Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 51


__ADS_3

Setelah melakukan pemberontakan cukup lama dan juga mengganggu, pada akhirnya keluarga dari Wardani memutuskan untuk membiarkan wanita itu menemui Arthur. di saat itulah, Naima langsung memeluk tubuh laki-laki yang bahkan masih berstatus sebagai suami dari seorang Mikaila.


Membuat Mikaila sendiri, seketika langsung memejamkan mata karena tidak kuasa untuk melihat adegan selanjutnya. hatinya terasa sangat hancur bagai tertusuk ribuan jarum secara bersamaan.


Tak lama berselang, wanita yang tengah mengandung itu merasakan pundaknya dirangkul oleh seseorang. hingga membuatnya, seketika menoleh. wanita hamil itu tersenyum saat mendapati sang sepupu tengah berusaha untuk menenangkannya.


"it's okay semua akan baik-baik aja!"bisik laki-laki itu meyakinkan.


Sementara di depan sana, sebuah drama kolosal pernah terjadi. hingga bahkan membuat beberapa orang yang melihat itu, berdecak kesal.


Termasuk juga, keluarga dari Arthur sendiri. terutama, Oma Juwita. wanita renta itu, sudah tidak sabar rasanya untuk memberikan sesuatu hadiah pada wanita yang tidak tahu diri seperti Naima.


Namun mereka masih memiliki tata krama dan juga sopan santun. jangan sampai, hanya karena emosi sesaat, mereka melupakan hal itu. sehingga nantinya, nilai orang-orang sekitar akan sama dengan Naima


Untuk itulah, sebisa mungkin Claudia mencoba untuk menenangkan emosi dari ibu mertuanya. walaupun dia sendiri, hampir saja tersulut emosi itu.


Ternyata di dunia ini, ada seorang wanita yang tidak tahu malu seperti itu. pikir Claudia Saraya bergidik ngeri. apalagi saat wanita paruh baya itu, melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara Naima mencoba untuk menggoda putranya.


Ingin rasanya, Claudia menampar dan mendorong wanita itu ke jurang agar tidak menampakkan diri dan membuat masalah. beberapa kali, wanita paruh baya itu melirik ke arah sang menantu yang tampak ditenangkan oleh keluarga dan juga teman-temannya.


Seketika itu pula, Claudia merasa menyesal karena telah mengikuti saran dari putranya untuk datang ke kediaman Wardani. jika mereka semua tidak datang ke tempat Mikaila berada, mungkin saja semua ini tidak akan pernah terjadi.


Namun apa daya, semuanya telah berubah. nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan seperti semula. yang hanya dapat dilakukan, hanyalah memperbaiki semuanya agar tidak semakin parah.


"sudahlah Naima, lebih baik kau sekarang pergi saja dari sini. aku sudah tidak ingin bertemu denganmu lagi!"ucapnya Seraya mendorong tubuh dari wanita itu agar tetap menjauh darinya.


Namun hal itu sama sekali tidak digubris oleh wanita tidak tahu malu itu. karena dalam keadaan seperti itu, Naima malah mencuri satu kecupan di wajah tampan milik Arthur. tentunya Hal itu membuat semua orang yang melihatnya, seketika merasa histeris dan juga ternodai. tak terkecuali, teman-teman dari Mikaila.

__ADS_1


"ini sih nanti, suami kamu harus mandi kembang 7 rupa agar terbebas dari virus yang baru saja dibawa oleh wanita ular itu."ucap Sarah Seraya menatap jijik ke arah wanita yang ada di hadapan semua orang itu.


"hal ini gue setuju sama lu. Mikaila harus memandikan suaminya dengan kembang 7 rupa. jangan sampai, tertular virus tidak tahu malu dari wanita itu."timpal Adit ikut menatap jijik pemandangan di depan sana.


"rasanya aku ingin memberikan pelajaran pada wanita ular itu!"desis Oma Juwita wanita renta itu sama sekali tidak menyangka bahwa ada seorang wanita lain yang berperilaku seburuk itu.


"sabar bu sabar! aku juga merasa sangat kesal! tapi kita harus mengingat tata krama bertamu di keluarga orang lain. jangan sampai, kita dipandang sebelah mata seperti wanita itu."ucap Claudia mencoba untuk menenangkan Ibu mertuanya.


Sementara pertengkaran di depan sana, masih terus berlanjut. dengan si laki-laki yang menatapnya dengan tatapan tajam. sementara si wanita, menatapnya dengan tatapan penuh damba. sayang sekali, mereka bukanlah sepasang suami istri. karena pemandangan itu benar-benar sangat menawan.


"jangan pernah sentuh aku lagi!" desis Arthur Seraya menepis kuat tangan dari Naima yang hendak kembali menyentuhnya. hingga membuat si pemilik tangan, seketika terhubung ke belakang.


"memangnya kenapa Arthur? bukankah kita saling mencintai? maka dari itu, marilah kita menikah."ucapnya tersenyum penuh dengan kelembutan.


"jangan pernah bermimpi!"ucapnya dengan tatapan yang sangat tajam.


"tutup mulut kotormu itu!"bentak Oma Juwita pada akhirnya. karena wanita sepuh itu, benar-benar sudah muak dengan apa yang terjadi di hadapannya saat ini.


namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Naima. karena yang dibutuhkan oleh wanita itu, hanyalah Arthur Tidak untuk yang lain.


Tanpa diduga-duga oleh siapapun, wanita itu berjalan melangkahkan kakinya mendekati Mikaila. hingga beberapa saat kemudian....


bruuakk


"aaaakkhh!"


"Mikaila!" teriak orang-orang itu secara bersamaan. saat menyadari, tubuh dari wanita yang tengah mengandung itu sudah mendarat dengan mulus di atas tanah berpaving. yang tentunya sangat keras dari tanah biasanya.

__ADS_1


"itu hukumannya, Jika kau berani-beraninya merebut milikku!"desis Naima Seraya beranjak pergi dari sana.


"tangkap wanita gila itu!"teriak Bahrun dan juga Winarto dengan intonasi yang cukup menggelegar.


Dan dengan sekejap, wanita yang tidak waras itu telah berhasil diamankan. namun ada yang aneh dari tatapan mata wanita itu. Naima sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. atau setidaknya, wanita itu merasa takut karena akan segera dimasukkan ke dalam jeruji besi.


Dan hal itu sukses membuat semua orang yang ada di sana, tanpa mengernyit heran. melihat perilaku wanita itu.


"memang benar-benar sudah gila!"umpat Oma Juwita sebelum mereka semua pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi dari Mikaila.


****


"bagaimana keadaan istri saya?"tanya Arthur saat dokter baru saja keluar dari ruang perawatan setelah selesai memeriksa wanita yang tengah mengandung itu.


"Untung saja Nyonya Mikaila terjatuhnya tidak tengkurap. jadi tidak terlalu berbahaya. dan juga kandungannya masih terbilang muda jadi belum terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Namun demikian, posisi dari nyonya Mikaila saat jatuh, cukup mengkhawatirkan. kita akan melakukan pemeriksaan rutin kedepannya apakah ada yang retak dengan tulang ekornya atau tidak. kalau begitu, saya permisi dulu."setelah menjelaskan panjang lebar, Dokter wanita itu segera pergi dari sana.


Meninggalkan orang-orang itu sedikit menghirup udara karena merasa sedikit lega.


"sebaiknya, kalian segera pergi dari sini!"semua orang terkesiap kaget saat mendengar penuturan dari Winarto. yang memang ditunjukkan oleh keluarga Bahrun.


"Pah tolong maafkan saya!"ucap laki-laki itu dengan ekspresi wajah memelas.


Namun hal itu sama sekali tidak digubris oleh laki-laki paruh baya itu."memang sebaiknya, Mikaila terlepas darimu. Karena Wanita itu benar-benar gila!"capnya Seraya menatap lurus ke depan.


"tapi kan, Pa? orang gila itu sudah bisa diamankan."sanggah Arthur mencoba untuk bernegosiasi.


"apakah kamu yakin dia tidak akan bermain-main dengan hukum?"tanya Winarto dengan nada datar.

__ADS_1


Dan hal itu sukses membuat semua orang yang ada di sana, seketika terdiam dengan pikiran masing-masing.


__ADS_2