Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM Bab 108


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian,....


Perlahan-lahan kondisi dari Mikaila semakin lama semakin membaik. apalagi, wanita cantik itu sering dikunjungi oleh Moza dan juga Fandy yang ingin sekedar menemuinya karena merindukan sosok wanita itu.


"apakah Tante masih sakit?"tanya Moza dengan raut wajah cemasnya yang terlihat Malah semakin menggemaskan di mata Mikaila.


Dengan gemas, Mikaila mencubit pipi gembul dari gadis cantik itu. membuatnya, seketika meringis karena memang terlalu kencang cubitannya.


"mau Tante masakin atau tidak?"tanya wanita itu menatap ke arah Moza dengan senyuman mengembang.


Gadis kecil itu tampak terdiam untuk beberapa saat kemudian. dan setelahnya, menoleh ke arah Fandy mencoba untuk meminta pendapat.


"nggak usah tante. aku udah makan kok."ucapnya tersenyum simpul.


Namun Mikaila mengerti apa yang dimaksud oleh gadis kecil itu. dengan sebal, wanita itu menatap ke arah Fandy dengan tatapan yang begitu garang dan juga tajam. membuatnya seketika menghela nafas.


"aku nggak mau ngerepotin, Mikaila. lagi pula, kita sudah makan tadi di rumah."balas laki-laki itu dengan ekspresi wajah cerianya.


Mikaila seketika menggelengkan kepalanya."nggak! pokoknya, aku mau membuatkan makanan untuk Moza."putus wanita itu. langsung beranjak dari tempat duduknya melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah.


Karena memang mereka bertiga saat ini tengah berada di teras rumah milik keluarga Wardani.


Melihat hal itu, membuat Fandy seketika menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang begitu merekah.


"sepertinya cara ini memang sangat sangat jitu."gumamnya dengan nada suara yang begitu pelan.


Tak berselang lama, dua buah mobil berhenti tepat di depan mereka. dan tak lama berselang, semua manusia yang berada dalam kendaraan itu keluar satu persatu.


"eh Fandy, Moza, kalian sudah lama di sini?"tanya Ruri dengan nada suara yang begitu antusias. dan tak lama berselang, laki-laki itu pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"di mana Mikaila? kenapa kalian ditinggal sendiri?"tanya Winarto Seraya menatap ke sekeliling ruangan itu dan mencari keberadaan putrinya.


"Dia sedang ada di dalam, Om. katanya mau membuatkan sesuatu untuk Moza."jawabnya dengan senyuman.


Membuat Aditya yang mendengar itu, seketika menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Halah ini pasti gara-gara modus lo aja, kan?"cibir laki-laki itu dengan nada suaranya itu sengak . hal itu, langsung dibalas oleh cubitan maut dari Ruri. membuat Aditya sendiri, seketika mendengus kesal. dengan segera, masuk ke dalam rumah dengan sesekali mengumpat pelan.


Memang sejak dulu, laki-laki yang merupakan sepupu dari Mikaila itu, sudah sama sekali tidak menyukai laki-laki yang bernama Fandy. entah apa penyebabnya. yang jelas, laki-laki itu sama sekali tidak menyukai orang yang saat ini tengah berbincang-bincang dengan kedua orang tua Mikaila itu.


"dasar sok cari muka."setelah mengatakan hal itu, Aditya segera pergi dan masuk ke dalam rumah kediaman keluarga Wardani.


Sesampainya di dalam, laki-laki Itu tampak memelankan langkahnya. saat kedua matanya, tidak sengaja melihat sang adik sepupu yang tengah asik membuat makanan.


Karena memang ruang tamu dan juga ruangan dapur, memiliki jalan searah. sehingga membuat laki-laki itu dapat melihat kegiatan dari sepupunya itu dengan leluasa.


"apa yang kamu lakukan?"tanya Aditya di balik punggung Mikaila. membuat wanita itu seketika melompat kecil. karena, merasa terkejut dengan apa yang ada di belakangnya itu.


"apa sih kamu ngagetin aja?"omel Mikaila Seraya menatap tajam ke arah laki-laki yang merupakan Kakak sepupunya itu.


"ck, kamu ngapain?"seolah tidak menggubris pertanyaan dan omelan dari wanita itu, Aditya kembali bertanya.


"kamu nggak lihat ini lagi apa?"tanya wanita itu dengan sinis.


"masih aja baik sama orang yang telah berusaha untuk menyakitimu." ucap Aditya menyindir.


"memangnya, kamu akan terus membenci orang yang menyakitimu begitu maksudmu?"tanya wanita itu Seraya melotot ke arah Aditya.


Membuat laki-laki itu seketika menganggukkan kepala dengan mantap."kalau aku yang ada di posisi kamu, aku nggak akan pernah memaafkan laki-laki yang hampir saja merusak masa depanku dulu."ucapnya membuang muka.

__ADS_1


Mikaila seketika menghela nafas panjang. kemudian dengan segera menarik tangan dari sepupunya itu untuk ikut duduk di sampingnya. karena memang, saat ini wanita itu tengah menyusun makanan-makanan itu di nampan.


"dengerin aku ya Aditya, nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini. semuanya pernah melakukan kesalahan. termasuk juga Fandy. lalu kalau dia ingin kembali dan meminta maaf dengan tulus, memangnya aku salah untuk memaafkan dan menerimanya?"tanya wanita itu dengan tatapan mata yang begitu tulus.


Aditya seketika terdiam."termasuk juga Arthur?'tanya laki-laki itu dengan hati-hati.


Sontak saja, Mikaila membuang muka ke arah lain. karena memang hati dari wanita itu saat ini masih belum menentu. rasanya masih ada kesakitan di dalam sana saat mengingat kejadian ataupun nama dari laki-laki itu.


"entahlah aku juga tidak tahu."sahutnya dengan lirih. dan dengan segera, wanita itu bangkit dari tempat duduknya untuk segera mengantarkan makanan itu pada Fandy dan juga Moza.


Aditya seketika tercemung di tempatnya. ada perasaan bersalah yang menyeruak dari dalam diri laki-laki itu. dan tak lama berselang, Aditya segera menghampiri Mikaila dan memeluknya dengan sangat erat.


"tolong maafkan aku jangan pernah memikirkan hal yang aku katakan itu. anggap saja, aku tidak pernah mengatakan apapun padamu."ucapnya dengan lembut Seraya memberikan satu kali kecupan di kepala wanita itu.


Seketika itu pula, tangis dari wanita itu pun pecah. membuat Aditya seketika terkejut luar biasa. Namun demikian, laki-laki itu tetap mendekat tubuh dari adik sepupunya itu dengan begitu erat.


Setelah beberapa saat menangis dengan kencang, pada akhirnya wanita itu pun sudah merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Mau dibantu apa, hmm?"tanya Aditya Seraya masih memeluk tubuh dari adik sepupunya itu dengan erat.


"boleh bawain ini keluar? aku masih mau ambil yang lain di dapur."katanya Seraya menunjuk ke arah nampan yang telah tersusun rapi itu.


"emang kamu masak banyak?"tanya Aditya.


Mikaila hanya menganggukkan kepala. kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju ke area dapur dan mengambil apa yang masih tersisa di sana.


Setelah semuanya siap, pada akhirnya Mikaila dan juga Aditya berjalan secara beriringan untuk menghampiri keluarga dan juga Fandy yang masih berbincang-bincang dengan hangat itu.


"makanannya sudah siap!"seru wanita itu dengan wajah sumringah

__ADS_1


__ADS_2