintahkan salah seorang pelayan untuk menyebarkan undangan itu. namun sayangnya, keinginan dari dua manusia paruh baya itu ditolak keras oleh Fandy. dengan alasan, ini adalah momen seumur hidup sehingga dia sendiri yang akan menyebarkan undangan dan memberitahukan hal bahagia ini pada orang-orang.
Dan jika Fandy sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa untuk menentangnya termasuk juga dengan kedua orang tuanya itu.
"aku akan memberikan undangan ini pada keluarga Stanley."setelah berdiam diri cukup lama, pada akhirnya laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu membuka suara.
Sontak saja, ucapan dari Fandy itu membuat orang-orang yang ada di sana merasa sangat terkejut.
"untuk apa kau mengundang mereka? apakah tidak akan pernah bahaya jika kau mengundang seseorang dari masa lalu calon istrimu?"tanya Ratih dengan nada suara yang begitu khawatir.
"Mama tenang saja. semua akan baik-baik lagi pula, bukankah Arthur sudah memiliki istri? tidak mungkin bukan, jika laki-laki itu akan bertindak bodoh dengan melakukan suatu hal yang dapat mencoreng kembali nama keluarga mereka?"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang begitu sinis.
"hufftt dasar keras kepala!"Ratih tampak menghembuskan nafasnya lelah. karena sepertinya, putranya itu sama sekali tidak bisa diajak untuk berdiskusi. selalu ingin merasa menang sendiri.
"Moza kamu mau ikut nenek ke kamar atau tidak?"tanya Ratih menoleh pada cucunya itu. dan dibalas oleh bocah kecil berusia dua setengah tahun itu, dengan menganggukkan kepalanya.
"urus pernikahanmu sendiri! sepertinya Mama sudah lelah."sebelum benar-benar pergi, Ratih sempat mengatakan hal itu. membuat Fandi seketika menghembuskan nafasnya panjang.
__ADS_1