
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di keluarga kediaman Stanley, terlihat seorang wanita yang tengah marah-marah pada orang-orang yang ada di sana. bahkan sesekali, wanita itu akan mengumpat dan menyumpah serapahi wanita yang membuat wajahnya lebam-lebam seperti ini.
"itu semua juga karena kamu Naima. kalau saja kamu tidak menampar dia terlebih dahulu, dia juga tidak akan menamparmu." Karena sudah merasa jengah, pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk angkat bicara.
Membuat wanita itu, seketika merasa begitu kesal. dengan tatapan yang begitu tajam, Naima menatap ke arah Arthur.
"kenapa kamu membelanya seperti ini? apakah kamu masih menyukainya?"pertanyaan tidak penting itu seketika meluncur bebas dari dalam mulut Naima.
Arthur yang mendengar itu seketika memutar bola mata malas. karena memang, pertanyaan dari wanita itu sebenarnya tidak terlalu penting.
"bukan seperti itu!" ucapnya mencoba untuk sedikit mengalah.
"tapi apakah kamu tidak sadar kamu yang memulai semuanya? kamu yang tiba-tiba datang dan langsung menamparnya."ucap laki-laki itu menatap tajam dan juga datar secara bersamaan pada wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Membuat Naima yang mendengar itu seketika terdiam. dan tak lama berselang, seketika menghembuskan nafasnya kasar.
"sudahlah lebih baik aku pulang saja."dengan menyambar tas jinjingnya dengan terburu-buru, wanita itu melangkah menjauh.
Namun tak lama berselang, wanita itu menghentikan langkahnya. dan menoleh ke arah Arthur juga kedua orang tuanya yang masih berdiri di tempatnya masing-masing.
"aku mau, acara pernikahan kita dipercepat dan aku tidak ingin ada bantahan."sambung wanita itu Seraya berlalu pergi dari sana.
Arthur yang mendengar itu seketika terdiam. dan beberapa detik setelahnya, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu langsung terduduk lemas di atas sofa.
Kedua tangan besarnya, segera mengusap kasar wajah tampannya itu dengan raut yang begitu frustasi. sementara Claudia dan juga Bahrun yang mendengar itu, hanya dapat terdiam. karena memang, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
****
__ADS_1
Sementara itu kediaman keluarga Mikaila, tampak sekali suasana hangat di sana. tambah lagi dengan kehadiran nenek dan kedua sahabatnya.
Karena memang setelah mendapat bujuk rayu dari Mikaila, pada akhirnya Hana dan juga Sarah tidak diperbolehkan untuk pulang untuk malam ini. dan jika mereka membantah, maka mereka tidak boleh pergi dari tempat kerja yang lama. ditambah lagi, Mikaila akan memutuskan persahabatan mereka melalui bertahun-tahun itu.
Tentunya, Hana dan juga Sarah tidak ingin hal itu terjadi. karena kedua wanita itu, udah sangat menyayangi Mikaila seperti saudaranya sendiri atau bahkan mungkin lebih dari itu. sehingga keduanya, tidak ingin hal itu sampai terjadi.
Sementara Aditya sendiri, memutuskan untuk langsung pulang setelah mendapatkan permusuhan dari sepupunya itu. bahkan laki-laki itu langsung ditolak saat mengatakan ingin menginap menemani sang nenek.
Menyebalkan memang. padahal niat dari laki-laki itu hanya ingin melindungi adik sepupunya dari rayuan-rayuan maut para laki-laki. Namun, kenapa malah menjadi seperti ini. sungguh Aditya sama sekali tidak mengerti akan hal itu.
Kembali lagi pada Mikaila dan yang lain. saat ini orang-orang yang ada di kediaman keluarga Wardani, tengah berbincang-bincang dengan hangat. dan sesekali, mereka akan tertawa saat mendengar sesuatu yang lucu keluar dari mulut salah satunya.
"Mikaila kenapa kamu bersikap seperti itu pada Aditya?"di saat suasana tengah hangat-hangatnya, Ruri melontarkan pertanyaan yang seperti itu.
Pertanyaan yang tidak hanya membuat Mikaila terdiam. namun juga orang-orang yang ada di sana juga ikut terdiam.
Ruri seketika menggelengkan kepalanya. karena sepertinya, mikayla sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja hatinya. Hal itu membuat semua orang memilih untuk terdiam saja daripada menambah masalah yang akan menambah runyam semuanya.
"Ya sudah lebih baik kamu istirahat saja."nenek Kamila mencoba untuk menenangkan cucunya itu. dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Mikaila.
Setelah kepergian dari Mikaila dan kedua sahabatnya itu, suasana di ruang tengah terdengar begitu hening untuk beberapa saat kemudian.
"apa mungkin Mikaila sudah menyukai Fandy?"tanya Winarto secara tiba-tiba. membuat dua wanita berbeda generasi itu, kompak menoleh ke arah laki-laki itu dengan alis terangkat satu.
"maksud Papa bagaimana?"tanya Ruri dengan raut wajah tidak mengerti.
Winarto yang mendengar itu seketika menghela nafas panjang."kalau dari gerak-gerik yang Papa temui pada anak kita itu, sepertinya Putri kita itu sedang jatuh cinta pada Fandy."jelas Winarto.
__ADS_1
Ruri yang mendengar itu pun, hanya dapat terdiam cukup lama. karena memang wanita itu, tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"kalau memang itu yang terjadi, kenapa tidak sebaiknya diperjelas saja?"Tanya nenek Kamila memberikan solusi.
"maksud ibu bagaimana?"tanya mereka berdua hampir bersamaan.
Nenek Kamila tampak menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelahnya, mengeluarkannya beberapa kali."jujur saja Ibu juga merasakan hal itu. karena memang orang yang sedang jatuh cinta itu, sangat terlihat sekali." jelas Nenek Kamila.
Membuat Winarto dan juga Ruri yang mendengar itu, seketika terdiam dengan pikiran masing-masing.
Apakah mereka harus menyetujui hubungan anaknya untuk yang kedua kalinya? bukan apa-apa hanya saja, Mereka takut pilihan Mikaila saat ini juga merupakan pilihan yang salah. dan kedua manusia paruh baya itu, tidak ingin hal itu sampai terjadi lagi.
****
"bagaimana perkembanganmu dengan wanita itu?"tanya Ratih pada putranya yang baru saja kembali dari rumah Mikaila.
Fandy yang mendengar itu, seketika tersenyum kecil. "semua baik-baik saja Mama tidak usah khawatir."ucapnya Seraya kembali meminum minuman yang ada di hadapannya saat ini.
Ratih tampak membuang muka ke arah lain. dan tak lama berselang, wanita pengaruh gaya itu segera membuang nafasnya kasar.
"apakah kamu yakin dengan pilihanmu itu?"tiba-tiba saja Ratih bertanya seperti itu.
Membuat salah satu alis dari Fandy terangkat ke atas. "kenapa memangnya Mama masih tidak tersetuju dengan pilihanku ini?" tanya Fandy dengan raut wajah tidak suka.
Buru-buru, Ratih pun menggelengkan kepalanya."tidak Mama percaya dan Mama setuju akan pilihanmu. hanya saja,..."wanita paruh baya itu, tidak bisa untuk melanjutkan kata-katanya. karena takut, akan menyinggung perasaan dari Putra tunggalnya itu.
"sudah lah Ma, yang menjalani semua ini adalah aku. Mama dan juga Papa, cukup mendoakanku saja agar semuanya baik-baik saja."sambung laki-laki itu dengan raut wajah datar dan juga nada suara yang sangat dingin.
__ADS_1
Karena laki-laki itu tahu apa yang akan dikatakan oleh sang ibu.