
Mikaila yang melihat tingkah laku dan juga mendengar penuturan dari laki-laki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu, hanya menatap sekilas ke arah laki-laki itu. kemudian dengan segera, melingkarkan tangannya di lengan kekar milik Fandy. tentunya, membuat laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu tersenyum puas karena dapat melihat kehancuran dari musuh bebuyutannya itu
"kau bisa lihat sendiri, kan? istriku tidak ingin bersentuhan denganmu sekarang."ejeknya Seraya tersenyum sinis. "jadi lebih baik, kau menyingkir dari kehidupan Mikaila."sambungnya Seraya melangkah pergi dari sana.
Karena memang, acaranya sudah selesai. dan keluarga dari Arthur itu adalah tamu terakhir yang karena memang setelah mereka, tidak ada lagi tamu yang mendekat ke arah pelaminan.
Melihat akan hal itu, tanpa terasa urat-urat yang ada di dalam tubuh milik Arthur seketika mencuat karena merasa begitu kesal dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"aaaaarrgghhh!"
__ADS_1
Arthur seketika tersentak kaget.saat tiba-tiba saja, Indra pendengarannya menangkap suara yang sangat familiar.tentu saja hal itu membuatnya seketika langsung menoleh ke arah sumber suara.dan betapa terkejutnya laki-laki itu saat mendapati tersungkur di atas lantai dengan menyentuh perutnya yang begitu sakit.
"Ibu, kenapa? " tanya laki-laki itu dengan nada suara yang begitu panik. karena melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Dengan tanpa pikir panjang lagi laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, segera membawa sang ibu untuk pergi ke rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, Arthur benar-benar sangat khawatir. apalagi, saat melihat ekspresi wajah dari ibunya itu yang begitu pucat dan juga menyedihkan.
Beruntungnya, rumah itu dalam keadaan sepi sehingga Arthur dan juga keluarganya tidak menjadi pusat perhatian. paling hanya keluarga dari Mikaila dan juga keluarga dari Fandy yang masih setia berada di dalam bangunan itu.
"Kenapa dengan ibunya Mas Arthur ?"tanya Mikaila membatin dalam hatinya sendiri. karena memang, wanita itu tidak berani untuk berkata terus terang. karena memang, di sana ada orang-orang yang mengenalnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa tampak tegang ?Apakah kamu memikirkan keluarga dari mantanmu itu ?"tuding Fandy langsung to the point.
Mikaila seketika mendelik ke arah laki-laki itu.bisa-bisanya laki-laki itu langsung menebaknya seperti itu padahal pikirannya itu bukan mengarah pada Arthur melainkan pada ibu mertuanya. ya. Sampai kapanpun juga, Mikaila masih tetap menganggap bahwa wanita paruh baya itu, adalah ibu mertua walaupun mereka,sudah tidak menjalin hubungan sebagai suami istri atau bahkan sekarang sudah hampir bermusuhan.
"bukan seperti itu Aku hanya kelelahan saja.Bukankah sebaiknya kita istirahat saja ?"tanya wanita itu dan langsung berdiri di samping Fandy kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar pengantin yang memang telah dipersiapkan oleh para keluarga-keluarga itu.
'aku tahu kau masih memikirkan laki-laki itu. dan aku, sama sekali tidak ingin kau kembali kepadanya. karena sampai kapanpun juga, kau masih menjadi milikku dan itu berlaku untuk selamanya.'batin laki-laki itu Seraya menatap tajam ke arah punggung dari Mikaila yang semakin lama semakin menjauh itu.
"Kenapa kau tidak istirahat sekalian ?"tanya Ruri menatap ke arah menantu barunya itu
__ADS_1