
Tak lama berselang dari itu, Fandy langsung memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Moza.dan memberikan beberapa pelajaran pada bocah kecil itu agar tidak kembali berulah.
"buka pintunya!"teriak Fandy dengan begitu lantangnya.
Brakkk Braaakk Braaakk
Bahkan tanpa belas kasihan, Fandy menggedor pintu kamar bocah kecil itu. menyuruhnya agar tepat Keluar dari sana sebelum kemarahannya memuncak.
Ceklek
"Pi--"
Ucapan dari mozaik ketika terhenti saat tangan dari gadis kecil itu ditarik dengan sangat kuat oleh laki-laki yang selama ini ia anggap sebagai Ayahnya itu.
__ADS_1
Bruuuuaakk
Seperti orang yang kesetanan, laki-laki yang memiliki tubuh besar itu mendorong tubuh mingil dari Moza hingga Terhempas menatap dinding.
"huuuaaa hmmpp"tangis dari Gadis itu seketika terhenti saat mulut mungilnya dibekap oleh Fandy dan dibawa ke sebuah gudang yang tidak jauh dari tempat itu.
"dengarkan aku baik-baik. sudah aku katakan berulang kali, jangan pernah membuat ulah yang bisa membuat kemarahanku timbul.Kenapa kau tidak mengerti juga tentang ucapanku itu?"tanya laki-laki itu Soraya mencengkeram dagu mungil milik Moza. hingga membuatnya seketika merasa sangat ketakutan luar biasa tubuhnya bahkan menggigil seperti orang yang baru saja terkena hujan.
"Pi.. Pipi Kenapa jahat sama Moza ?"tanya bocah kecil itu dengan tubuh gemetaran yang luar biasa karena menahan rasa takut yang menghinggapi hatinya.
Tentu saja, hal itu sama sekali tidak dimengerti oleh Moza. tapi, sungguh saat ini laki-laki itu sama sekali tidak memperdulikannya.
"sudah tidak usah cengeng lebih baik sekarang kamu segera masuk ke dalam kamarmu dan bersikaplah seperti biasa. dan satu lagi, jangan pernah mengganggu acaraku bersama dengan Mikaila. Apakah kau mengerti gadis kecil ?"tanya laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu Seraya menepuk kepala milik gadis kecil itu beberapa kali.
__ADS_1
Membuat Moza yang mendengarnya, seketika menganggukkan kepalanya dengan cepat.kemudian dengan tubuh bergetar hebat langsung mengalahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar dan menguncinya dengan rapat rapat.
Sementara Fandy, laki-laki itu semakin melebarkan senyumannya saat melihat pemandangan yang begitu mengasikkan di depan matanya.
"Fandy, Kamu ngapain ada di sini ?" tanya Mikaila dengan raut wajah heran.
Fandy yang mendengar penuturan dari istrinya itu, seketika langsung membalikkan tubuh dan membawa wanita itu untuk pergi menjauh tanpa menjawab pertanyaan itu.sementara Mikaila sendiri, gadis cantik itu sempat menoleh ke arah belakang seperti sedang memastikan sesuatu. dan Fandy mengetahui akan hal itu. namun laki-laki itu sama sekali tidak melakukan hal-hal yang membuat Mikaila curiga.
Justru Fandy malah bersikap biasa saja dan bertanya ini itu pada wanita itu untuk mengalihkan perhatiannya.
"Apakah makanan ini adalah buatanmu?" tanya Fandy saat tangannya menyentuh sebuah potongan ayam kecap yang begitu menggiurkan rkan di hadapannya.
Membuat Mikaila yang pada awalnya menatap ke arah kamar milik Moza, seketika langsung menoleh dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"semoga saja kau suka dengan makanan ini."sahutnya dengan senyuman yang begitu manis.
Sebenarnya Mikaila, sangat ingin sekali untuk menemui Moza. karena semenjak Fandi memarahi gadis kecil itu, dia belum sempat melihat kondisinya. apakah masih baik-baik saja atau tidak. dan rencananya, setelah ini Mikaila akan menemuinya.