Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Partb132


__ADS_3

Saat ini, Arthur tengah berada di ruang kerja yang berada di kediaman milik kedua orang tuanya. sepertinya laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu saat ini tengah sibuk untuk mengerjakan sesuatu hal yang begitu penting.


Tok tok tok


Pekerjaan dan juga atensinya seketika teralihkan saat mendengar suara ketukan pintu dari depan ruangannya.


Tentu saja, hal itu membuat Arthur yang mendengarnya sedikit merasa kesal. dengan gerakan terburu-buru, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu segera berjalan untuk membukakan pintu.


Kedua alisnya tertaut saat mendapati Claudia berada tepat di hadapannya saat ini dengan wajah yang sedikit muram.


"Ibu kenapa?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah penasaran.


Hening....


Suasana di ruangan itu terlihat begitu hening. karena tidak ada jawaban sama sekali dari wanita paruh baya itu. hingga tak lama berselang, Arthur segera membawa Claudia untuk masuk ke dalam ruangan itu dan mendudukkannya di sofa panjang yang ada di sana.


"kenapa Ibu bersedih seperti ini? apakah ibu kembali bertengkar dengan Naomi?"tanya laki-laki itu dengan ada yang begitu khawatir.


Perlahan tapi pasti, Claudia tampak menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Arthur yang melihatnya, sedikit merasa lega. karena sepertinya dugaannya kali ini salah. setidaknya, bukan istri barunya itu yang membuat ibunya menjadi kesal.


Tak lama berselang raut wajah lega itu kembali berubah menjadi raut wajah yang begitu kebingungan. kalau bukan karena Naomi, lalu ibunya itu murung karena apa?


Dengan menggenggam tangan memilik ibunya, Arthur segera mendekati dan mencoba untuk bertanya kenapa sebenarnya dengan wanita paruh baya yang telah berhasil melahirkan yaitu.


" Bu, cerita sama Arthur Ibu sebenarnya kenapa?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah yang semakin khawatir karena melihat raut wajah dari ibunya yang saat ini sudah seperti orang yang menangis. dan tiba-tiba saja,...


"Hiks hiks hiks hiks."

__ADS_1


Suara isakan tangis itu seketika menggema. membuat Arthur sendiri merasa gelagapan dan merasa kebingungan dengan apa yang dialami oleh wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.


"Ibu ini kenapa?"tanya Arthur dengan nada suara yang semakin panik. dan tanpa sadar, laki-laki itu menaikkan nada suaranya hingga seperti membentak.


"Maaf Bu aku tidak sengaja."ucap Arthur Seraya menundukkan kepala setelah menyadari apa yang dia lakukan kepada sang ibu.


"Mikaila akan menikah."


Setelah terdiam dengan cukup lama, pada akhirnya wanita paruh baya itu mengatakan sesuatu. membuat Arthur yang mendengarnya, seketika terdiam.


Tubuh dari laki-laki itu seakan kaku. karena Arthur merasa, dadanya seperti dihimpit oleh batu yang begitu besar. sehingga dia, tidak bisa untuk bernafas. sesekali, laki-laki itu akan menepuk dadanya sendiri untuk mengontrol rasa yang ada di dalam tanah.


"me... menikah dengan siapa?"tanya laki-laki itu dengan nada suara terbata-bata dan juga dengan suara yang hampir tidak terdengar karena terasa tercekat di tenggorokan.


Claudia yang melihat itu sebenarnya merasa tidak tega. karena memang wanita paruh baya itu tahu bagaimana perasaan Arthur pada Mikaila. namun apa boleh buat, wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. karena hubungannya dengan keluarga dari Mikaila benar-benar sudah diujung tanduk dan tidak bisa diperbaiki lagi. kecuali dengan satu hal. yaitu kembalinya sosok bayi mungil yang menjadi penerang di antara mereka semua.


"dengan Fandy."sahut Claudia dengan cepat.


Arthur sama sekali tidak bereaksi mendengar ucapan dari Ibunya. karena laki-laki itu sudah pernah memprediksi jika Mikaila akan menikah dengan Fandy. bahkan sebelumnya, Arthur sempat mengira bahwa mereka sudah menikah beberapa tahun yang lalu.


"kenapa wajahmu biasa saja? apakah kamu sudah mengetahui sebelumnya jika mereka akan menikah?"tanya Claudia dengan raut wajah heran. saat wanita paruh baya itu melihat ekspresi wajah yang biasa saja Dari Sang putra.


Arthur mengusap air matanya yang mengalir dengan gerakan kasar.


"aku sudah bisa menduganya dari awal kalo mereka akan segera menikah. bahkan aku sempat berpikir bahwa mereka sudah menikah karena sudah ada seorang gadis kecil di tengah-tengah mereka."sahut laki-laki itu dengan nada suara yang begitu lirih.


Kedua bola mata dari Claudia seketika membulat sempurna saat mendengar penuturan dari putranya itu.

__ADS_1


"anak kecil? siapa?!"tanya Claudia dengan cepat.


Arthur tampak menggelengkan kepalanya. karena memang laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu tidak mengetahui siapa sosok anak kecil yang sering bersama dengan Mikaila dan juga Fandy itu.


"kenapa kamu tidak bilang kalau mereka sudah memiliki anak?"tanya kau dia menatap ke arah putranya itu dengan raut wajah kesal.


"aku juga baru mengetahuinya beberapa hari ini."sahutnya dengan santai.


Claudia tampak terdiam. wanita paruh baya itu tengah bergulat dengan pikirannya sendiri. apakah Mikaila dan juga Fandy telah memiliki anak sebelumnya dan sekarang ini mereka tengah menikmati momen bahagia itu dengan cara mengundang orang-orang di acara pernikahan mereka? tapi jika benar, kenapa tidak ada media yang meliputnya? bukankah keluarga Wardani adalah keluarga yang begitu berpengaruh di kota itu? pikiran-pikiran itu seketika berputar-putar di dalam otak kecil milik Claudia.


"Ibu kenapa?"tegur Arthur yang mulai merasa khawatir dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh wanita paruh baya itu.


Membuat Claudia yang mendengarnya, seketika tersentak kaget.


"apakah mereka sudah menikah beberapa tahun yang lalu? sekarang ini mereka tengah melakukan pesta untuk menyambut kebahagiaan mereka?"tanya kau dia menatap ke arah sang Putra dengan tatapan penuh selidik.


Arthur tanpa mengedikkan bahunya rendah. menandakan bahwa laki-laki itu tidak mengetahuinya.


"hufftt. Ya sudah kalau begitu Ibu keluar dulu."Claudia tampak menghela nafas panjang. sepertinya wanita paruh baya itu benar-benar merasa sangat pusing sekarang.


****


"bagaimana hasilnya apakah kamu suka?"tanya Sarah dan juga Hana saat sahabat mereka itu baru saja membuka mata dan mendapati wajahnya sudah bersih dan berseri akibat ulah dari mereka berdua.


Mikaila yang melihat itu seketika tersenyum. wanita itu merasa sangat puas dengan pekerjaan yang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu. "ini benar-benar bagus aku suka sekali terima kasih."ucapnya Seraya tersenyum tulus.


Sarah dan juga anak yang mendengarnya, seketika saling pandang satu sama lain. dan tak lama berselang, mereka segera memeluk tubuh dari sahabatnya itu dengan begitu erat.

__ADS_1


"jangan lupa bahagia!"bisik Sarah dan juga Hana secara bergantian. kemudian mereka semua sama-sama tertawa bahagia.


__ADS_2