Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 94


__ADS_3

Sesampainya di tempat yang telah di tuju oleh Ratih, mereka berdua segera menuju ke tempat-tempat yang memang menjual beberapa bahan untuk masakan di rumah.


Sesekali, Moza akan merengek meminta mainan jika gadis kecil berusia 2 tahun itu melihat sesuatu yang menarik di matanya. seperti saat ini, saat mereka melewati sebuah toko yang menjual balon udara kecil, Moza segera merengek pada sang nenek untuk membelikannya.


Dan dengan senang hati Ratih membelikan barang itu untuk cucu kesayangannya. wanita berusia 40 tahun itu, segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang ditunjuk oleh sang cucu kesayangan.


"yeeey Makasih nenek!"seru Moza girang. membuat Ratih yang melihat itu, seketika tersenyum simpul.


selesai membeli mainan dan juga membeli belanjaan yang dibutuhkan pada akhirnya Ratih, Moza, dan juga dua asisten yang memang ditugaskan untuk berbelanja memutuskan untuk mampir di suatu tempat makan yang menjual soto ayam.


"kamu mau makan pakai kerupuk atau tidak?"tanya Ratih pada cucunya itu dan langsung dibalas gilingan kepala oleh gadis kecil itu.


"Moza mau minta permen boleh?"tanya gadis kecil itu dengan raut wajah memelas. karena memang bocah berusia 2 tahun itu sangat menyukai yang namanya permen dan juga coklat. namun sayangnya, Fandy seringkali melarangnya. Dengan mengatakan, terlalu makan banyak coklat tidak baik untuk kesehatan gigi. sehingga pada akhirnya, bocah kecil itu pun menurut saja.


"boleh saja. tapi setelah ini, Moza harus giat belajarnya supaya Pipi nggak marah. Bisa?"tanya wanita paruh baya itu dengan begitu lembut.


Yap begitulah perlakuan dari keluarga Fandy. mereka akan memberikan sesuatu pada Moza asalkan gadis kecil itu bisa melakukan sesuatu hal yang menurut mereka berprestasi.


Bayangkan saja, di usia Moza yang baru menginjak 2 tahun itu, sudah sedikit lancar untuk menulis dan membaca. itu karena, Ratih semenjak Moza berusia 6 bulan, sudah memperkenalkannya dengan berbagai huruf dan juga angka. sehingga pada saat gadis kecil itu sudah bisa berbicara, kata yang terucap selain sebutan untuk kedua orang tuanya, juga huruf dan juga angka. dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga Fandy.


Sungguh keluarga Fandy memang benar-benar memperlakukanmu dengan begitu baiknya Namun kedua orang tuanya tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Putra mereka itu di saat sudah bertemu dengan orang tua dari Moza.


Dan yang jelas, keluarga dari Fandy itu sangat menyayangi bocah kecil di usia 2 tahun yang bernama Moza.


Ratih dan juga yang lain, ketika masuk ke dalam sebuah warung yang berukuran kecil yang memang berjejer di sepanjang perjalanan masuk ke dalam pasar itu.


Sementara itu di depan sana, terlihat Mikaila yang baru saja keluar dari sebuah warung yang menjual soto ayam.

__ADS_1


Mata dari wanita itu sempat melihat sesuatu yang membuatnya tidak familiar. Namun demikian Mikaila segera menepis gelayar aneh yang mulai menghantui hatinya itu. dan tiba-tiba saja...


Brugh


Terdengar suara sesuatu yang terjatuh. hingga tak lama berselang, terdengar suara seseorang yang memanggil nama orang lain yang menurut Mikaila sangat familiar.


"astaga Moza!"


Teriakan dari seorang wanita itu, membuat tubuh Mikaila sedikit bergetar. dan tak lama berselang, wanita itu mulai memberanikan diri untuk melihat siapa orang yang baru saja bertabrakan dengannya itu. karena memang sejak tadi, Mikaila menundukkan kepala karena sibuk untuk menyusun uang receh yang memang berhamburan akibat tabrakan itu.


Degh


Jantung dari mikaila seakan ingin lepas dari tempatnya saat netranya melihat sosok gadis kecil yang beberapa hari ini sangat mengganggu pikirannya.


Sementara Moza sendiri, gadis kecil berusia 2 tahun itu menangis dengan sangat kencang karena merasa tubuhnya sakit akibat terpental cukup jauh. dan tanpa pikir panjang lagi, Mikaila segera berlari menghampiri bocah kecil itu dan langsung memeluknya.


Dan Hal itu membuat semua orang yang ada di sana seketika tersentak kaget. termasuk Ratih dan juga sepupu dan teman-teman Mikaila.


Kenapa Mereka terlihat akrab seperti ini bukankah mereka belum lama saling kenal?


Kenapa Moza begitu dekat dengan wanita ini? kapan mereka bertemu?


Oh astaga kenapa Mikaila mendadak menjadi seperti ini? dia benar-benar berubah!


Itulah pikiran-pikiran yang saat ini tengah berputar-putar dalam kepala mereka semua karena menyaksikan pemandangan yang menurutnya begitu langka itu.


Setelah Ratih tersadar dari lamunan panjangnya, wanita tua itu segera menarik Moza dan membawanya pulang.

__ADS_1


Namun sebelum itu, wanita paruh baya itu sempat menetap ke arah cucunya dan juga wanita yang sempat ingin menjadi menantunya itu beberapa kali. sebelum pada akhirnya, Ratih dan rombongan yang lain segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Mikaila kau tidak apa-apa?"tanya Aditya yang langsung membantu wanita itu untuk berdiri dan memeluknya dengan begitu erat.


Mikaila menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari sepupunya itu."aku tidak apa-apa. apa sebaiknya kita pulang saja? aku merasa kepalaku sedikit pusing."keluh wanita itu, terserah yang menyentuh bagian kepalanya yang terasa berdenyut akibat terlalu memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal.


Kenapa setiap kali bertemu dengan anak kecil itu, tubuh dari Mikaila, mendadak panas dingin? Mikaila sama sekali tidak mengerti akan hal itu.


****


"Arthur Kau mau ke mana?"tanya Claudia saat wanita paruh baya itu melihat putranya tengah bersiap-siap seperti ingin pergi ke suatu tempat.


"aku ingin pergi ke kantor."sahut Arthur dengan cepat.


Claudia yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala."setelah pulang dari kantor, tidak usah mampir ke mana-mana."tutur wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sepertinya ada ketakutan tersendiri dari tatapan Claudia. dan Arthur melihat jelas akan hal itu. membuat laki-laki itu seketika menghela nafas panjang.


"Ibu tenang saja. semua akan baik-baik saja."ucapnya Seraya mengusap bahu milik wanita paruh baya itu. Claudia yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala.


****


"Pipi!" teriakan Moza yang begitu nyaring, membuat laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, menoleh. dan entah dorongan dari mana, laki-laki itu segera tersenyum kecil dan menghampiri bocah yang telah dianggap sebagai putrinya itu.


Sebenarnya Fandy juga merasa sedikit kebingungan dengan perasaannya kepada Moza. niat awal dari laki-laki itu yang ingin merebut Mikaila dengan memberi umpan Moza, ini justru malah membuat laki-laki itu merasa begitu sayang terhadap bocah kecil itu.


Dan sekarang Fandy percaya bahwa rasa sayang dan juga benci itu bedanya sangat begitu tipis sehingga jangan pernah bermain-main dengan dua perasaan itu.

__ADS_1


__ADS_2