
Waktu berjalan dengan begitu cepat. tak terasa, kini kandungan milik Mikaila sudah memasuki usia hampir 6 bulan. wanita itu saat ini masih tinggal bersama dengan keluarga Wardani. karena sampai saat ini pun, Winarto tidak pernah mengizinkan putrinya Itu kembali kepada keluarga Stanley.
Karena laki-laki paruh baya itu masih merasa khawatir dengan keselamatan putrinya. apalagi dengan kabar hilangnya Naima dari dalam penjara. tentunya Hal itu membuat laki-laki paruh baya itu, semakin merasa khawatir.
"apa Papa tidak merasa kasihan terhadap Mikaila?"tanya Ruri mencoba untuk membujuk suaminya di suatu sore.
"memangnya kita melakukan apa? sampai harus mengasihani Mikaila?"tanya laki-laki paruh baya itu menatap heran istrinya.
"mungkin fisiknya baik-baik saja. tapi kita tidak tahu batin dari anak itu. apakah dia bahagia bersama dengan kita atau sebaliknya."sahut Ruri masih mencoba untuk membujuk laki-laki itu.
Winarto kini tahu apa yang dimaksud oleh istrinya itu. dengan segera, laki-laki itu menghadap wanitanya dan menatapnya dengan begitu lekat. hingga membuat Ruri sendiri, seketika merasa canggung.
"Mama tahu kan apa yang Papa lakukan ini demi Mikaila? apalagi dengan kabar bahwa wanita gila itu telah bebas dari penjara. apakah Mama tidak merasa khawatir?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah serius.
"Mama juga khawatir Pah. tapi apakah Papa tega melihat putri kita murung seperti itu terus?"tunjuk Ruri pada Mikaila
yang kebetulan tengah berada di bangku taman rumahnya.
"Papa justru akan merasa sangat sedih jika sampai sesuatu terjadi pada Putri kita."balas Winarto dengan menghela nafas panjang.
"keluarga Stanley itu adalah keluarga terpandang sama seperti kita. mereka tidak akan pernah membiarkan Putri kita mendapatkan bahaya. percaya sama Mama Pa."sekuat tenaga, wanita paruh baya itu masih berusaha untuk membuat pendirian dari suaminya itu luntur.
Winarto menghela nafas panjang. dan Sesekali, laki-laki paruh baya itu akan memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut akibat masalah itu.
"baiklah. Papa akan memberikan kesempatan kedua untuk Arthur. tapi jika sesuatu hal kembali terjadi pada putriku, Maka jangan salahkan aku jika aku akan langsung membawanya pergi dan menghilang tanpa jejak."ucapnya penuh dengan pengancaman.
__ADS_1
Ruri yang mendengar itu seketika mengganggu antusias. dan tak lama berselang, wanita paruh baya itu menghampiri Putri mereka yang masih terdiam dengan mengusap perutnya yang mulai buncit dan membesar itu.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?"tanya Ruri Seraya merangkul pundak dari Mikaila.
Membuat wanita yang tengah mengandung itu, seketika menoleh dan tersenyum tipis."kapan Papa akan berubah pikiran dan memperbolehkan aku untuk bersama dengan Mas Arthur?"tanya wanita itu langsung pada intinya.
Ruri yang mendengar itu seketika tersenyum tipis."selamat sayang, Papa benar-benar sudah mengizinkan kamu untuk kembali bersama dengan Arthur. kalian akan kembali bersatu. kamu, akan bersatu dengan suamimu kembali. Mama benar-benar sangat bangga karena memiliki anak begitu pemaaf seperti kamu Sayang. Mama benar-benar enggak."ucapnya tersenyum simpul.
Yap. setelah kejadian dari rumah sakit itu dan juga setelah mendengar penuturan dari Debby, pada akhirnya Mikaila memutuskan untuk sedikit melunturkan egonya. karena memang, wanita itu juga masih menyimpan perasaan yang begitu dalam untuk sang suami.
Apalagi kejadian itu, benar-benar di luar prediksi. karena Arthur melakukan itu, dengan emosi dan juga diliputi amarah.
Padahal Winarto sudah memperingatkan putrinya itu untuk lebih berpikir realistis. mana ada seorang yang telah disakiti sedemikian rupa dan juga terancam keselamatannya, mampu memaafkan kesalahan orang itu? laki-laki paruh baya itu benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh putrinya.
Namun Winarto tidak bisa berbuat apa-apa. karena yang dapat merasakan semua itu hanya Mikaila sendiri. sehingga dirinya tidak ada hak untuk melarang ataupun apapun itu. yang dapat laki-laki paruh baya itu lakukan saat ini, hanyalah membimbing dan mendoakannya saja agar tetap dalam kebahagiaan.
Seketika itu pula ekspresi dari wajah Mikaila berbinar dengan cerah."Mama serius?"tanya wanita yang tengah hamil itu dengan ekspresi wajah tak percaya.
"Mama serius sayang."jawabnya dengan begitu lembut. Sesekali, tangannya akan mengusap perut buncit milik putrinya itu.
Dan dengan segera, itu langsung dikabarkan oleh Arthur. tentunya Hal itu membuat laki-laki itu merasa begitu bahagia. dan tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu segera menjemput kekasih hatinya untuk membawanya pulang ke istana mereka.
"aku benar-benar merindukanmu. maafkan aku. dan terima kasih, atas kesempatan kedua ini."ucap laki-laki itu tak kuasa menahan haru.
"ekhem."
__ADS_1
Deheman keras itu seketika membuat kedua sejoli yang tengah berpelukan itu, seketika menoleh dan mulai tersenyum canggung.
"Makasih Pah sudah memberikan kesempatan kedua untuk Arthur. atur janji, akan membuat Putri Anda bahagia."ucap laki-laki itu bersungguh-sungguh.
"hmm. Jika kamu berani kembali menyakiti putriku, maka aku tidak akan segan-segan memisahkan kalian untuk selamanya."ucap laki-laki itu dengan penuh pengancaman.
"aku janji Pa, aku janji tidak akan pernah menyakiti Putri Papa lagi. jika hal itu sampai terjadi lagi, aku siap mengalami kepahitan yang paling pahit dalam hidupku."terpaksa, laki-laki itu mengatakan janji seperti itu.
Karena dalam hatinya, laki-laki tampan itu akan berusaha keras untuk menjaga dan melindungi Mikaila apapun yang terjadi kedepannya. dan juga, pengamanan di keluarga Stanley sudah diperkuat. mustahil Naima akan kembali mengecoh hidupnya.
Dan lagi, beberapa bulan belakangan ini Wanita itu sudah tidak pernah terlihat atau tersiar kabar keberadaannya. membuat Arthur sedikit merasa lega. laki-laki itu merasakan hatinya sedikit damai.
"Ya sudah kalau begitu kita pamit dulu."ucap Arthur pada kedua orang tua dan juga keluarga besar Wardani. Mereka pun menganjurkan kepala dan mengantarkan Putri keluarga itu untuk mengikuti suaminya.
***
"Mas!"panggil Mikaila. saat ini, mereka telah berada di kediaman Stanley. dan untuk beberapa bulan ke depan, wanita hamil Itu diminta oleh Claudia untuk tinggal di kediaman utama Stanley.
Karena wanita paruh baya itu khawatir dengan keselamatan menantu yang mulai menyita perhatiannya dan juga kasih sayangnya itu.
"iya sayang?" sahut Arthur seraya menghampiri wanita kesayangannya itu. kemudian duduk di samping.
"Ada apa sayang?"tanya laki-laki itu sekali lagi Seraya menatap wanitanya itu dengan penuh damba.
Sementara Mikaila sendiri, wanita yang perutnya semakin lama semakin membesar itu mulai gelisah dalam duduknya.
__ADS_1
"apakah kamu masih mengkhawatirkannya?"tanya Arthur yang akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu.